Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 136


__ADS_3

Sudah satu jam lamanya Angel diperiksa, tapi belum ada satu perawat pun yang keluar untuk memberitahukan kondisi Angel, dan itu membuat Bayu sangat khawatir.


Bayu duduk bersandar pada dinding dengan mata terpejam. Dia merasa separuh jiwanya pergi, entah karena apa. Rasa itu sama seperti saat melihat Yumna kembali bersanding dengan David.


"Dav," panggil Adit yang baru saja tiba di rumah sakit.


"Dit, bagaimana orang-orang yang ada di sana?" tanya David.


"Tenang aja, mereka cuma babak belur dan pingsan aja. Dan mereka semua udah gua bawa ke sini, dibantu yang lain juga," jawab Adit dan David pun mengangguk.


"Hubungi anggota keluarga mereka dan tanggung biaya pengobatan mereka sampai sembuh," perintah David.


"Apa lu nggak bakal laporin mereka ke polisi?" tanya Adit.


"Dalang dari semua ini Angel, kalau sampe mereka ditangkap. Berarti Angel, juga akan kena, dan gua nggak mau itu terjadi," jawab David.


Bayu yang mendengar itu menoleh pada David sekilas, lalu dia kembali merenung.


****


Sementara itu di kediaman rumah Indra, Ajeng dan Panji yang kebetulan ada di sana terlihat terkejut saat mendengar Angel masuk rumah sakit.


"Bagaimana bisa Angel, bersama mereka Mas?" tanya Ajeng pada Indra.


"Aku nggak tau Jeng, tadi hanya itu yang dikatakan Yumna, dia belum menjelaskan apa pun soal kenapa mereka bisa bersama Angel," jawab Indra.


"Pasti ada yang nggak beres." Panji bergumam.


"Yaudah, ayok kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Indra.


"Mbak Mala!" Indra memanggil Mala dan tak berselang lama Mala pun turun.


"Iya Pak?" kata Mala.


"Ikut saya ke rumah sakit." Indra bangkit dari duduknya.


"Baik Pak," jawab Mala.


Nayla yang merasa bersalah pada Arka begitu panik saat mendengar David, Yumna dan Arka ada di rumah sakit.


"Om, apa aku boleh ikut?" tanya Nayla.


"Tentu saja, ayok!" Indra menjawab sambil berjalan, diikuti dengan yang lain.


Mereka semua masuk ke dalam mobil masing-masing dan menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


****


Sesampainya keluarga Panji dan Indra di rumah sakit, mereka langsung menuju UGD.


"Yumna," panggil Indra.


"Papah." Yumna langsung menghampiri Indra.


"Kamu nggak kenapa kan sayang?" tanya Indra.


"Aku nggak kenapa-kenapa Pah, tapi Angel---." Yumna menggantung ucapannya dan menoleh pada pintu UGD.


"Opah, Omah, Onty, itu galak. Alka, dikulung," adu Arka pada Indra, Ajeng dan Panji.


Indra berjongkok dan memeluk tubuh Arka serta menciumi pipi gembul itu, dia merasa sangat bersyukur akhirnya Arka bisa ditemukan dengan selamat.


"Tapi sayang, bagaimana bisa Angel, bersama kalian?" tanya Ajeng.


"Dia yang menculik Arka, Mah," jawab Yumna membuat Panji dan Ajeng terkejut.


"Apa? tapi bagaimana bisa? bukannya dia sudah kembali ke rumahnya." Ajeng tidak percaya.


"Aku juga nggak tau Mah."


"Terus kenapa dia bisa terluka?" Ajeng kembali bertanya.


"Arka, kamu nggak kenapa-kenapa kan sayang?" Nayla bertanya pada Arka sambil memeriksa keseluruhan tubuh Arka.


"Alka, nggak kenapa-kenapa Onty, tapi Onty, yang di dalam galak," jawab Arka sambil menunjuk ke ruang UGD.


"Syukurlah, maafin Tante, ya sayang." Nayla langsung memeluk tubuh Arka.


Panji berjalan menghampiri David dan duduk di sebelahnya. Panji yakin jika David melakukan kesalahan hingga menyebabkan Angel terluka seperti ini.


"Dav, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Panji.


"David, nggak tau Pah, David, nggak sengaja melakukan itu. Dia yang menembak dirinya sendiri saat pistolnya aku ambil," jawab David.


Dia masih teringat bagaimana Angel ingin menembak dirinya, dan David mencoba mengelak hingga tembakan itu mendarat di perut Angel.


Walaupun Angel pelaku dari penculikan Arka, tapi David sama sekali tidak punya niatan untuk melukai Angel. Bagi David Angel sudah seperti saudara dimatanya.


"Mala, bawa Arka, pulang ya, kasian dia kayanya kecapean banget deh. Takutnya dia juga belum makan, lagi pula ini rumah sakit nggak baik buat anak kecil," pinta Yumna pada Mbak Mala.


"Baik, Mbak, Arka, sayang, pulang yuk!" Mala mengulurkan tangannya mengajak Arka untuk pulang tapi Arka menggeleng.

__ADS_1


"Alka, takut ada Onty, itu lagi," tolak Arka.


David yang mendengar anaknya tidak ingin pulang, langsung berjalan menghampiri Arka.


"Sayang, Arka, kan anak pinter, anak baik. Harus nurut ya nak," bujuk David.


"Arka, juga kan pasti capek. Istirahat di rumah ya sayang," timpal Yumna.


Mau tidak mau Arka pun mengangguk. Lalu, Arka dan Mbak Mala pulang diantar sopir Indra yang kebetulan tadi mengantar mereka.


Saat mereka semua tengah terdiam, pintu UGD pun terbuka. Bayu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang Dokter, diikuti yang lainnya.


"Dok, bagaimana kondisi Angel?" tanya Bayu dengan raut wajah khawatir yang sangat kentara.


"Peluru yang menancap di perut juga dada sebelah kirinya sudah berhasil kami keluarkan, tapi dia masih kritis," jawab sang Dokter.


"Bukankah pelurunya sudah dikeluarkan Dok?" Bayu kembali bertanya.


"Iya memang benar tapi---."


"Lalu, kenapa dia masih kritis?" potong Bayu.


Bayu mulai hilang kontrol, Indra yang menyadari itu menepuk pundak Bayu pelan dan Bayu pun tersadar.


"Maaf Dok, maaf saya hanya takut," ujar Bayu.


"Tidak apa-apa, pasien kritis karena dia terlalu banyak mengeluarkan darah, pasien akan saya pindahkan ke ruang ICU agar mendapatkan penanganan lebih," tutur sang Dokter dan Bayu pun mengangguk.


'ya ampun, kenapa jadi seperti ini, aku menyesal sudah membawa Angel ke sini,' batin Ajeng.


Tidak berselang lama Angel pun dibawa ke ruang ICU. "Di ruang ICU kalau bisa pasien hanya ditemani satu orang ya!" pesan sang Dokter.


"Iya Dok, saya yang akan menemani Angel," jawab Bayu Dokter itu pun tersenyum kemudian dia berlalu.


"David, Yumna, Nayla, Om dan tante, kalian semuanya pulang aja, terima kasih ya," ujar Bayu lalu dia mengikuti perawat yang membawa Angel.


"Yaudah kalau gitu kita pulang aja yuk!" ucap Indra.


"Nay, kita pulang bareng yuk! tapi aku bawa motor Pak Ipul, kamu nggak keberatan kan?" ajak Adit.


Nayla tampak berpikir sejenak kemudian menoleh pada Rani. Namun, saat melihat Rani tersenyum. Dia pun mengangguk pada Adit.


Lalu, mereka pun pergi lebih dulu dari sana meninggalkan yang lainnya.


"Dav, kita bareng ya, mobil Papah, kan dibawa sama pak Ipul," ucap Indra.

__ADS_1


"Kalau gitu Ndra, Yumna, David, Rani, kita langsung pulang aja ya," pamit Ajeng dan yang lainnya pun mengangguk.


BERSAMBUNG...


__ADS_2