Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
62


__ADS_3

Berita tertangkapnya Adam sebagai kasus percobaan pembunuhan sudah tersebar di televisi.


"Mama....! kakek...! Nek...! "


Al berteriak memanggil semua yang ada di rumah.


Semuanya berlari ke arah Al yang sedang menonton berita di televisi.


"Kenapa Al,teriak teriak,"Dahlia keheranan.


"Papa...papa Ma....! " Al menangis tangannya menunjuk ke berita televisi yang masih menayangkan wajah Adam tanpa menggunakan masker.


"Mas Adam" Ucap Dahlia lirih.


"Sudah selingkuh dari istri sah,sekarang malah jadi pembunuh selingkuhannya, dasar manusia laknat!" Bu Lina menggerutu Adam.


"Bu..... jaga bicaranya Bu, Al, ayo ikut kakek ," Yatno menatap Lina dengan tatapan peringatan. Al cucunya menangis meraung


"Tidak!...tidak mungkin papa ku menjadi seorang pembunuh ! papa tidak seperti itu nek! " Al tidak terima dengan perkataan neneknya Lina.


Dahlia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya,


Mengapa semua ini harus seperti ini,Al masih terlalu dini untuk semua ini,


"kenyataan papa kamu itu seorang penjahat !" Lina mencibir.


"Nenek jahat !" Al berteriak dan berlari ke kamar,


Brak! pintu kamar di banting oleh Al.


Yatno dan Dahlia sama sama mengelus dada, Lina memalingkan wajahnya saat suaminya Yatno menatap tajam ke arahnya.


"Bu,tolong jangan merusak mental cucu ibu sendiri,berilah dia penjelasan tanpa harus membuatnya terluka Bu..." Tes! air bening jatuh dari pelupuk mata Dahlia.

__ADS_1


"Sudah jelas jelas berita di TV mengatakan Adam itu melakukan percobaan pembunuhan dengan Siska,kenapa tidak kamu salahkan orang yang di TV itu saja ." Bu Lina ketus.


"Itukan masih dugaan sementara Bu,Siska juga belum memberikan keterangan sebagai korban,Lia kenal Mas Adam Bu, dia tidak setega itu melakukan hal hal sekejam itu " Dahlia membela Adam.


"Jadi kamu membela mantan suami bejat kamu itu hah !" Suara Bu Lina semakin meninggi.


"Cukup Bu, " Pak Yatno bicara pelan nadanya tegas.Lina tidak berani lagi bicara,dia pergi berjalan ke arah dapur dengan mulut yang masih komat kamit mengoceh tidak jelas.


Dahlia pergi menyusul anaknya ke kamar,


Al masih menangis sesenggukan,Dahlia membelai kepalanya.


"Ma.... apa benar papa Al orang jahat Ma ?" Dahlia menarik napas panjang.


"Apakah Al melihat papamu orang jahat ?" Dahlia menatap putranya lekat.


Bocah laki laki itu menggeleng pelan,dia memeluk pinggang mamanya.


"Al Rindu papa ma...." Suara Al sangat pelan tapi menusuk sanubari Dahlia.


Dahlia mencium kepala putranya dengan lembut,air bening jatuh menetes di rambut sang putra kesayangannya.


"Setelah ujian sekolah selesai kita ketemu papa ya ... " Tidak kata lain yang bisa Dahlia ucapkan untuk menghibur anaknya.


"Mama berjanji akan menepatinya ?" Al menatap mata Mamanya


Dahlia tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Iya... mama janji, sekarang Al tidur siang ya ..." Al mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di kasur.


Dahlia mengelus rambut Al sampai dia benar benar tertidur.


*Maafkan mama nak,tidak mampu bertahan demi dirimu, kelak dewasa kamu akan mengerti.

__ADS_1


Mas Adam tidakkah kamu tau anak kita yang paling terluka karena peristiwa ini ?


Kita bisa saja saling melupakan,tapi anak mu masih merindukan dirimu*....


Dahlia menyeka air matanya di rebahkan badannya di samping putranya yang sudah terlelap tidur.


Matanya menatap langit langit kamar,pikiran berkelana ke cerita silam.


"Lia,kenapa kamu tidak mau memberi Al seorang adik,biar dia tidak merasa sepi," Adam sudah lama menginginkan Dahlia hamil lagi.


"Lia belum kepengen hamil lagi Mas,Lia masih ingin mencari uang yang banyak" ucap Dahlia kala itu.


Mungkin karena aku tidak memberinya seorang bayi lagi hingga mas Adam mencari wanita yang lain


Dahlia bergumam.


Tok! tok! tok! Pintu kamar di ketuk dari luar,Dahlia membuka pintu,


"Ada maya dan juga Bu Nani datang ke sini Lia," Pak Yatno menjelaskan.


Dahlia menutup pintu kamar Al dengan perlahan,menghampiri dua wanita beda usia di ruang tamu.


"Maafkan kami Lia...mohon maafkanlah keluarga kami , hiks hiks hiks, " Ibu Nani terisak berlutut memegang kedua kaki Dahlia.


Dahlia mengerutkan keningnya heran dengan orang yang pernah menjadi mertuanya.


"Ada apa ini Bu? may ? " Dahlia menatap Maya matanya merah sepertinya habis menangis.


Dahlia membantu Nani bangun dan memberinya aba aba duduk di kursi.


"Kak Lia sudah melihat berita di TV ?" Maya bertanya, Dahlia mengangguk.


"Tadi Ibu sempat pingsan setelah melihat berita di TV, setelah siuman beliau minta di antar ke sini," Maya memainkan jari jarinya.

__ADS_1


Bu Nani masih terus menangis.


"Bu,Lia sudah memaafkan semuanya Bu, jangan ibu pikirkan terlalu mendalam,nanti jadi beban pikiran ibu, kita ambil hikmahnya saja Bu..." Dahlia mengusap punggung Bu Nani.


__ADS_2