Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 138


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit Bayu masih setia menjaga dan menemani Angel, mata Bayu nanar menatap wanita itu terbaring lemah seperti sekarang.


Bayu merasa bersalah sudah meninggalkan Angel, pasalnya Angel itu orang yang baik. Dia hanya butuh teman dan cinta, karena selama ini dia memang kehilangan itu semua.


Di sana Angel dipaksa untuk menjadi wanita yang tangguh dan mandiri, sedangkan jika dia bersama Omah Ratih, Angel selalu dimanja.


Wajar saja jika Angel ingin menjadi menantu di keluarga Panji Wijaya. Hanya saja caranya salah.


Bayu memperhatikan wajah Angel yang penuh dengan alat penunjang hidup, dengan saksama seraya menitikkan air mata. Dia tahu betul bagaimana dan apa yang Angel butuhkan, tapi Bayu tidak bisa berbuat apa-apa karena Angel sendiri terobsesi dengan David.


Bayu menyeka air matanya kemudian bangkit dari duduknya, dia mengelus rambut Angel dan membisikkan sesuatu.


Setelah membisikan sesuatu, Bayu tersenyum saat melihat jari-jemari Angel bergerak, saking bahagianya Bayu pun mencium kening Angel lembut.


"Terima kasih Ngel, aku janji akan selalu membahagiakan kamu, cepatlah sadar Ngel!" ujar Bayu.


*****


Sesampainya di kamar, Yumna langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Sayang, ganti baju dulu," kata David seraya duduk disamping Yumna.

__ADS_1


Bukannya bangun dan ganti baju seperti apa yang David perintahkan, Yumna malah meletakkan kepalanya di atas paha David.


David tersenyum dan mengelus-elus rambut Yumna lembut. "Eh, aku lupa kalau lu Mas, kan belum diobatin." Yumna langsung bangkit dan mengambil kotak p3k yang ada di lemari.


"Aku nggak apa-apa sayang, ini cuma kena darah Angel tadi," ujar David.


"Nggak, sini aku periksa dulu." Yumna langsung membuka kemeja yang David kenakan secara perlahan.


Lalu, dia mulai mengobati luka yang ada di tangan David, mulai dari dibersihkan menggunakan tisu basah, lalu dia berikan obat merah pada luka itu.


David memperhatikan wajah cantik Yumna, dia kembali teringat saat pertama kali dia bertemu dengan Yumna.


"Terima kasih sayang," ucap David.


"Sama-sama Mas---."


David langsung memeluk Yumna. "Sayang, mulai sekarang jangan pernah sembunyikan apa pun dari aku ya! Gimana kalau kamu kenapa-kenapa, jangan ulangi lagi."


David semakin mengeratkan pelukannya sambil mencium puncak kepala Yumna berkali-kali. "Iya Mas, maaf ya udah buat kamu khawatir," jawab Yumna.

__ADS_1


"Mas, boleh tidur di paha kamu lagi ya." Yumna langsung meletakkan kembali kepalanya ke paha David.


David tersenyum sambil mengelus-elus kepala Yumna dan memijat kening Yumna lembut.


Tak butuh waktu lama Yumna pun sudah terlelap, mungkin karena Yumna terlalu lelah hari ini.


David mengangkat kepala Yumna perlahan, kemudian dia rebahkan ke kasur.


Setelah itu David pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, karena kaus dalam David pun terkena darah Angel.


Mengingat Angel, David kembali merasa bersalah, seharusnya dia bisa mengambil pistol itu dari angel.


Banyak kata seharusnya yang melintas di benak David, dia menjambak rambutnya frustrasi. Ini bukan yang dia inginkan, dia sama sekali tidak menginginkan Angel terluka.


Akan tetapi Angel terlalu berani, dia malah menembak dirinya sendiri. Dari pada harus di bawa ke kantor polisi.


Padahal David tidak akan membawanya ke kantor polisi, melihat Arka dan Yumna selamat itu udah lebih dari cukup, karena Angel sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2