
Siska merebahkan badannya,bayang bayang senyum Herman masih lekat di pelupuk matanya.
Siska mengucek matanya mencoba menepis bayangan Herman.
Tidak,aku tidak boleh larut dengan perasaanku,
Klik!pintu terbuka,seorang perawat datang memeriksa keadaan siska lagi,
"Bu,besok kita lakukan USG ulang ya,untuk memastikan rahim ibu benar benar bersih," Perawat menjelaskan.
"Iya sus,kalau bisa saya sudah merasa sehat sekarang,saya minta semua yang menempel di badan saya di lepas saja,sangat tidak nyaman Sus saya dengan alat alat ini," Siska menunjukkan selang kecil yang masih terpasang di bagian area sensitifnya.
"Apa benar Ibu sudah bisa berjalan sendiri tanpa berpegangan menuju kamar mandi?" Perawat masih belum yakin.
"Saya akan berhati hati Sus,Nanti ada kerabat saya yang datang membantu saya berjalan ke kamar kecil" Siska meyakinkan perawat.
"Sangat berbahaya Bu,kalau ibu memaksa diri berjalan,saya juga tidak berani melepas semua ini tanpa ijin Dokter yang menangani Ibu,jika terjadi sesuatu pada Ibu,maka saya yang akan terancam Bu" Perawat membenarkan posisi Siska berbaring.
"Bu,minum dulu obatnya supaya ibu benar benar sehat,besok bisa di lepas selangnya," perawat memberikan obat pada siska beserta botol minumnya.
Setelah Siska menelan obatnya perawat tersenyum ramah,
"Bu,jangan terlalu banyak termenung,jika ibu jenuh ibu bisa membuka situs YouTube bagaimana cara supaya badan cepat pulih pasca keguguran Bu,saya yakin Ibu orang yang sabar menghadapi segala Hal, istirahat yang cukup ya Bu,berdoa mudah mudahan besok rahimnya sudah benar benar bersih,jadi selangnya bisa di cabut" Perawat mengelus tangan Siska.
Perawat meninggalkan Siska sendiri di ruangannya, Merasa yakin tidak ada orang yang masuk lagi ke ruangannya,Siska mencoba menurunkan satu kakinya.
Kakinya berayun ayun mencari tempat kakinya berpijak, Tret! sebuah gesekan di lantai.
Ujung kaki Siska menyentuh sedikit saja tempat khusus memijakkan kaki turun dari hospital bed.
Belum berhasil dengan sempurna,Siska memperhatikan pinggir bed,
Kenapa aku menjadi bodoh begini,ranjang ini kan di lengkapi tombol untuk mengatur tinggi rendah, ah,kemana otakku yang jenius dulu.
Siska menekan tombol menurunkan ranjang bed-nya,sudah pas untuk ujung kakinya menyentuh lantai.
"Aisshh!" Siska meringis bagian sensitifnya tergesek selang,Siska mengatur kembali posisi duduknya.
"Kenapa benda ini benar benar menganggu" Tangan Siska tercekat ketika ingin menarik selang yang masih tertancap di 'sana'.
"Apa yang ingin anda lakukan Nona" Entah darimana Herman datang tiba tiba dia sudah berada di dekat Siska.
"Dari mana kamu masuk? kenapa aku tidak tahu?" Siska keheranan.
"Apa penting bagimu darimana aku masuk?" Herman bertanya balik,tangannya memencet tombol darurat untuk memanggil tenaga medis datang ke ruangan Siska.
__ADS_1
Klik! pintu terbuka,dua orang perawat datang dengan tergesa,
"Maaf tuan,apa yang telah terjadi" Salah seorang perawat masih bingung,pasalnya tidak ada tanda tanda terjadi sesuatu pada pasien.
"Tolong di cek kembali selang yang tertancap,karena orang ini hampir saja mencabutnya sendiri " Siska tidak bisa berbuat apa apa selain pasrah saja dengan apa yang di katakan Herman.
Perawat menutup tirai pembatas pasien dengan pembesuk,setelah selesai tirai di buka kembali.
"Tuan,semuanya baik baik saja,untuk mengantisipasi terjadinya lecet di 'dalam' kami mencabut selangnya,kami juga akan menyiapkan perawat yang akan mengurusnya selama 24 jam," salah seorang perawat menjelaskan.
"Untuk malam ini biar saya yang ada di sini,besok pagi pagi saya baru pulang,sebelum ada orang yang menggantikan saya besok pagi saya mau pengawasan ketat dengan Nona ini." Herman masih dalam posisi berdiri.
"Baik tuan,jika ada apa apa cukup tekan bel-nya saja" dua orang perawat meninggalkan Siska dan Herman.
"Apa yang ingin kamu lakukan tadi " Herman maju selangkah ke arah Siska.
"Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi,aku ingin menggosok gigi saja " Dusta Siska.
Herman melangkah menuju tempat mandi, mengambil ember dan gayung berisi air,
"Di mana sikat gigimu" Tanya Herman
Siska menunjukan tempat dirinya menyimpan kotak sikat dan pasta giginya,
Herman memberikan sikat pada Siska.
"Apa nona juga ingin mencuci muka?" tanya herman lagi.
Siska mengangguk,Dengan telaten Herman membantu Siska.
Apa anda sudah makan ?" tanya Herman lagi.
"Aku mau tidur" Siska datar.
Bisa serangan jantung bila lama lama aku berinteraksi dengannya,lebih baik aku tidur saja.
Siska memiringkan badannya membelakangi Herman,dia berusaha memejamkan matanya yang belum mengantuk.
Herman duduk di sofa memperhatikan punggung Siska,
"Nona jika anda perlu sesuatu,tolong beri tahu saya" Herman tahu kalau Siska belum tidur.
Jika berada di samping Rudi,Herman tidak berani memanggil Siska dengan sebutan 'nona',
"Maaf,kalau saya tidak memanggil anda 'nyonya' seperti tadi,'" Herman berkata lagi
__ADS_1
Siska diam saja masih pura pura tidur,justru hatinya berbunga bunga jika kata 'nyonya tidak di sematkan padanya.
"Nyonya Siska,apakah biasanya nyonya tidur dengan lampu yang menyala terang?" Herman merubah panggilannya pada Siska. Dia takut siska menjadi marah,menanyakan soal lampu sebenarnya Herman sudah tau tata tertib rumah sakit.
Herman mendekati Siska dari belakang,terlihat pundaknya berguncang,perlahan Herman mengintip wajah Siska.
"Anda menangis nyonya?tolong maafkan saya,mulai dari kesalahan saya yang sekarang sampai ke salah saya yang sudah lampau" Ucap Herman lembut.
Pundak Siska semakin berguncang,jiwa egoisnya entah hilang kemana saat ini,tiba tiba luntur dengan kelembutan sikap Herman.
"Baiklah nyonya saya akan menunggu anda di luar,sampai ada perawat yang masuk menggantikan saya,maafkan saya telah merusak suasana hati nyonya" Herman membalikkan badannya,langkahnya tercekat oleh tangan Siska,Herman membalikkan lagi badannya.
"Maaf" Siska melepas pegangan tangannya
Apa aku sudah gila,berani sekali aku memegang tangannya,
Herman hanya tersenyum,tatapan teduh,hati siska menjadi nyaman melihatnya.
Nona manis ku,selagi masih ada waktu aku tidak peduli masa lalu mu,
Herman memencet tombol di samping Hospital bed,kini badan Siska menjadi separuh berbaring,
"Jika ada sesuatu yang ingin di katakan,katakan saja,aku akan mendengarnya" Herman menarik kursi,duduk di samping bed siska.
"Tidak ada,terima kasih" Ucap Siska.
Itu saja,ah nona manis ku,kamu telah merusak hatiku menjadi gundah,tau kah kamu nona,jika tuan tau perasaanku dia akan murka,aku tidak mau itu terjadi,apalagi padamu
"Baiklah,sekarang anda tidur saja Nyonya" titah Herman.
"Hentikan memanggilku Nyonya,aku bukan istri Rudi lagi" Tutur Siska.
"Baik nyonya,eh nona,tapi maaf jika ada tuan saya tetap memanggil anda nyonya,"
"Aku lebih nyaman di panggil Siska saja" Ucap siska pelan.
\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,
Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat
__ADS_1
Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*