
Saat Adit tengah memegangi tangan Nayla dengan penuh cinta.
Nayla tersadar dari pingsan, Nayla mengedarkan pandangan dan matanya membola sempurna saat melihat Adit berada di sampingnya sambil memegangi tangannya.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Nayla dengan wajah merah padam menahan amarah.
"A---ku cu-cuma."
"Cuma apa? kamu laki-laki breng*sek, jadi pergi jauh-jauh dari aku," potong Nayla sambil mendorong dada bidang Adit hingga dia mundur beberapa langkah dari Nayla.
Adit terdiam, tapi saat dia melihat Nayla hendak melepaskan infusannya dua langsung menahan tangan Nayla.
"Ngapain sih?! lepas nggak, aku mau pulang. Aku benci kamu kalian semua, aku muak lihat wajah kalian," teriak Nayla.
Namun, Adit tidak menghiraukannya dia malah segera memeluk tubuh Nayla, dan akhirnya tangis Nayla pun pecah.
"Kenapa kalian permainkan aku, mentang-mentang aku orang nggak mampu. Kenapa Dit kenapa?!" lirih Nayla.
"Sudah ku bilang Nay, kalau kita hanya salah paham." Adit menjawab sambil mencium puncak rambut Nayla.
__ADS_1
"Tapi kamu tenang aja, karena semua sudah jelas. Aku akan tanggung jawab, aku janji," tutur Adit membuat Nayla terkejut.
Dia melepaskan pelukan Adit dan langsung menampar pipi Adit. Matanya memerah karena amarah dan tangis.
"Apa kamu pikir semudah itu hah?!" teriak Nayla.
Adit mengkerutkan kening, bukankah Nayla selalu mempertanyakan tanggung jawab pada David? tapi kenapa dia justru seperti enggan untuk di nikahi?
"Bukannya kamu selalu minta pertanggung jawaban dari laki-laki yang merenggut kesucianmu waktu itu?" tanya Adit.
"Ya, tapi itu bukan kamu, karena aku nggak pernah cinta sama kamu."
Bagaikan tersambar petir di siang hari, Adit merasa hancur saat mendengarnya. Dia langsung merasa putus asa, dia pikir Nayla sudah melupakan cintanya pada David, tapi ternyata Nayla masih mencintainya.
Di saat Adit sedang terdiam, Rani dan Indra masuk ke dalam ruangan itu sambil membawakan kopi untuk Adit, karena sedari tadi Adit menolak untuk makan dan minum apapun.
"Kamu udah bangun sayang?" tanya Rani pada Nayla sambil berjalan mendekatinya.
Sedangkan Indra menatap Adit yang sepertinya tengah menahan tangis, terlihat mata Adit memerah dengan buliran air menganak di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Dit, nih minum dan makan dulu cemilannya! takut sakit, dari tadi kamu nggak mau makan, nggak mau minum saking khawatirnya sama keadaan Nayla." Indra menyodorkan segelas kopi dan beberapa cemilan pada Adit.
Indra melirik pada Nayla yang tengah menatapnya bingung. "Duduk, Dit!" pinta Indra.
Adit mengangguk kemudian dia duduk di sofa panjang, dan meminum kopi yang diberikan Indra sedikit demi sedikit.
Apa yang Adit lakukan tak lepas dari pandangan Nayla, dia memperhatikan Adit tanpa berkedip.
Adit yang merasa diperhatikan langsung mendongak, dan mata keduanya saling bersitatap. Nayla dapat melihat sesuatu di mata Adit, sesuatu yang entah apa itu.
Nayla langsung memalingkan wajahnya saat dia merasa nyaman dengan mata itu.
"Mah, aku mau pulang ke Jogja. Aku udah nggak mau lagi tinggal di sini," pinta Nayla membuat Rani dan Indra terkejut.
Pasalnya Adit bilang kalau dia ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Nayla, tapi kenapa Nayla malah ingin kembali.
"Sayang, kondisi kamu kan belum pulih, memang sih dokter bilang kalau kamu bisa pulang setelah cairan infus ini habis, tapi kalau untuk kembali Jogja pasti kondisi kamu masih lemah," tutur Indra.
"Aku mau pulang, karena aku nggak mau melihat laki-laki itu." Tunjuk Nayla pada Adit.
__ADS_1
Bersambung...