
Malam ini langit terlihat bersinar terang, seperti hati Arka yang sedang bahagia. Pasalnya sudah lama sekali Arka tidak lama pergi berjalan-jalan bersama Ayarra seperti malam ini.
Hampir setiap Arka ingin berduaan dengan Ayarra dia pasti ingin membawa Nia bersama mereka. Atau Yuda yang selalu mengganggu mereka.
"Lho, ini kita mau ke mana Ka?" tanya Ayarra bingung, karena ini bukan jalan menuju ke rumahnya.
"Kita pergi jalan-jalan dulu ya sayang," jawab Arka.
"Tapi ini kan udah malam," gumam Ayarra.
"Nggak apa-apa sebentar aja kok, aku mau nunjukin sesuatu ke kamu," kata Arka.
Tak berselang lama mereka pun sampai di sebuah pantai. Ayarra turun dari motor itu sambil tersenyum menatap pantai.
"Aku baru tau kalau pantai akan terlihat lebih indah kalau malam," ucap Ayarra.
Arka tersenyum kemudian dia menggenggam tangan Ayarra dan mereka berjalan untuk menyusuri pantai. Embusan angin, suara deburan ombak membuat pikiran tenang. "Udah lama kan kita nggak ke pantai?" tanya Arka.
"Iya, udah lama banget, kalau nggak salah terakhir kita ke sini itu pas ulang tahun Alexa, kan?"
"Iya, dan saat itu juga aku ngungkapin cinta ke kamu," ujar Arka membuat langkah Ayarra terhenti.
"Apa maksud kamu hari ini, hari jadi kita?" tanya Ayarra.
"Kamu beneran lupa? aku pikir kamu cuma pura-pura lupa. Ternyata lupa beneran." Arka merengut sambil melepaskan genggaman tangannya.
Hal itu membuat Ayarra merasa tidak enak hati, dia pun kembali menggenggam tangan Arka seraya berkata. "Maafin aku Ka, nggak ada niat aku buat melupakan hari jadi kita, tapi kamu kan tau sendiri aku emang pelupa."
"Arka, kamu marah sama aku? jangan marah dong! Please!" Ayarra memegang tangan Arka sambil mengelusnya pelan.
Hal itu membuat Arka tersenyum, ini kali pertamanya Ayarra berani menggenggam tangan Arka tanpa diminta.
"Arka, aku bener-bener minta maaf, aku---."
"Iya nggak apa-apa, yaudah ayok kita jalan lagi aku mau nunjukin sesuatu ke kamu," potong Arka.
Lalu, dia menggenggam tangan Ayarra untuk membawanya ke suatu tempat. Mereka berjalan sambil bergandengan.
Sampai disuatu tempat Arka berhenti, dan tiba-tiba lampu kelap-kelip menyala di setiap pohon dan ada pula lampu besar bergambar hati.
Sungguh pemandangan yang indah, ditambah dengan beberapa gambar Ayarra yang tergantung di atas mereka membuat pemandangan indah itu semakin sempurna.
__ADS_1
Di dekat lampu bergambar hati itu ada karpet yang tergelar di sana, dengan beberapa makanan tersaji di atas karpet itu.
Ayarra merasa terharu, dia melepaskan genggaman tangan Arka, dan berjalan untuk menyentuh foto-foto yang keliatannya diambil secara diam-diam itu.
"Itu foto-foto aku ambil secara diam-diam waktu kamu sering main ke rumah tapi nggak pernah nyapa aku," terang Arka saat Ayarra sedang menyentuh foto-foto itu.
Ayarra yang tengah merasa bahagia hanya tersenyum menanggapi ucapan Arka, dia terlalu bahagia sampai-sampai dia meneteskan air mata ketika melihat itu semua.
"Kok malah nangis?" kata Arka sambil menghapus air mata Ayarra.
"Bagus banget pemandangannya, kamu nyiapin ini buat aku?" tanya Ayarra pada Arka, membuat Arka melotot.
"Bukan, ini buat jin yang ada di sini," jawab Arka ketus.
Melihat Arka yang seperti kecewa dengan pertanyaan membuat Ayarra terkekeh, kemudian dia menghambur memeluk Arka.
"Hehehe jangan ngambek dong aku kan cuma nanya," kata Ayarra.
"Lagian ada-ada aja."
"Makasih ya," ucap Ayarra tulus masih dengan memeluk Arka.
Ayarra yang mendengar kata menikah tiba-tiba saja pipinya merona, jika sudah membicarakan pernikahan Ayarra merasa malu, karena tidak pernah terpikirkan olehnya kalau dia akan menjadi pacar Arka.
Sebenarnya Ayarra juga sudah mencintai Arka dari dulu, tapi dia selalu menepisnya, makannya saat Arka menyatakan cinta dia langsung menjawab iya.
"Ay."
"Hmmm."
"Aku sayang banget sama kamu, dan aku harap kamu juga rasakan hal yang sama. Aku juga berharap kamulah cinta pertama dan terakhirku. Menjadi ibu dari anak-anakku, menemaniku sampai akhir hayat," kata Arka masih dengan memeluk Ayarra.
"Aamiin, aku juga berharap hal yang sama. Aku berharap hanya aku yang ada di hati kamu sampai kapanpun," jawab Ayarra.
Arka mengecup puncak kepala Ayarra kemudian melepaskan pelukannya dan mengajak Ayarra untuk duduk di karpet merah.
"Tapi kapan kamu nyiapin ini semua?" tanya Ayarra lagi.
"Kepo amat sih."
"Dih kamu mah, aku kan cuma tanya." Ayarra kesal karena Arka di bilang kepo.
__ADS_1
"Hahaha intinya demi kamu aku bisa lakuin apa pun," jawab Arka membuat Ayarra tersenyum.
"Yaudah makan dulu!" Arka menyodorkan piring berisi makanan kesukaan Ayarra, dan mereka pun makan dalam diam.
Satu jam kemudian, setelah makan malam romantis dan berbincang-bincang sebentar di sana Ayarra mengajak Arka pulang.
"Pulang yuk!" Ayarra berdiri dan menarik lengan Arka. Namun, Arka malah menarik lengan Ayarra hingga membuatnya terjatuh di atas tubuh Arka.
"Arka lepasin! ih apa-apaan sih." Ayarra berusaha berontak.
Arka hanya tersenyum dan membalikkan tubuhnya hingga kini Ayarra yang berada di bawahnya.
Lalu, Arka mencium dan melu*mat bibir Ayarra dengan lembut, tapi saat dirasa Ayarra tidak membalas.
Arka menggigit bibir Ayarra pelan agar Ayarra membalas ciu*man mereka, dan Arka langsung memperdalam ciu*mannya dengan menarik tengkuk Ayarra.
Saat mereka tengah asik berbagi saliva, disaksikan oleh bulan dan bintang, tiba-tiba saja ponsel Ayarra berdering.
Membuat Arka mau tidak mau melepaskan ciu*mannya dan duduk disamping Ayarra.
"Ya, hallo Uncle."
📞"Arka, apa Ayarra, ada sama kamu?" tanya Bayu di sebrang sana.
"Ada kok Uncle, emangnya kenapa?"
📞"Oh, syukurlah, Uncle, kira dia ke mana tadi, soalnya nelpon Nia, jawabannya udah pulang."
"Aku lagi ajak Ayarra, ke pantai Uncle, tapi bentar lagi pulang kok."
📞"Oh yaudah, hati-hati nanti pulangnya ya!"
"Iya, Uncle, aku janji akan hati-hati." Setelah mengatakan itu sambungan telepon pun terputus.
"Papah?" tanya Ayarra.
"Iya, yaudah ayok kita pulang," jawab Arka seraya bangkit dari duduk dan membantu Ayarra untuk berdiri.
Arka merapikan rambut Ayarra yang sedikit berantakan itu, Kemudian dia menggenggam tangan Ayarra dan mereka pun pergi dari pantai itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1