Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
68


__ADS_3

Ada debaran aneh di hati Herman,rasa yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata,namun Herman sangat cerdas menyembunyikan debaran hatinya.


"Baiklah,ini akan saya lakukan jika hanya kita berdua saja,karna saya bekerja dengan tuan Rudi." Ucap Herman.


Siska mengangguk setuju,dulu Siska pernah membenci pria yang ada di depannya karna telah menjebaknya di sebuah klub malam.


Kini rasa benci memudar sendiri dengan perlakuan lembut dari Herman.


"Sebaiknya kamu tidur,ini sudah malam tidak baik untuk masa pemulihan mu"Ucap Herman lagi.


Herman menutup tirai pembatas takut Siska tidak bisa tertidur dengan kehadiran dirinya.


Di balik tirai,


Apakah ini yang di namakan rasa cinta yang sesungguhnya,nyaman dan teduh,


Siska memejamkan matanya membayangkan tatapan dan senyum Herman yang sudah membuatnya nyaman.


Tidak!aku tidak pantas untuknya,aku terlalu hina,aku harus mengubur rasa ini,


Batin siska lagi.


Lama bergelut dengan perasaannya akhirnya Siska tertidur.


Herman masih sibuk dengan hpnya,dia sengaja tidak menggunakan laptop,suara berisik dari keyboard akan menganggu Siska itulah yang di pikirkan Herman.


Hingga jam empat dini hari Herman memanggil perawat untuk menggantikannya menunggu Siska.


"Awasi dia,karena semalam dia berusaha kabur"


"Baik Tuan," Seorang perawat menganggukkan kepalanya.


"Siapa wanita itu sebenarnya,kenapa dia begitu istimewa ?" Gumam kecil dari mulut perawat.


Dia pun masuk menuju ruangan Siska,mengecek cairan infus,tinggal sedikit,sang perawat menggantinya.


Siska menggeliat kembali tertidur,sepertinya dia sedang berada di alam mimpi.


Perawat duduk di sofa,melihat identitas dari pasien,keningnya berkerut.


"Di sini tertulis nama suaminya Tuan Adam,dan sering mengunjunginya Tuan Anggra dan Tuan Herman,kemana Tuan Adam" perawat bergumam kecil.


"Pasien di larikan ke rumah sakit karena pendarahan setelah melakukan hubungan intim,rumit sekali riwayat wanita ini"perawat bergumam lagi.


Jam enam pagi,perawat membuka tirai pembatas yang di pasang oleh Herman,Siska sudah bangun,


"Selamat pagi Bu,bagaimana ibu hari ini," perawat tersenyum ramah.


"Sangat baik Sus dari sebelumnya," Jawab Siska,tampak dari wajahnya pun siska sudah sangat berbeda,seperti ada mukjizat yang datang tiba tiba padanya.


"Baguslah Bu,kalau begitu saya permisi dulu ya Bu,nanti ada yang menggantikan saya sekaligus membawa sarapan untuk ibu,"Ucap perawat lagi.


Siska mengangguk pelan,seluruh badannya terasa enteng,Siska menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan,


"Hm,mimpi yang indah,pagi ku juga cerah,selamat pagi dunia baruku" Siska bergumam sendiri.

__ADS_1


Terdengar suara pintu terbuka,Siska menoleh,Ternyata Lala bersama seorang perawat membawa nampan berisi makanan dan segelas Susu untuk Siska.


"Selamat pagi nyonya" Lala mengucap salam.


"Pagi juga Lala" Balas Siska dengan senyum merekah.


"Bu,ini sarapan untuk ibu,makanlah selagi masih hangat," Perawat meletakkan nampan di dekat Siska.


Setelah makanan habis perawat memberikan obat dan botol minum pada Siska.


"Saya mau mandi" Ucap Siska,


"Biar saya saja Sus yang membantu," Ucap Lala,


"Maaf Nona,bukannya tidak percaya dengan Nona,tapi Bu Siska masih dalam tanggung jawab kami,jika Nona ingin membantu saya,silakan" Ucap perawat yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuk Siska.


Lala membantu menyiapkan air hangat,pagi ini Siska di bantu oleh Lala dan seorang perawat berjalan menuju kamar kecil.


Biasanya Siska mandi menggunakan kursi roda.


Guyuran air hangat memberi efek segar di badannya,Perawat membantu Siska membersihkan area yang tidak bisa Siska jangkau dengan tangannya.


Selesai mandi Lala membantu siska mengenakan pakaiannya,ini adalah pertama kalinya buat Lala membantu orang dewasa berpakaian,kalau pun anak kecil Lala sudah sering membantu anak tetangganya.


"Bu,nanti jam sembilan kita lakukan USG lagi ya," perawat kembali mengingatkan.


"Iya Sus," Jawab Siska singkat.


Jam sembilan,perawat kembali datang dengan membawa kursi roda untuk Siska,


Siska di bawa menuju ruang USG,Dokter tersenyum, Hasilnya bersih bu,tidak ada lagi sisa sisa di rahim Ibu,"Dokter menjelaskan.


"Terima kasih Dok,kapan saya boleh pulang?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Siska.


"Besok Pagi Bu baru boleh pulang,kalau kondisi ibu sudah semakin membaik"


"Saya merasa sangat baik Dok" ucap Siska lagi


"Baiklah,sekarang Ibu bisa berjalan sekedar mencari angin segar di sekitar rumah sakit"


Siska keluar di bantu oleh Lala,


"La,aku ingin ke taman," ucap siska pelan.


"Baik nyonya" Lala.


Lala membawanya sampai taman,Siska menghirup udara segar yang bebas dari aroma obat obatan dan cairan steril ruangan.


"La....kamu sudah punya pacar ?" tanya Siska.


"Belum nyonya,sulit punya pacar dengan wajahku yang cantiknya sangat minim, " Jawab Lala.


Siska menatap wajah Lala,wajahnya memang tidak terlalu cantik,namun cukup manis di pandang,


"Cantik itu bukan dari wajah La,tapi dari sikap" Siska tertunduk,dia telah memberi nasehat pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"percuma cantik La,kalau tidak ada pria yang tulus" lanjut siska lagi,matanya berkaca kaca,menyesali perbuatannya yang sudah salah menggunakan kecantikan yang dia punya.


"Memiliki wajah cantik seperti nyonya pasti sangat menyenangkan,banyak pria yang berebut ingin mendapatkan nyonya"


Tidak seperti yang kamu bayangkan Lala,kecantikan ku telah menyesatkan ku,aku terlalu bangga dengan orang orang yang memuji kecantikan ku,aku hancur La.....hiks


Siska menarik napasnya dalam,bayangan Adam melintas di benaknya.


Di mana kamu sekarang Dam,andai kamu datang aku hanya ingin minta maaf ,karena aku rumah tanggamu hancur.


Batin Siska menyesali perbuatannya.


Lala melihat Siska menitikkan air mata,


"Nyonya,nyonya baik baik saja?" tanya Lala.


"Aku ingin istirahat La," ucap Siska lirih.


Lala membawa Siska kembali ke ruangannya,membantu Siska naik ke atas Bed.


Di sebuah cafe terkenal,seorang sedang berada di lantai tiga,tempat dirinya biasanya memandang riuhnya kendaraan yang berlalu lalang.


Bangunan tiga lantai yang di sulap menjadi tempat tongkrongan kalangan muda dan dewasa berada di lantai satu dan lantai dua.


Tempat yang strategis sangat dekat dengan gedung perkantoran dan sekolah, halaman parkir sangat luas.


Setiap hari selalu di penuhi pengunjung berbagai kalangan.


Tempat tersebut sering di gunakan para pengusaha melakukan pertemuan terbuka,tidak aneh lagi jika pemiliknya meraup pundi rupiah yang sangat fantastis setiap harinya,belum lagi di tambah dari penghasilan Hotel berbintang lima miliknya,membuat pemiliknya menjadi idaman banyak wanita.


"Bagaimana perkembangan Siska hari ini Her,"


"Dia sudah sangat membaik,mulai dari fisik dan kejiwaannya,maaf kan saya tuan,tadi malam saya menunggu nyonya Siska,karena Nona Lala sedang ada tugas kampus ship malam" Herman memberi laporan.


"Hm,Apakah dia marah padamu?" Tanya Rudi lagi.


"Tidak Tuan,nona maaf maksud saya nyonya Siska terlihat baik baik saja"


"Aku tidak akan menghukum mu jika kamu memanggil Siska dengan sebutan Nona,itu terserah bagaimana nyamannya kamu menyebutnya" Rudi berjalan turun menuju lantai dua.


"Terima kasih Tuan" Herman mengikuti langkah Rudi dari belakang.


Apa tuan sudah mulai curiga,atau memang dia hanya menghukum nona Siska dari statusnya,



\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,



Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat



Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*

__ADS_1


__ADS_2