
Keesokan paginya, Nia bangun lebih dulu, bibirnya melengkung membentuk senyuman saat melihat Arka masih terlelap di sofa. Dia hendak turun dari atas brankar dengan perlahan, tapi saat dia baru menurunkan satu kakinya.
Tanpa Nia sadari, tiba-tiba saja Arka mengulurkan tangannya pada Nia.
Nia mendongak sambil tersenyum pada Arka, kemudian dia menerima uluran tangan Arka.
"Mau ke mana?" tanya Arka.
Sebenarnya Arka sangat enggan seperti ini, tapi saat melihat Nia yang kesulitan turun dari brankar, dan meringis nyeri sambil memegangi Arka, membuatnya tidak tega untuk berpura-pura tidak melihat.
"Aku mau ke kamar mandi," jawab Nia, dan Arka mengangguk.
Lalu dengan wajah datar dan cueknya Arka membantu Nia untuk ke kamar mandi, Nia yang diperhatikan seperti ini oleh Arka hanya bisa tersenyum bahagia.
Nia berharap jika ini hanyalah mimpi maka dia tidak ingin terbangun dari tidurnya. Namun, jika ini nyata Nia berharap hal seperti ini akan abadi.
"Masuklah! aku tunggu di luar," ucap Arka sambil membalikkan tubuhnya memunggungi Nia. Nia mengangguk dan dengan tertatih dia masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berselang lama Nia pun sudah membuka pintu kamar mandi tersebut, Arka pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap Nia. "Udah?" tanya Arka.
Nia mengangguk, saat Arka ingin mengantar Nia kembali ke ranjangnya, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka, kemudian Yumna dan Nayla masuk ke dalam.
Mereka berdua terlihat sangat bahagia melihat Arka yang tengah membantu Nia itu.
__ADS_1
"Oh, jadi kalau nggak ada orang kamu seperhatian ini sama Nia Bang?" goda Yumna.
Arka menoleh pada Nia, dan langsung melepaskan tangannya dari Nia.
"Abang, mau keluar dulu." Arka berjalan keluar meninggalkan Yumna dan Nayla yang masih terkekeh melihat kelakuannya.
"Apa dia menjaga kamu dengan baik sayang?" Kini Yumna bertanya pada Nia sambil membantunya menaiki brankar.
Nia hanya tersenyum malu tanpa menjawab apa pun. "Syukur deh, berarti dia mulai bisa menerima semua ini," ujar Yumna.
****
Sementara itu di tempat lain.
Ayarra tengah sibuk menyirami tanaman kesayangannya yang ada di halaman rumah, sedangkan Doni, yang sudah mengetahui soal kandasnya hubungan Arka dan Ayarra dari Dimas. Kekasih Alexa, mendatangi kediaman Ayarra. Dia ingin lihat kondisi orang yang dia cintai itu.
"Aku cuma mau tanya, kenapa kamu udah beberapa hari ini nggak masuk sekolah?" bohong Doni, padahal dia sudah tau apa yang tengah Ayarra rasakan.
Bahkan terlihat kesedihan yang mendalam dari mata Ayarra, dan mata itu juga terlihat sembab.
"Oh, kemaren aku nggak enak badan, eh iya kamu nggak sekolah?" jawab sekaligus tanya Ayarra.
"Eeemmm ... Aku lagi bolos." Lagi-lagi dini kembali berbohong.
__ADS_1
"Oh, yaudah sini masuk dulu!" ajak Ayarra, Doni pun tersenyum lalu mengikuti Ayarra masuk dan duduk di taman depan rumah.
"Mau minum apa Don?" Ayarra bertanya dan hendak melangkah masuk ke dalam.
Dia berniat ingin membuatkan minuman untuk Doni, tapi Doni menahan lengannya. "Jangan repot-repot Ay, aku cuma mau ngobrol sama kamu, sini duduk," tolak Doni.
"Kamu mau ngobrol apa sih Don? penting bangetkah? sampai-sampai kamu ke sini?" Ayarra bertanya seraya menatap Doni bingung.
"Apa benar kalau kamu putus sama kakaknya Alexa?" tanya Doni, dan seketika wajah cantik Ayarra berubah menjadi sendu dan datar.
Ayarra pun langsung memalingkan wajahnya menghadap lain, dan dengan cepat menghapus air matanya yang hampir saja keluar.
"Nggak usah ditutupi Ay, aku kan sahabat kamu juga, kamu bisa berbagi kesedihan sama aku, karena aku yakin kamu pasti sakit banget," ujar Doni sambil menggenggam tangan Ayarra.
Ayarra pun menangis sambil menundukkan kepalanya. Dia kembali merasakan sakit di dada, tapi saat dia teringat jika esok dia akan pergi. Buru-buru dia menghapus air matanya.
"Kamu nggak kenapa-kenapa Ay?" tanya Doni dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Iya, aku nggak apa-apa kok. Mungkin memang Arka, bukan jodoh aku," jawab Ayarra.
"Ay, aku ke sini sebenarnya pingin ngomong sama kamu, kalau jangan pernah kamu ngerasa sendiri, karena aku akan selalu ada untuk kamu," tutur Doni membuat Ayarra menoleh padanya.
"Aku cuma nggak mau kamu ngerasa sedih dan ngerasa sendiri, kamu inget kan Ay, kalau aku pernah bilang ke kamu. Kalau sampe dia nyakitin kamu, maka kamu harus cerita sama aku," sambung Doni.
__ADS_1
Ayarra yang merasa terharu spontan langsung memeluk Doni. "Makasih ya Don," ucap Ayarra.
BERSAMBUNG...