Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 147


__ADS_3

Keesokan paginya, Arka sudah bangun lebih awal dari biasanya, karena hari ini tugas dia harus sudah selesai.


Setelah mandi dan berpakaian Arka turun ke lantai bawah untuk sarapan seadanya, karena jam segini pasti para asisten rumah tangga belum masak, dan saat dia menuju dapur di sana sudah ada Nia sedang memasak nasi goreng.


"Nia, kamu ngapain?" tanya Arka pada Nia sambil menuangkan air putih ke gelas.


"Eh, tumben udah bangun Bang?" Bukannya menjawab Nia malah bertanya pada Arka.


"Iya, masih ada tugas," jawab Arka.


"Oh, eh kebetulan banget, ini nasi gorengnya udah jadi bang. Kita sarapan bareng-bareng ya." Nia menuangkan nasi goreng yang dia masak ke dalam piring.


Satu piring untuknya, satu lagi untuk Arka. "Aku sengaja masak banyak." Nia menyodorkan satu piring pada Arka.


"Terima kasih." Arka menerima piring tersebut dan mencicipinya.


"Gimana, enak?" tanya Nia dengan mata berbinar menunggu jawaban dari Arka.


Arka tersenyum dan mengangguk, itu membuat Nia merasa senang, kemudian dia mencicipi sendiri nasi goreng buatannya.


Hal itu membuat Arka menggaruk tengkuknya, karena tidak tega dengan reaksi Nia.


"Wleee. Ini hambar banget, kenapa Abang, bilang ini enak?" tanya Nia setelah dia mencicipi masakannya itu.


"Ini enak kok, terlalu asin itu juga nggak enak," jawab Arka sambil kembali menyuapi makanan ke mulutnya.


Nia tersenyum mendengar jawaban Arka, dia juga kembali makan masakannya sambil menatap Arka.

__ADS_1


Arka menyantap sarapannya seraya mengetik beberapa pesan pada Ayarra, karena sepertinya hari ini dia akan sangat sibuk. Jadi, kemungkinan dia tidak bisa mengabari Ayarra nanti.


Arka tersenyum saat melihat balasan Ayarra yang menyemangatinya, sedangkan Nia yang sedari tadi menatap Arka raut wajahnya langsung berubah, saat melihat Arka tersenyum.


'pasti Ayarra,' batin Nia.


Nia terus memperhatikan Arka dengan saksama dan tanpa berkedip, jika dilihat-lihat wajah Arka memang sangat tampan, nyaris sempurna.


Saat Nia sedang memperhatikan Arka, dia dikejutkan oleh Alexa. "Hayo, ngapain liatin Abang, sampe segitunya," kata Alexa sambil menepuk pundak Nia.


Arka hanya menoleh sekilas pada Alexa yang baru saja datang itu, kemudian kembali fokus pada ponselnya.


"Eh, nggak gitu Le, ini nasi gorengnya tuh rasanya hambar, tapi dia masih aja mau makan ini," jawab Nia.


"Hahaha, santai, aku cuma bercanda. Kamu nggak mungkin nusuk Ayarra, kita kan sahabat, eh saudara juga sih. Iya kan bang?" kata Alexa.


"Hemmm." Arka hanya menjawab dengan deheman.


"Iya, tugasnya belum selesai," jawab Arka sambil bangkit dari duduknya, dan berjalan ke wastafel untuk mencuci piring bekas makannya.


"Abang, makannya udahan?" Alexa kembali bertanya.


"Belum, ini lagi makan, udah tau pake nanya lagi," kesal Arka.


"Ye, kan cuma tanya, nggak usah sewot juga kali," sungut Alexa.


"Lah, kan udah keliatan kali, kenapa masih tanya." Arka kembali menimpali ucapan Alexa.

__ADS_1


Nia yang melihat drama adik kakak itu hanya bisa tersenyum, mereka emang sering sekali berdebat hanya karena masalah kecil.


"Yaudah kalau gitu Abang, duluan ya," pamit Arka setelah mencuci piring, minum dan memakai kembali tas yang tadi dia bawa.


"Iya bang, hati-hati ya," jawab Alexa.


"Iya, Nia, makasih ya nasi gorengnya," kata Arka pada Nia yang dijawab hanya dengan anggukan oleh Nia.


Arka mengacak rambut Alexa sekilas kemudian keluar dari dapur meninggalkan Nia dan Alexa.


Melihat Arka sudah menjauh, dan tiba-tiba saja perutnya menjadi lapar, Alexa berniat menyendok nasi goreng tersebut. Namun ditahan oleh Nia.


"Kenapa?" tanya Alexa penasaran.


"Ini hambar banget, biar aku bumbui lagi ya, baru kamu makan." Nia menjawab sambil menyalakan kembali kompor itu, dan menuangkan kaldu bubuk dan garam.


"Beneran hambar kah?" tanya Alexa kembali.


"Hehehe, iya, tapi nggak tau kenapa nasi goreng Abang, habis," jawab Nia.


"Dia emang selalu gitu, kaya nggak tau aja."


Lalu mereka pun tertawa berdua, dan semenit kemudian Nia melamun karena mengingat Arka.


****


C I N T A datang tiba-tiba tanpa peduli siapa, dan dari mana asalnya.

__ADS_1


C I N T A tak pernah memilih, walau berkeping-keping pedih, karena cinta yang sebenarnya adalah yang menerima apa adanya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2