Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
perubahan Nia


__ADS_3

Keesokan paginya, Alexa yang sedari malam belum juga sadarkan diri. Akhirnya terbangun, dia mengerjapkan-ngerjapkan kemudian mengedarkan pandangannya.


Wajahnya menerbitkan seulas senyum saat melihat kedua orang tuanya sedang tertidur di atas sofa, di samping brankarnya.


Akan tetapi, saat dia mengingat kejadian saat dia melihat Dimas dan wanita lain tengah b e r c i u m a n. Membuat wajah Alexa yang semula senyum menjadi sedih.


Tanpa sadar dia pun menitikkan air matanya, hatinya benar-benar sakit saat mengingat semua itu. Bayangan itu bagaikan sebuah belatih yang selalu menusuknya.


"Kamu kenapa tega sama aku Dim, kenapa kamu tega!" batin Alexa menjerit, dia mengepalkan tangannya dan memukul-mukul pinggiran brankarnya, hingga darah segar menetes dari tangannya yang diinfus.


David yang mendengar suara seperti besi yang dipukul-pukul pun terbangun, dan dia terkejut saat melihat darah menetes dari tangan Alexa. "Ya ampun sayang!" pekik David, seraya berlari ke arah Alexa.


"Sayang kok tangan kamu bisa keluar darah gini?" tanya David.


Hal yang dilakukan David tentu saja membuat Yumna ikut terbangun. "Ya ampun sayang!" Yumna menghampiri Alexa saat melihat darah menetes dari tangannya.


"Mas, panggil perawat atau dokter!" titah Yumna panik, David mengangguk.


"Kamu kenapa? kok tangan kamu keluar darah?" Yumna panik, sedangkan David memanggil perawat.


"Sayang kamu kenapa? tadi Papah, denger suara, apa kamu yang mukul-mukul ujung tempat tidur ini?" tanya David.


"Nggak, aku nggak kenapa-kenapa, aku bangun darah udah netes gitu aja," bohong Alexa.


"Jangan bohong sayang! cerita aja sama Papah atau Mamah, kalau emang kamu ada masalah, jangan pendem sendiri," tutur David.


"Untuk saat ini aku nggak ada masalah Pah, jadi Mamah, sama Papah, tenang aja ya! soal darah, mungkin karena aku kebanyakan gerak waktu tidur, jadi gitu deh." Alexa mencoba menenangkan kedua orang tuanya, agar tidar khawatir.


"Bener?" desak Yumna.

__ADS_1


"Iya Mamah sayang," jawab Alexa sang tersenyum.


***


Di tempat lain, Nia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk memasak. Hari ini dia memasak ayam goreng, sayur sop, dan balado kentang. Semua itu adalah makanan kesukaan Fathan.


Nia memasak sambil bersenandung kecil, dengan sesekali mengelus perutnya yang mulai membuncit itu.


Fathan tersenyum saat melihat Nia tengah sibuk dengan masakannya itu. Pakaiannya yang kebesaran, dan celana pendeknya membuat Nia terlihat seperti masih SMP.


Saat Nia membalikkan tubuhnya untuk meletakkan masakan yang sudah siap ke atas meja, terkejut saat melihat Fathan tengah memperhatikannya. "Apa kamu udah dari tadi di sana?" tanya Nia kikuk.


Fathan tersenyum, dan melangkah mendekat, kemudian duduk di meja makan. "Belum lama sih, mungkin waktu kamu lagi ngajak ngobrol anakku, sambil nyanyi," jawab Fathan setengah menggoda Nia, membuat gadis itu tertawa kecil karena malu.


"Kenapa kamu masak? kalau laper kan bisa bangunin aku," kata Fathan khawatir.


"Aku nggak laper, aku lagi pingin masak aja," ujar Nia.


"Eeemmm— sekarang aja deh, aku tadi udah cuci muka soalnya."


Nia terkekeh mendengar jawaban Fathan, dia pun bangkit dari duduknya, kemudian mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Fathan.


"Nih, cobain deh! enak nggak enak, dienakin aja ya!" Nia menyodorkan piring yang sudah terisi itu pada Fathan.


Lalu, dia mengambil nasi untuknya sendiri, melihat itu Fathan merasa bahagia.


"Enak!" puji Fathan ketika sudah memakan satu sendok.


"Serius? soalnya aku setiap masak selalu nggak pernah bener, kalau nggak keasinan, ya hambar." Nia tidak percaya.

__ADS_1


"Coba aja, enak kok!" kata Fathan.


Nia pun mencobanya, dan benar saja, masakannya kali ini lumayan enak. Dia pun tersenyum penuh bangga pada kemampuannya itu.


"Kalau gitu aku bisa masak setiap hari," ujar Nia.


"Nggak, kamu lagi hamil, jadi nggak boleh, nanti kalau kamu kecapean gimana?" tolak Fathan membuat Nia merengut.


"Setau aku nggak apa-apa, asal jangan kerja berat."


"Nah itu, masak kan berat, harus nyuci beras, nuang minyak dan lain-lain, pokoknya jangan ya! kalau kamu mau makan tunggu aku aja, atau beli online," tutur Fathan.


Mereka nampak seperti sepasang kekasih yang sedang saling membujuk.


"Tapi Fathan, masak kan nggak capek, jadi nggak apa-apa ya!"


"Tapi—."


"Fathan," potong Nia.


Fathan mendengus. "Ok, tapi jangan capek-capek ya! kalau capek istirahat," pesan Fathan.


"Terima kasih," ucap Nia.


"Oh, iya, hari ini jadwal kamu periksa kan?" tanya Fathan ketika dia mengingat jika hari ini ada jadwal periksa kandungan.


"Iya, nanti siang," jawab Nia.


"Yaudah kalau gitu, setelah rapat aku usahain pulang dulu buat nganterin kamu ya!" kata Fathan, dan Nia mengangguk.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2