Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 192


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Nia berniat untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya, mereka sudah membuat janji untuk cek kandungan bersama. Namun, saat Nia membuka pintu, dia dikejutkan dengan kehadiran Fathan.


Nia terkejut sampai terhuyung, dan hampir terjatuh. Untungnya dengan sigap Fathan menahan pinggang ramping Nia.


"Hallo malam pertamaku," ujar Fathan dengan satu mata dia kedipkan.


"Lepasin aku sebelum ada orang!" Nia mencoba melepaskan tangan Fathan yang masih melingkar di pinggangnya.


Fathan melepaskan tangannya sambil terkekeh. "Kamu takut ketauan orang? memangnya kita lagi ngapain?" goda Fathan.


Nia yang merasa sudah salah bicara hanya bisa diam, dan mengedarkan pandangannya. Dia takut jika ada yang mendengar obrolannya bersama Fathan.


"Kamu ngapain ke sini? aku kan udah bilang, kejadian malam itu nggak meninggalkan apa pun," tanya Nia.


"Apa aku ke sini untuk menanyakan hal itu? aku ke sini karena dipinta oleh bapak Bayu, tapi kenapa kata-kata kamu terasa sangat ambigu ya." Fathan berpura-pura berpikir, seraya melirik Nia.


Lagi dan lagi Nia yang merasa sudah salah lagi dalam bicara, meneguk salivanya, dan mundur satu langkah saat Fathan mendekatinya.


"Aku yakin ada yang kamu sembunyikan, dan aku berani jamin akan cari tau soal itu," bisik Fathan pada Nia dan kembali memberikan senyum smrik-nya.


Sebenarnya Fathan sudah tahu akan dua hal tentang Nia, yaitu Nia pernah membeli obat tidur 1 bulan lalu, lebih tepatnya saat pesta antar kolega itu dilaksanakan.

__ADS_1


Hari itu Fathan memang tidak hadir di pesta itu, tapi dia tau dari temannya di kantor, jika pada malam itulah Nia dan Arka bermalam bersama karena keduanya mabuk berat dan karena hal itulah Arka dimintai untuk tanggung jawab. Sebab Nia hamil.


Mendengar penuturan temannya itulah Fathan mulai mencari tau soal Arka, dan seperti yang sudah dia duga, jika Arka sangat mencintai Ayarra, dan Arka juga terkenal biasa mabuk bersama Yuda sang sepupu di salah satu club milik temannya Neil.


Fathan berpikir jika bagaimana mungkin orang yang biasa mabuk, akan hilang kesadaran saat dia hanya meminum satu gelas koktail, Fathan berpikir jika ada yang tidak beres dengan malam itu.


Setelah mencari tau soal Arka, kemudian Fathan mencari tau soal Nia, dan Fathan terkejut saat dia menemukan buku diary Nia, karena buku itu menceritakan semua tentang Arka.


Bahkan ada satu lembar puisi yang menceritakan soal cintanya pada Arka, dan hal itu membuat Fathan semakin yakin jika Nia menyembunyikan sesuatu dan merencanakan sesuatu.


Akan tetapi Fathan belum tau apa yang Nia sembunyikan dan apa yang Nia cari.


"Selamat pagi Pak David." Fathan menyapa David dan berjalan menghampirinya, meninggalkan Nia yang masih bergeming mencerna ucapan Fathan.


Saat melihat Fathan dan David pergi entah ke mana, Nia pun memutuskan untuk pergi, karena Nayla sudah menunggunya di klinik yang akan mereka datangi.


Sepanjang perjalanan menuju klinik, Nia selalu memikirkan ucapan Fathan, dia takut jika Fathan sampai tau jika anak yang tengah Nia kandung adalah anaknya.


***


"Jadi, ada perlu apa nih pagi-pagi banget kamu udah sampai sini?" tanya David pada Fathan.

__ADS_1


Saat mereka sudah duduk di ruang tengah. "Saya diminta Pak Bayu, untuk menyerahkan ini Pak." Fathan menyodorkan sebuah map berwarna biru pada David.


David menerima map tersebut dan membukanya, David membaca huruf demi huruf di map tersebut kemudian mengangguk paham.


"Baik, nanti jam dua belas siang saya mampir ke kantor untuk membahas projek ini," ujar David.


"Baik kalau gitu saya permisi dulu Pak," pamit Fathan.


"Hati-hati ya!" pesan David dan Fathan mengangguk.


Sesampainya di luar kediaman David, ponsel Fathan bergetar. Dia mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau tersebut, kemudian dia menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Ya hallo, gimana?" tanya Fathan pada seseorang disebrang sana.


"Dia masih nggak mau jujur Pak," jawab orang disebrang sana.


"Baiklah, biar saya yang urus nanti, tahan dia, dan jangan sampai lolos," ujar Fathan, kemudian mematikan sambungan telepon itu.


Seseorang yang barusan menelepon Fathan itu adalah informan Fathan.


Sebenarnya Fathan bukanlah siapa-siapa, dia tidak seperti Arka yang terlahir dari keluarga kaya. Namun, dengan jabatan dia sekarang dan gajih yang lumayan besar. Fathan bisa meminta bantuan dengan memberikan imbalan.

__ADS_1


Fathan rela melakukan ini, bukan hanya demi dia seorang, tapi juga demi Ayarra dan Arka, karena dia merasa berhutang budi ke pada David.


BERSAMBUNG...


__ADS_2