
"Tapi David memang tidak melakukannya." Adit memotong ucapan Brian membuat semua orang serempak menatapnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Nayla, dia menatap Adit bingung, sedangkan Adit sempat terdiam sejenak.
Dia mengambil napas dalam lalu membuangnya kasar. "David, tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan," ujar Adit membuat semua orang terkejut terutama David.
Sadar menjadi pusat perhatian dan mereka membutuhkan penjelasan Adit pun melanjutkan ucapannya. "Saat aku kembali David memang hampir melakukannya tapi aku memukul tengkuk David hingga dia tidak sadarkan diri," sambung Adit.
Hal itu membuat Nayla menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, dia pun kembali menangis. Nayla, sama sekali tidak mengerti takdir apa yang sedang mempermainkan dia.
"Kamu bohong, kamu kaya gini karena David, itu Bos kamu kan? jawab!" teriak Nayla sambil memukul bahu Adit dengan membabi buta.
Adit hanya diam sambil memegang tangan Nayla, dia menatap sendu ke arah Nayla, dan tanpa sadar dia pun menitikkan air mata.
"Kamu tenang dulu, Nay, aku tau ini sulit buat kamu. Namun, memang sudah saatnya kamu tau yang sebenarnya terjadi pada malam itu," tutur Adit.
Nayla yang sudah kelelahan memukuli Adit langsung jatuh terduduk. Dia merasa semuanya tidak adil, apakah semua orang kaya bisa semena-mena pada orang miskin sepertinya.
Mengapa mereka mempermainkan emosi dia seperti saat ini, dia sudah cukup tertekan karena kejadian waktu itu.
"Lanjutkan apa yang mau kamu katakan, Diri!" pinta David.
Adit mengangguk. "Setelah David tidak sadarkan diri, a---ku yang---"
"Ngomong yang jelas! bukan a u a u," geram Brian, karena Adit bertele-tele.
"Aku yang melakukannya pada Nayla," sambung Adit penuh penegasan.
"Kebohongan apa lagi ini hah?!" teriak Nayla. Dia kembali berdiri dan menarik kerah baju Adit.
__ADS_1
"Apakah semua orang kaya seperti ini hah?! mentang-mentang aku orang miskin, kalian mempermainkan aku seperti ini." Nayla murka, dia menarik-narik kerah baju Adit hingga beberapa kancing kemejanya terlepas.
Adit yang merasa pantas mendapatkan kemarahan dari Nayla hanya diam saja, dia membiarkan Nayla menangis dan menarik-narik bajunya.
"Apa kamu sudah tenang? kalau kamu sudah tenang aku akan jelaskan kronologisnya," ujar Adit.
Nayla, terdiam dia kembali duduk di samping Rani. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya tersebut.
Sedangkan Adit kembali menceritakan kronologis yang terjadi malam itu, dari awal dia kembali hingga dia mendapatkan telpon penting, dan saat dia ingin membahas kejadian semalam. Dia salah paham dengan ucapan Nayla dan david.
Hal itu sukses membuat Nayla terkejut dan menutup mulutnya, dia merasa tidak percaya. Namun, tidak akan ada yang membelanya.
Adit yang melihat Nayla melamun memberanikan diri untuk mendekatinya. Dia berjongkok di hadapan Nayla, sambil menggenggam tangannya.
"Percayalah apa yang aku ucapkan adalah kejujuran, bukan karena, David, Bosku atau bukan. Namun, memang itu kenyataannya, aku yang merenggut kesucianmu saat itu. Aku ingin mengakuinya saat itu, tapi kamu terlalu fokus pada David, hingga kamu tidak sadar jika di sana juga ada aku," tutur Adit, sedangkan Nayla, hanya terdiam.
"Dan aku jadi tidak punya keberanian waktu itu, karena kamu selalu mengharapkan tanggung jawab dari David. Aku bisa apa jika kamu sendiri hanya memikirkan David," sambung Adit.
"Nay, Nayla, kamu kenapa?" Adit dan Rani panik saat melihat Nayla tidak sadarkan diri.
"Bawa dia ke rumah sakit!" perintah Indra, Adit mengangguk. Kemudian dengan sigap dia langsung membopong tubuh Nayla dan membawanya ke mobi.
Yumna, David, dan Brian ingin ikut ke rumah sakit, tapi Rani melarang mereka.
"Kalian di rumah aja! Tante yakin Nayla nggak apa-apa, dia pasti cuma kaget aja. Lebih baik kalian selesaikan masalah kalian, semuanya sudah terbukti bukan," ujar Tante Rani.
Lalu, dia langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan Yumna, Brian dan David kembali masuk ke dalam rumah.
"Pantes semenjak dia melihat Nayla, kerjaannya ngelamun mulu, dan tadi tiba-tiba aja dia mau ke sini dengan alasan laporan," gumam Brian.
__ADS_1
David hanya diam, dia hanya memperhatikan Yumna yang sejak tadi terus memalingkan wajah darinya.
"Sayang, apa kamu masih nggak percaya sama aku?" tanya David.
Yumna menoleh padanya. "Aku masih kaget, Mas, aku nggak tau siapa yang harus ku percaya." Yumna menjawab dengan nada lirih.
"Apa Kaka ipar nggak percaya sama pengakuan Adit? apa Kaka ipar juga berpikir kalau, Mas david, bayar Adit untuk berbohong begitu?" tanya Brian.
"Enggak gitu aku cuma---"
"Kalau gitu kenapa Kaka ipar masih nggak percaya," timpal Brian membuat Yumna terdiam.
Dia memperhatikan David dalam, sejujurnya Yumna memang tidak percaya pada ucapan Nayla. Namun, melihat Nayla yang bersikeras membuat Yumna dilema.
"Baiknya nanti kalau mereka sudah kembali, kita tanyakan lagi. Barangkali Adit mempunyai bukti yang bisa membuat Kaka ipar atau Nayla yakin," usul Brian.
David dan Yumna mengangguk tanda mereka menyetujui usul dari Brian.
"By the way, aku capek bisa numpang istirahat nggak Ka? mau pulang malas banget kayanya," tanya Brian.
"Boleh, kamu istirahat aja di kamar yang itu." Yumna menunjuk salah satu kamar, Brian mengangguk kemudian dia beranjak dari sana menuju kamar yang Yumna tunjuk.
Kini di ruang keluarga itu menyisakan sepasang suami istri itu. David mengulurkan tangannya kemudian menggenggam tangan Yumna.
Yumna yang sedari tadi merasakan sesak di dada seketika langsung memeluk tubuh David dan menangis dalam pelukannya. David mengelus punggung Yumna lembut sambil menciumi puncak kepala Yumna berkali-kali.
"Maafin aku ya sayang, aku selalu buat kamu terluka, tapi bukan aku yang melakukannya, aku berani bersumpah demi apapun," tutur David.
"Kamu harus percaya sama aku, jangan sampai kesalah pahaman membuat kita kembali berpisah," sambung David.
__ADS_1
Yumna mengangguk lalu semakin mengeratkan pelukannya.
BERSAMBUNG