
Nayla, kamu lagi ngapain?" tanya Yumna yang baru saja keluar dari kamar mandi. Mata Yumna, melirik pada tangan Nayla, yang memegang foto dia dan David.
"Eh, anu Mbak, aku disuruh Mamah, manggil Mbak, katanya Mbak udah siap belum," jawab Nayla, dengan kikuk.
"Oh, ini bentar lagi kok, tinggal pake baju berdandan sebentar terus siap." Yumna berjalan mengambil baju pengantin sederhananya yang ada di atas kasur.
Nayla, melirik Yumna, saat dia mengambil baju itu. "Kamu kenapa masih ada di sini?" tanya Yumna pada Nayla.
"Mbak nggak butuh bantuankah?" Nayla bertanya, sambil menaruh foto yang tadi dia pegang.
"Nggak usah, karena aku bisa sendiri," jawab Yumna singkat dan terdengar dingin pada Nayla.
"Kalau begitu aku permisi dulu Mbak." Nayla pamit sambil berjalan meninggalkan Yumna, yang memunggunginya.
Sepeninggal Nayla, Yumna, langsung bersiap-siap. Namun, saat Yumna, tengah bersiap ponselnya berdering sangat kencang, Yumna, melirik sebentar lalu kembali melanjutkan aktifitasnya. Dia ingin mengerjai si penelpon yang tak lain adalah David. Yumna, yakin di sebrang sana David, pasti uring-uringan saat telponnya tidak diangkat.
Yumna, memakai pakaiannya dan memoles wajahnya sedikit, ini pernikahan yang sederhana hanya ijab qobul yang akan mereka lakukan. Jadi, Yumna tidak perlu makeup terlalu tebal, setelah semuanya siap Yumna, pun keluar dari kamarnya.
Ketika dia menuruni anak tangga dia langsung tersenyum saat melihat Arka, sudah sangat rapih dan terlihat menggemaskan. Arka, memakai kemeja warna putih dengan dasi kupu-kupu membuatnya terlihat sangat manis dan imut. Arka, tengah bermain kejar-kejaran bersama Indra, Papah Yumna, itu juga terlihat sangat tampan dan muda, pantas saja banyak orang yang mengira kalau umur Indra, masih 30 tahun padahal umurnya sudah setengah abad.
Namun, sepertinya Indra, masih saja betah menduda. Tidak ada niatan untuk Indra, menikah kembali. Jangankan menikah lagi, berpacaran pun dia enggan, sepertinya Lusi telah singgah di relung hati Indra, yang paling dalam dan tinggi. Hingga sulit bagi Indra melupakan Lusi bahkan sampai detik ini.
"Mamah," panggil Arka lalu langsung memeluk kaki jenjang Yumna.
"Mamah cantik," sambung Arka, ketika melihat wajah Yumna, hal itu sukses membuat semua orang terkekeh geli mendengarnya. Kecuali Bayu, sedari tadi dia terlihat sangat murung bahkan dia terlihat sangat lesu.
"Sudah siap sayang?" tanya Indra dan Yumna, mengangguk.
"Yaudah, ayok semuanya kita berangkat sekarang, dari tadi David, sudah menelpon sepertinya dia sudah tidak sabar bertemu dengan tuan putri," sambung Indra membuat Yumna tersenyum.
Lalu Indra, jalan lebih dulu diikuti yang lain termasuk Yumna dan Bayu, saat Yumna hendak melangkahkan kakinya Bayu menarik pergelangan tangan Yumna hingga wajahnya menabrak dada bidang Bayu.
Yumna terkejut dan berontak tapi Bayu mengelus rambut panjang Yumna yang diikat sambil berbisik. "Please Yumna, biarkan aku memelukmu sekali ini saja, anggap saja ini perpisahan untuk kita. Kamu tau Yumna, aku sangat mencintaimu tapi aku nggak bisa memaksakan kamu untuk menerima cintaku. Aku akan mencoba untuk ikhlas walaupun sebenernya ini sakit, karena kamu sudah masuk dan singgah di hatiku yang terdalam. Sekarang aku hanya bisa berharap kamu bahagia bersamanya, maafkan aku Yumna jika aku punya salah selama ini," tutur Bayu dengan lirih.
Yumna terdiam mendengarkan apa yang Bayu ucapkan, tanpa terasa buliran air mata jatuh. Dia merasa sedikit bersalah pada Bayu, tapi mau bagaimana lagi, hatinya tidak bisa berbohong dia mencintai David. Walaupun selama ini Bayu-lah yang selalu ada untuknya, tapi hati tidak bisa dibohongi bukan.
Hati Yumna sudah terpaut dengan David, lagi pula mereka punya Arka yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bayu, melepas pelukannya dan menghapus buliran air mata Yumna.
"Kenapa nangis? Kamu nggak boleh nangis, nanti cantiknya ilang," ucap Bayu, membuat Yumna terkekeh dan mencubit perutnya.
"Aaawww, sakit tau," ujar Bayu.
"Biarin," jawab Yumna. Bayu, tersenyum melihat wajah cantik Yumna. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Yumna, dengan penuh kasih sayang.
"Ayok!" Bayu, langsung menarik tangan Yumna.
Lalu, mereka pun pergi menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan mereka terkekeh mendengar semua celoteh Arka, dan tanpa sadar mereka pun telah sampai di rumah sakit tempat David, di rawat.
__ADS_1
Bayu, turun lebih dulu lalu mengulurkan tangannya pada Yumna, Indra, yang melihat itu tersenyum. Yumna, menerima uluran tangan Bayu lalu berjalan beriringan memasuki rumah sakit tersebut.
Semua mata memperhatikan Yumna dan Bayu, yang terlihat sangat serasi di mata orang awam. Mereka berpikir jika Yumna dan Bayu, adalah pengantin yang akan menikah di rumah sakit ini, karena mereka terlihat seperti raja dan ratu.
Sesampainya di ruang rawat inap David, Indra masuk lebih dulu baru disusul yang lainnya. Dsvid, langsung tersenyum bahagia saat melihat sang pujaan hati masuk, di sana sudah ada keluarga Wijaya dan keluarga Broto, serta penghulu dan Adit.
Adit, sempat terkejut saat melihat Nayla, tapi sedetik kemudian dia merubah raut wajahnya. Namun, matanya tetap mengikuti setiap pergerakan Nayla, ada rasa aneh yang kembali dia rasakan saat melihat wanita ini. Namun, Adit sendiri tidak tau apa itu, karena sebelumnya dia tidak pernah merasakan ini.
'kenapa dia semakin cantik,' batin Adit saat menatap Nayla.
Nayla, sendiri hanya diam menunduk, wajahnya terlihat sangat tidak bersemangat. Rani, yang paham dengan apa yang Nayla, rasakan dia langsung mengelus punggung tangan Nayla.
"Sudah ada semua, Pak, silahkan dimulai!" ucap Panji. Pak Penghulu tersenyum lalu mulai berdoa sebelum memulai ijab Kabulnya. Setelah itu pak penghulu memerintahkan Indra untuk berjabat tangan dengan David. Ya, kali ini Indra yang akan menikahkan Yumna dan David.
"Saya Nikahkan dan saya Kawinkan engkau ananda David Putra Wijaya bin Panji Wijaya dengan anak saya yang bernama Yumna Saputri dengan mas kawin berupa uang sebesar tiga puluh USD dibayar TUNAI!"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Yumna Saputri binti Indra Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"
"Bagaimana para saksi? SAH?!" tanya Pak penghulu.
"SAH!" seru semua yang menyaksikan termasuk Bayu.
"Alhamdulillah," ucap Pak Penghulu, lalu kembali mengucapkan doa untuk kedua mempelai pengantin.
"Yumna, sekarang cium tangan suamimu!" ucap Pak Penghulu. Yumna, tersenyum lalu dia mencium punggung tangan David, sedangkan David langsung mencium kening Yumna dengan doa yang dia panjatkan dalam hati.
Dia akan mencoba melupakan Yumna, dan mungkin nanti dia akan meminta ijin pada Indra untuk tinggal di Jerman.
Berbeda dengan Nayla, yang memilih untuk pergi dari sana. Yumna sempat melirik pada David, seolah bertanya melalui tatapan matanya itu, tapi David malah tersenyum pada Yumna.
Rani, yang melihat Nayla, pergi pun langsung berpamitan untuk menyusul Nayla pada yang lain, dengan perasaan tidak enak Rani pergi dari sana untuk mencari Nayla.
Rani mencari Nayla di sekitaran taman yang ada di rumah sakit ini, dan bibirnya langsung membentuk senyuman saat melihat Nayla tengah duduk di sana dengan telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Sayang," panggil Rani, Nayla, langsung mendongak dan memeluk perut Rani.
"Nayla, nggak kuat Mah, Nayla gak bisa liat orang yang Nayla cintai menikah dengan orang lain, kalau tau begini lebih baik Nayla, beritahukan pada Mbak Yumna, kalau David itu ayahnya Nada," lirih Nayla.
"Sayang, sebelum hari ini mereka memang sudah sepasang suami istri, kamu harus ingat itu," jawab Rani dengan nada tegas. Dia sama sekali tidak mau jika Nayla, mengikuti jejaknya. Menghalalkan segala cara hanya demi cinta yang sampai kapanpun tidak akan berbalas. Sudah cukup Rani, menanggung sesal yang mendalam seperti ini.
"Sayang, jangan pernah kamu berpikir untuk merebut apa yang bukan hak mu, itu tidak baik sayang," tutur Rani sambil mendudukkan tubuhnya di samping Nayla.
"Kenapa? Apa karena Mamah, masih merasa bersalah soal Tante Lusi? Mamah yang salah waktu itu kenapa aku yang harus tanggung," ketus Nayla. Dia geram lagi-lagi dia harus mengalah hanya karena masalalu orang tuannya.
"Mamah yang bodoh karena tidak bisa merebut hati Om Indra, kenapa aku yang harus mengalah, aku dan David sudah pernah berbagi keringat dan kenikmatan tentu saja itu berbeda dengan Mamah," sambung Nayla membuat orang yang mendengarnya merasakan sesak di dadanya.
Kepalanya terasa pusing, penglihatannya jadi berkabut dan orang itu pun jatuh pingsan. Rani, yang mendengar suara benda jatuh langsung menoleh ke belakang dan matanya membola saat melihat Yumna sudah terkapar di rerumputan.
__ADS_1
"Yumnaaaaa." Rani langsung menghampiri Yumna dan mengguncang kedua pipinya.
"Yumna, sayang, bangun nak." Yumna tak kunjung sadar, dan hal itu membuat Rani merasa bersalah. Dia takut jika Yumna mendengar semua yang dia dan Nayla bicarakan tadi.
"Tante, Yumna kenapa?" tanya Adit yang baru saja datang.
"Tante nggak tau, pokoknya bantu bawa Yumna ke dalam, cepat!" jawab Rani.
Adit, mengangguk lalu dia langsung membopong tubuh Yumna, membawanya ke dalam kamar rawat inap David. Kebetulan di sana hanya ada keluarga Wijaya dan keluarga Broto saja, karena bapak Penghulu sudah pulang.
Mata David, terbelalak saat melihat Yumna di bopong oleh Adit. "Adit, Yumna kenapa?" tanya David khawatir.
"Gua nggak tau, tadinya gua mau ke kantin, tapi pas gua jalan gua liat dia udah pingsan," jawab Adit, sambil membaringkan Yumna di brankar milik David.
"Panggil Dokter! Cepat!" David memerintahkan Adit untuk memanggil dokter.
Adit, mengangguk dia berjalan keluar. Tak berselang lama, Adit sudah kembali beriringan dengan Dokter yang dia panggil.
"Dok, tolong istri saya," ucap David.
"Iya, yang lain bisa tolong keluar sebentar!" tutur sang Dokter, Panji, Indra, Rani, Nayla, Adit, Broto, Mira, Brian dan Diana pun berjalan Keluar.
Sedangkan David, diam menunggu karena dia juga pasien di rumah sakit ini. David memperhatikan Yumna dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena mengkhawatirkan kondisi istrinya itu.
"Bagaimana istri saya dok? Dia kenapa?" tanya David.
"Dia tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan," jawab sang Dokter membuat David sedikit bingung.
"Bagaimana mungkin tidak kenapa-kenapa tapi bisa pingsan begini Dok?" tanya David lagi dengan nada tinggi.
"Tapi, memang seperti itu, Pak, mungkin beliau hanya kelelahan atau terkejut akan sesuatu?" jawab sang Dokter.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih," ujar David. Dokter itu mengangguk kemudian berjalan keluar, lalu mereka pun kembali masuk.
"David, Yumna kenapa?" tanya Ajeng.
"Dokter bilang dia nggak kenapa-kenapa Mah," jawab David sambil membelai rambut Yumna lembut.
"Ada yang bisa jelaskan kenapa Yumna pingsan?" tanya David dengan nada dingin menatap Adit, Rani, dan Nayla dengan tajam.
"Em-- i-tu, sepertinya dia mendengar..." ucapan Nayla terpotong saat melihat gelengan dari Rani.
"Mendengar apa?" ketus Diana.
"Mendengar kalau aku bicara soal aku dan David," jawab Nayla dengan tatapan tak kalah tajamnya pada semua orang.
"Apa-apaan kamu hah?" teriak David.
__ADS_1
BERSAMBUNG