
Sepulang dari mengambil motornya yang berada di rumah temannya, Gilang berniat menjenguk Alexa ke rumah sakit.
Sebelum ke rumah sakit, Gilang membeli buah-buahan lebih dulu. Dia membeli beberapa buah dan makanan ringan untuk Alexa.
Ya sedikit banyak memang dia tau soal Alexa, tapi bukan dari Dimas. Melainkan dia sendiri yang selalu mencari tau soal Alexa.
Setelah Dimas mengenalkannya pada Alexa beberapa waktu lalu, Gilang mulai cari tau soal Alexa, dan dia sempat merasa kasihan pada gadis itu, saat Gilang tau jika Dimas hanya jadikan dia sebagai pelarian.
Sesampainya di rumah sakit, entah kenapa jantung Gilang tiba-tiba saja berdegup kencang dan berdebar-debar tidak karuan.
Gilang memegang da__danya seraya mengkerutkan kening. "Jantung gua kenapa tiba-tiba kayak gini ya?" batin Gilang.
Lalu, dia turun dari motor dan melangkahkan kakinya menuju ruang rawat inap Alexa.
Gilang menaiki lift dan menekan lantai 3, Gilang sempat merapikan pakaian dan rambutnya, dan tak berselang lama pintu lift pun terbuka.
Gilang tersenyum pada beberapa perawat yang masuk ke dalam lift, kemudian dia keluar dari lift tersebut.
Lalu, Gilang pun masuk ke dalam ruang rawat inap Alexa.
Alexa yang sedang fokus menonton televisi bersama David dan Yumna terkejut saat melihat Gilang datang menjenguknya.
__ADS_1
"Selamat siang semuanya, apa kabar?" sapa Gilang sopan.
"Eh, kamu kakaknya Dimas kan? Dan kamu juga yang bawa Alexa ke rumah sakit kan?" tanya Yumna antusias.
"Iya Tante, dan saya ke sini mau jenguk Alexa!" Gilang menjawab seraya menyodorkan buah yang tadi dia beli pada Yumna.
Yumna menerimanya dengan senang hati. "Repot-repot bawa beginian, kalau mau jenguk, jenguk aja! Nggak usah bawa buah-buahan segala, nggak apa-apa kok," tutur Yumna, seraya meletakkan buah-buahan itu ke atas nakas.
"Nggak apa-apa Tante, nggak ngerepotin kok, gimana keadaan Alexa Tante?" ujar Gilang, menatap kikuk pada Alexa. Sementara Alexa, menatapnya dengan tatapan tajam dan tidak suka.
"Ya Alhamdulillah, udah mendingan," jawab Yumna.
"Oh, syukurlah." Gilang mengucap syukur Alhamdulillah.
Gilang mengangguk, sedangkan Alexa diam saja. Bahkan dia memalingkan wajahnya setiap Gilang menoleh padanya.
Bukan karena dia dan Gilang memang tidak pernah akur, tapi kejadian semalam yang membuat dia semakin tidak suka pada Gilang.
***
Di tempat lain.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Nia hanya diam saja, dia memikirkan ucapan sang mamah tadi.
[Fathan itu orang baik, dia juga bertanggung jawab sama kamu. Kenapa kamu nggak membuka diri buat dia, dan kalian menikah. Lakukan semuanya demi anak yang lagi kamu kandung.]
[Mamah yakin, kalau kamu menikah sama dia, meskipun hidup kalian mungkin tidak mewah. Tapi kamu akan bahagia, karena dia sangat mencintai kamu sayang.]
Kata-kata Nayla selalu terngiang-ngiang, di dalam pikiran Nia, dan membuatnya dilema, satu sisi dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh mamahnya, tapi di sisi lain dia belum bisa menerima Fathan.
"Kamu ngelamunin apa?" tanya Fathan, sebab Nia melamun sejak pulang dari klinik tadi.
"Ah, nggak apa-apa," jawab Nia asal.
Fathan menoleh pada Nia, dan kembali fokus pada jalanan. "Jangan bohong, tapi kalau kamu nggak mau cerita ya nggak kenapa-kenapa sih," ujar Fathan.
Nia tersenyum kikuk. "Habis anter aku pulang, apa kamu langsung balik ke kantor?" tanya Nia.
"Iya,. karena belum selesai. Memangnya ada apa?"
"Nggak ada, aku cuma tanya aja."
Setelah itu mereka pun kembali diam, dan fokus dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
BERSAMBUNG...