
๐Hallo semuanya, apa kabar? Semoga semuanya baik ya, aamiin! ๐
Aku jelaskan dulu ya sebelum baca, ini semua murni hasil haluan aku. Kalau ada kesamaan, nama tokoh alamat dan lain-lain itu hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan.
Ok sekian dan terima gaji.
Satu minggu berlalu di kediaman Bayu tengah disibukkan dengan kegiatan mempersiapkan pernikahan untuk Arka dan Ayarra.
Ya pernikahan mereka akan segera dilangsungkan dua hari lagi, setelah kedatangan Indra tempo hari, keluarga kedua belah pihak langsung mempersiapkan semuanya.
Apa lagi Arka sendiri sudah menyatakan keinginannya malam itu, dan dia langsung melamar Ayarra di keesokan harinya.
Sekarang dinding-dinding rumah Ayarra sudah dihias dengan beberapa pernak pernik pernikahan berwarna emas.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Angel saat melihat Ayarra menuruni anak tangga.
"Aku mau ambil makanan di depan Mah," jawab Ayarra.
"Kamu beli makanan apa? di rumah kan banyak makanan?"
"Eeemmm ... Itu Mah, anu ...."
"Sayang, inget jangan ketemu sama Arka dulu ok!" pesan Angel dan Ayarra pun mengangguk pelan kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju teras rumah.
Ya memang benar Ayarra ingin mengambil makanan yang sudah dia pesan, tapi kurir yang mengantarkan makanan itu adalah Arka, karena mereka sudah satu minggu tidak bertemu.
Jadi, Arka merasa sangat merindukan Ayarra. Itu sebabnya Arka rela menjadi seorang kurir dan memaksa Ayarra untuk ke luar, hanya untuk menghilangkan rasa rindunya pada sang kekasih.
"Arka," panggil Ayarra berbisik sesampainya dia di depan pagar rumah.
"Astaga sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Arka. Ayarra hanya terkekeh mendengar itu.
__ADS_1
"Ini aku bawain pizza buat kamu! kenapa sih harus ada aturan untuk sepasang pengantin dilarang bertemu," keluh Arka sambil memasang wajah melas di depan Ayarra.
"Ya mau gimana lagi, ini udah menjadi sebuah tradisi yang harus kita taati." Ayarra menjawab sambil mengambil satu kotak pizza yang dibawa Arka.
"Tapi aku kangen!" Arka merengek seperti anak kecil.
"Tinggal nunggu itungan hari," kata Ayarra.
Arka membuang napas kasar kemudian senyum pada Ayarra.
"Kalian ini emang bandel ya!" kesal Diana yang kebetulan datang ke rumah Angel untuk membawakan beberapa peralatan untuk pernikahan Arka dan Ayarra.
Arka dan Ayarra terperangah saat melihat Diana datang bersama Yuda. "Tante ngapain di sini?" tanya Arka kikuk.
"Harusnya Tante yang tanya kamu, lagi ngapain kamu ke sini? kalian kan belum boleh ketemu," cibir Diana.
Arka hanya tersenyum sebagai jawaban, sedangkan Ayarra tertunduk malu. "Ini pasti Abang, yang nggak sabaran Mah," kata Yuda menyudutkan Arka.
"Ayok Bang pulang!" ajak Yuda, dia pun langsung menaiki motor Arka.
"Yaudah aku pulang dulu ya sayang, Tante," pamit Arka kemudian mereka pun berlalu meninggalkan Diandra dan Ayarra.
Diana tersenyum pada Ayarra yang terlihat malu-malu itu, Diana pun menuntun Ayarra untuk masuk ke dalam rumah.
"Tante, jangan bilang sama Mamah atau Papah ya!" kata Ayarra.
"Iya sayang! tapi lain kali kalau bocah itu ngajak ketemuan, tolak aja ya! kalau kata orang tua jaman dulu pamali," pesan Diandra dan Ayarra pun mengangguk.
\*\*\*
__ADS_1
Di tempat lain, sudah beberapa hari ini Nia sering sekali melamun, seperti saat ini. Dia duduk di teras rumah sambil memikirkan ucapan dan pesan kedua orang tuanya tempo hari. Sungguh itu sangat mengganggunya beberapa hari ini.
"Kamu ngapain malam-malam duduk di luar?" tanya Fathan seraya membawa satu gelas susu hangat untuk Nia.
Nia menggeleng dan tersenyum pada Fathan. "Nggak, aku cuma pingin cari angin seger aja," jawab Nia.
Fathan menyodorkan segelas susu hangat itu, kemudian duduk di samping Nia. "Aku diundang ke pernikahan Ayarra dan Arka, apa kamu mau ikut?" tutur Fathan membuat Nia terkejut.
"Apa? Arka dan Ayarra mau nikah?" pekik Nia tidak percaya.
"Iya, dua hari lagi. Kenapa? apa kamu masih mikirin Arka? atau masih berharap sesuatu ke dia?" pancing Fathan.
Walaupun Fathan merasa jika Nia sudah sedikit berubah, tapi Fathan takut jika jauh di dalam lubuk hati Nia masih ada Arka.
"Enggak, aku cuma kaget aja. kapan Ayarra kembali?" kata Nia dengan seulas senyuman yang dipaksakan terbit di wajahnya.
"Entah ... Tapi tadi pak David, ngundang aku, katanya aku bisa ajak kamu kalau kamu mau," jawab Fathan.
"Kamu sendiri aja deh, aku nggak mau ikut. Aku mau di rumah aja," kata Nia lembut.
Nia takut jika hatinya belum bisa menerima semua yang terjadi, maka lebih baik dia tidak datang atau pun bertemu dengan mereka.
"Kamu yakin? gimana kalau aku maksa?" ujar Fathan.
Nia menoleh padanya dan menatapnya dalam, Nia kembali melihat ada ketulusan dan sesuatu yang menenangkan dari kedua mata itu.
"Kalau aku datang terus aku menangisi Arka bagaimana?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar bergitu saja dari bibir Nia.
Fathan tersenyum dan membelai rambut panjang Nia yang berwarna hitam pekat itu. "Aku yakin kalau kamu nggak akan mengulang kesalahan yang sama. Itulah kenapa aku ngajak kamu," jawab Fathan.
Mendengar jawaban dari Fathan entah kenapa Nia merasa senang, dan bersemangat. Lalu tanpa sadar dia pun mengangguk menyetujui ajakan Fathan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...