Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
66


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Herman membukakan pintu mobil untuk Rudi,Menutup kembali pintu mobil,dan mengikuti langkah tuannya dari belakang.


Pria berbadan atletis berjalan tegap,kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung sempurna.


Setiap wanita yang berpapasan dengannya tidak ingin melewatkan pandangan matanya dengan mahluk sempurna ciptaan Tuhan.


Bisik bisik pun terjadi pada para pengunjung rumah sakit.


"Uh tampan sekali orang itu,andaikan dia itu kekasihku..."


"Hus! jangan sembarangan kamu,berkhayal upik abu jadi permaisuri"


"apa salahnya cuma berandai andai,"


Rudi menghentikan langkahnya,Herman hampir saja menabrak tuannya yang seperti mobil mengerem mendadak.


"Maafkan saya tuan " Herman menunduk.


Rudi menggerakkan jarinya,memberi perintah Herman mendekat padanya.


"Ada apa Tuan, apa ada sesuatu yang merusak suasana tuan ?" Herman berhati hati.


"Panggilkan mereka yang berbisik tadi " Titah Rudi


"Baik tuan!"


"Nona bertiga,kalian di panggil tuan muda," Ucap Herman,wajah mereka yang berbisik menjadi beragam rupa,ada yang pucat ketakutan,ada yang kegirangan,ada juga yang keheranan.


"Bagaimana ini,kamu sih La,yang ngomong sembarangan,kamu tu tidak tahu dia siapa," salah seorang pengunjung menyalahkan temannya.


"Jangan mengulur waktu nona nona,tuan tidak suka orang yang mengulur waktu," Herman berkata lagi.


Wanita yang kegirangan dengan cepat melenggang ke arah Rudi,sementara dua orang lagi saling dorong satu sama lain.


"Tuan memanggil kami?" tanya seorang wanita bernama Lala kegirangan.


"Hemm," Rudi singkat.


"Senang sekali bisa berbicara langsung dengan tuan" Lala sumringah.


"Mana temanmu yang lain," Rudi datar.


Lala menggerakkan tangannya memanggil kedua temannya yang masih ketakutan,


"Cepetan sini,tuan orangnya baik kok," Ucap Lala


"Hm,kamu yakin aku orang baik ?" Rudi memiringkan wajahnya menatap Lala.


"Tentu saja tuan orang baik" sangat yakin.


"Bagus aku suka jawabanmu sangat yakin,Her,bawa dia bersama kita,yang tidak yakin suruh mereka menyingkir" Rudi melangkah tegap menuju ruangan Siska.


"Mari Nona," Herman mempersilahkan Lala mengikuti Rudi,


"Ngapain sih,jahil banget jadi orang" Lala kesal tangannya di tarik oleh Herman.


"Mohon jaga sikap anda Nona," Herma masih memegang tangan Lala supaya tidak berjalan seiring dengan Rudi.


"Biarkan saja dia bertingkah sesuka hatinya Her," Ucap Rudi sambil berjalan


Lala menarik tangannya dengan kasar,berjalan di belakang Rudi.

__ADS_1


Mendekati pintu ruangan Siska,Herman sedikit berlari mendahului Rudi dan Lala,Membukakan Pintu untuk Rudi.


Klik! pintu terbuka,terlihat siska sedang di periksa oleh seorang perawat.


"Bagaimana keadaannya Sus,?"Tanya Rudi.


"Keadaannya sudah mulai membaik tuan,tinggal masa pemulihan,kami juga sudah memeriksa secara keseluruhan,termasuk psikologisnya,Jika ingin lebih jelas,Tuan bisa temui langsung Dokter yang menangani Ibu Siska,permisi Tuan,saya mau melanjutkan tugas saya " Perawat meniggalkan ruangan siska,dan menutup kembali pintunya.


"Kenapa kamu ke sini, Bukankah ini semua rencana mu?" Tatapan Siska tajam,melihat seorang wanita yang tidak di kenalnya menambah ketidaksukaannya.


"Aku ke sini hanya membawakan seorang teman cerita untukmu,sekaligus orang yang akan mengatur semua keperluan mu"


"Kamu mau bekerja denganku? sekarang kamu merawat dia di sini,berikan nomor rekening mu,Herman akan mengurus semuanya" Rudi melanjutkan ucapannya


"Tapi tuan," Lala takut melanjutkan kata katanya melihat tatapan tidak suka di bantah dari Rudi.


"Kamu tidak yakin kalau aku orang baik?" Rudi mendekatkan kan wajahnya.


"B-baik tuan,saya yakin tuan orang baik,saya akan mengurus nyonya ini dengan baik" Lala sedikit gemetar,dan memberikan nomor rekeningnya pada Herman.


Huh,siapa nyonya ini,aku kira aku akan di bawa tuan ini hanya menjenguk keluarganya,dan aku di perkenalkan nantinya,


Herman tersenyum dalam hatinya melihat perubahan wajah Lala.


Khayalan mu terlalu tinggi nona,hingga kamu merasa sakit baru di awalnya, hm,semoga kamu betah nona.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri " Siska ketus.


"Benarkah ?" Rudi membiarkan Siska yang meraih botol minuman di atas nakas,Lala ingin membantunya di cegah oleh Rudi.


"Nyonya" Herman dengan sigap menangkap tubuh siska yang hampir terjatuh dari ranjang rumah sakit.


Herman membantu Siska mengatur posisi setengah berbaring,di ambilnya botol minuman dan di berikan pada Siska.


"Herman,kamu tidak perlu repot repot mengurus wanita ini,serahkan padanya" mata Rudi menunjuk pada Lala.


Herman mundur,menatap Siska perlahan ada debaran aneh yang di rasakan Herman di saat matanya bertemu dengan mata Siska.


Herman menunduk,tidak berani berlama lama menatap Siska yang statusnya masih di gantung oleh Rudi.


Rasa apa ini,jangan gila,sudah di pastikan aku cepat di kirim tuan muda ke neraka jika dia tau rasa yang aku miliki pada Nona Siska.


Rudi melihat Siska yang menatap teduh ke arah Herman,senyum picik kecil di sudut bibirnya.


Jangan harap kamu bisa menjebak Herman Siska,sampai kapanpun statusmu tetap ku gantung,sampai aku bisa mendapatkan hati Dahlia,baru aku akan melepas statusmu


"Her,aku mau pulang," Herman bergegas membukakan pintu.


Sebelum keluar Herman membalikkan badannya pada Lala,


"Urus dia dengan baik dan benar,jika ada yang perlu di tanyakan ini kartu nama saya" memberikan sebuah kartu pada Lala,menatap pelan pada Siska lalu menganggukkan kepalanya.


Bisa lembut juga monster satu ini .Lala


Kenapa aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan dengan tatapan Herman,rasa ini tidak pernah aku dapatkan bersama Adam atau pun Rudi.


Batin Siska.


"Nyonya,apa anda sudah minum obat?" Lala sekedar basa basi,


"Belum" Siska singkat,

__ADS_1


Lala mengambilkan obat yang ada di nakas memberikan pada Siska.Lala juga memberikan botol minuman untuk Siska.


"Apakah nyonya ingin tidur? " tanya Lala lagi.


Siska hanya menggeleng,dia memperhatikan Lala dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Dia gadis yang cantik,sepertinya dia seorang mahasiswi.


Batin Siska.


"Siapa namamu,?" Tanya siska


"Nama saya Nirmala Nyonya,biasa saya di panggil Lala" Jawab Lala.


"Berapa usiamu Lala" tanya Siska lagi


"Dua puluh satu tahun nyonya,saya ke sini sedang menjenguk salah seorang teman kami yang terjatuh dari motor kemarin" Jelas Lala.


"Kamu kuliah?"


"iya nyonya,saya kuliah di mengambil jurusan perhotelan,sekarang saya sedang magang di hotel Pak Anggra "


Banyak sekali pertanyaan nyonya ini,apa dia istri si tampan tadi ya,tapi kenapa tuan tampan bersifat dingin sekali dengannya,malah si monster menyebalkan yang bersikap hangat...


Lala masih berkutat dengan berbagai pertanyaan di otaknya,


"Kamu pasti bertanya siapa saya,siapa mereka " Siska menebak isi kepala Lala.


Gila,apa nyonya ini paranormal ya,bisa tahu isi kepalaku,jangan jangan dia juga tahu isi dompetku sudah menipis hehe...terima kasih nyonya anda sudah memberi saya pekerjaan mendadak


"Iya nyonya,karna saya bertemu dengan tuan tuan yang menyebalkan baru tadi di koridor rumah sakit " Lala menyembunyikan senyum malu.


Siska terperangah mendengarkan penuturan Lala,dirinya tidak pernah mengatakan Herman menyebalkan,apalagi Rudi.


"Hm,kamu tahu siapa mereka?"


"Kalau saya tahu pasti saya tidak bertanya tanya dalam hati seperti yang sudah nyonya baca sendiri" Lala bicara asal.


"Hari ini kamu tidak magang," Siska datar


"Saya hari ini ship malam nyonya" Lala jujur.


"Pulanglah,persiapkan dirimu bertemu dengan tuan tuan yang sudah kamu katakan menyebalkan,"


"Siapa yang akan menunggu nyonya?" Lala tiba tiba khawatir dengan Siska.


"Katakan pada tuan mu kalau kamu punya tugas kuliah dan magang di ship malam" Ujar Siska.


"Baik nyonya," Lala menganggukkan kepalanya,setelah meyakinkan Siska baik baik saja Lala melenggang meninggalkan Siska sendiri.




**Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,



Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat


__ADS_1


Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊**


__ADS_2