
Setelah kepergian Adit, Nayla, Fathan dan Nia. Yumna yang merasa sangat terpukul dengan apa yang terjadi, jatuh di sofa.
"Mamah," panggil Alexa dan Arka bersamaan saat melihat Yumna jatuh ke sofa, kemudian menangis.
"Mamah kenapa? kenapa nangis?" tanya Arka sambil mengelus rambut panjang mamahnya itu.
Angel dan Bayu pun ikut menghampiri Yumna. "Kamu kenapa Yumna?" tanya Bayu khawatir.
"Aku cuma merasa kecewa dan merasa bersalah aja Mas," lirih Yumna sambil menangis tergugu.
Yumna benar-benar merasa bersalah pada semua anggota keluarga, terutama Arka.
"Kenapa Mamah, ngomong gitu? Mamah nggak salah kok, wanita itu aja yang nggak waras," kata Arka.
"Iya sayang, kamu nggak usah merasa bersalah gini dong, karena kamu itu nggak salah. Semua ini udah takdir dan yang berlalu biarlah berlalu, yang penting semuanya sudah jelas kan," tutur David.
"Iya Yumna, kamu jangan merasa bersalah atau apa itu sendiri, kamu udah melakukan yang terbaik kok." Bayu menimpali ucapan David, karena dia merasa memang tidak ada yang perlu merasa bersalah atas semua yang terjadi.
"Abang serius mau ceraiin Nia?" Alexa bertanya pada Arka.
"Seriuslah ... Kamu tau sendiri kan? sebenarnya dari awal Abang emang udah nggak mau nikah sama Nia," jawab Arka dengan nada ketus.
Arka yang sedang duduk di bawah lantai sambil memegangi lutut Yumna, bangkit dan berdiri di hadapan Bayu dengan kikuk.
"Eeemmm ... Uncle, boleh nggak aku tau di mana Ayarra?" tanya Arka dengan menundukkan kepalanya karena merasa gugup.
Meskipun dia tidak bersalah tapi apa yang Arka lakukan kemarin tentu menyakiti hati Ayarra dan keluarga. Oleh karena itu Arka merasa gugup saat bertanya tentang Ayarra.
__ADS_1
"Kenapa kamu nanyain Ayarra?" tanya Bayu memasang wajah sedatar mungkin.
"Eeemmm ... Itu a-a-ku ... Em cuma tanya aja sih," jawab Arka terbata, kemudian dia kembali duduk di bawah Yumna.
Sontak hal itu diam-diam membuat Bayu dan Angel terkekeh. "Ayarra ada di rumah opah di Jerman," papar Bayu.
Arka langsung bangkit dari duduknya dan kembali berdiri tepat di hadapan Bayu, "Uncle, kenapa jawab?" kata Arka spontan.
"Lah tadi kan kamu tanya," ucap Bayu.
"Apa itu artinya aku boleh temui Ayarra?" Arka kembali bertanya untuk memastikan.
Bayu tersenyum dan mengangguk. "Bawa Ayarra kembali ke sini."
"Apa? ini serius?" pekik Arka. Melihat anaknya yang sangat bahagia Yumna dan David pun ikut tersenyum sumringah. Begitu juga dengan Alexa, dia ikut merasa senang.
"Abang kan belum bersiap dek," ujar Arka.
"Aku bantuin deh Bang, biar cepet, mau bantuin apa? urus pasport? Mengemas baju? atau apa?" timpal Yuda menawarkan diri untuk membantu Arka.
"Tapi Arka, gimana sama hubungan kamu dan Nia? Tante nggak mau nanti Ayarra disalahkan atas perceraian kalian." Angel bertanya tentang apa yang ada dalam pikirannya.
"Kalau soal perceraian aku sama Nia, nanti satu jam lagi aku akan telepon temen yang papahnya hakim di pengadilan agama. Aku mau minta dia untuk bantu soal ini, dan Tante tenang aja, aku janji Ayarra nggak akan kena masalah soal ini," tutur Arka menjelaskan.
"Tapi apa kamu yakin?" tanya Angel.
"Yakin Tante! Tante tau sendiri kan yang terjadi di sini tadi, aku juga nggak akan sanggup bertahan. Dan lagi pula, siapa tadi laki-laki itu?" kata Arka seraya mengingat nama Fathan.
__ADS_1
"Fathan," timpal Bayu.
"Nah iya Fathan, dia kan ayah dari janin yang Nia kandung, dan keliatannya dia cinta sama Nia," sambung Arka, semua orang pun mengangguk setuju dengan ucapan Arka.
Fathan memang terlihat sangat mencintai Nia, perjuangannya untuk membuktikan bahwa janin yang sedang Nia kandung itu adalah anaknya sangatlah besar.
Belum lagi selama ini Fathan memang terkenal sangat baik, sopan dan dingin pada wanita. Namun tadi, dia terlihat sangat menjaga dan melindungi Nia. Sudah jelas jika Fathan sangat mencintai Nia.
***
Di rumah sakit.
Fathan membopong tubuh Nia bridal, menuju ke UGD dengan wajah panik. Dian memanggil para perawat dan dokter jaga dengan sedikit berteriak.
"Suster, Dokter, tolong periksa istri saya! dia lagi hamil, saya takut dia dan kandungannya kenapa-kenapa," teriak Fathan.
Beberapa perawat yang mendengar itu langsung menghampiri Fathan sambil membawa brankar kosong. "Tolong secepatnya periksa Dok!" titah Fathan.
Fathan merasa sangat panik saat melihat Nia tidak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat pasi.
'bertahanlah Nia, aku mohon! kalau kamu nggak bertahan, aku nggak akan memaafkan kesalahanku sendiri,' batin Fathan sambil menatap sendu Nia yang dibawa masuk ke UGD oleh perawat.
Wajah Fathan benar-benar terlihat sangat khawatir.
"Bukan ini yang aku mau, aku cuma mau semuanya tau kalau anak itu milikku, tapi bukan begini," gumam Fathan dengan lirih.
"Yang sabar Pak, kita doakan saja semoga mbak Nia dan anak kalian, nggak kenapa-kenapa." Andrian menimpali Fathan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...