Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Nia merindukan adit dan Nayla


__ADS_3

πŸ‘‹Hallo semuanya, apa kabar? Semoga semuanya baik ya, aamiin! πŸ™


Aku jelaskan dulu ya sebelum baca, ini semua murni hasil haluan aku. Kalau ada kesamaan, nama tokoh alamat dan lain-lain itu hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan.


Ok sekian dan terima gaji.




Hari ini adalah hari kedatangan Indra, Arka dan Ayarra ke Indonesia.



Yumna, David, Bayu, dan Angel saat ini tengah menunggu ke datangan mereka di bandara, Bayu dan Angel yang beberapa hari lalu mendengar tawa Ayarra ditelepon merasa tidak sabar ingin segera melihat wajah ceria anaknya lagi.



Sebab saat Ayarra pergi waktu itu, dia terlihat sangat murung, meskipun dia tersenyum di depan kedua orang tuanya. Namun, Bayu dan Angel sangat paham betul jika senyum itu karena terpaksa.



"Di mana sih mereka?" gumam Angel tidak sabar. Bayu terkekeh sambil mengelus rambut panjang Angel yang diikat itu.



"Sabar Mbak!" ucap Yumna dan mereka pun tersenyum bersama.



Tak berselang lama dari kejauhan mereka melihat, Ayarra dan Arka jalan beriringan sambil mendorong Indra menggunakan kursi roda.



Sontak semua orang langsung berdiri untuk menyambut Indra, Ayarra dan Arka.



"Sayang!" panggil Angel seraya memeluk tubuh Ayarra dan ngusap rambutnya pelan.



"Sayang, Mamah kangen banget sama kamu," ucap Angel.



"Aku juga kangen banget sama Mamah," sahut Ayarra.



"Anak gadis Papah." Bayu merentangkan kedua tangannya agar Ayarra memeluknya.



Ayarra tersenyum dan memeluk Bayu. "Gimana kabar kamu sayang? apa kamu banyak makan di sana? kamu nggak ngerepotin Opah kan?" Bayu mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.



"Hahaha aku baik Pah, jadi apa yang aku harus jawab dulu? Papah nanya-nya banyak banget," keluh Ayarra dan semua orang pun terkekeh.



"Papah gimana kabarnya? aku seneng banget pas Arka bilang kalau Papah, pingin ikut ke Indonesia lagi." Yumna berjongkok di hadapan Indra dan menanyakan kabar Indra.



"Papah, baik. Kamu apa kabar sayang?" tanya Indra.



"Aku juga baik."



"Di mana Alexa?" tanya Indra karena tidak melihat cucunya yang paling cantik dan sangat cerewet itu.



"Dia sekolah Pah," jawab David dan Indra mengangguk paham.



"Yaudah kita langsung pulang aja yuk! Kalian pasti capek," usul David yang diangguki oleh Yumna dan yang lain.



"Kalau gitu Om, aku sama keluargaku langsung pamit aja ya!" kata Bayu berpamitan pada Indra.



"Nggak, kalian ikut ke rumah David dong! Masa ada Om di sana kalian malah pulang," protes Indra.



Bayu melirik ke arah Angel dan Ayarra, dan Angel pun mengangguk menyetujui ajakan Indra untuk kumpul di rumah Yumna.



Lalu, mereka pun pergi dari bandara menuju ke rumah David, para orang tua jalan lebih dulu. Sementara Arka dan Ayarra jalan di belakang mereka sambil bergandengan tangan.



\*\*\*



Setengah jam kemudian mereka pun sampai, dan sesampainya di rumah, mereka pun turun satu persatu kemudian masuk ke dalam rumah.



Indra menatap sekeliling perkarangan rumah itu penuh rindu. "Nggak ada yang berubah, ternyata semuanya masih sama," gumam Indra seraya melangkahkan kakinya diikuti oleh yang lain.



Mereka duduk di ruang tamu, dan kemudian asisten rumah tangga membawakan air dingin untuk mereka.



"Terima kasih Mbak!" ucap Yumna.


__ADS_1


"Sama-sama Nyonya." Setelah mengatakan itu sang asisten rumah tangga pun pergi.



Indra mengedarkan pandangannya dan tersenyum saat melihat sebuah foto keluarga yang besar tergantung di sana.



Di foto itu ada Yumna, David, Arka, Indra dan Alexa yang masih bayi, mereka semua serempak memakai baju putih.



"Nanti tinggal tambahin Ayarra aja di sana, atau kita buat baru?" celetuk Indra sambil menunjuk foto tersebut.



"Jadi kapan pernikahan kalian akan dilangsungkan?" tanya Indra kemudian pada Arka dan Ayarra.



Ayarra hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Arka terlihat bingung harus jawab apa.



"Ditanya kok malah pada diem!" kata Indra.



"Tapi Om, Arka dan Nia baru aja cerai, apa nggak kecepatan kalau mereka---."



"Arka dan Nia menikah kan karena sebuah kebohongan, jadi kayaknya nggak apa-apa. Lagi pula, kemaren Om liat mereka udah dekat, bahkan Arka udah kasih cincin ke Ayarra." Indra memotong ucapan Bayu.



Bayu dan Angel spontan langsung melihat ke arah Ayarra saat mendengar ucapan Indra. Memang benar Bayu mengijinkan Arka untuk menemui Ayarra, tapi dia tidak menyangka kalau anak itu akan secepat ini dalam mengambil keputusan.



"Arka?" Yumna memanggil Arka seolah meminta jawaban atau keputusan dari Arka sendiri.



"Aku nggak peduli sama omongan orang Mah, yang penting statusku bukan suami orang lagi. Jadi, aku mau secepatnya menikahi Ayarra." Arka menjawab dengan tegas dan lantang.



Semua mata saling pandang setelah mendengar jawaban Arka. Mereka meminta pendapat satu sama lain lewat pandangan itu, dan serempak mereka pun menganggukan kepalanya.



Arka dan Ayarra pun tersenyum saat melihat anggukan dari kedua orang tuan mereka.



"Kita urus pernikahan kalian secepat mungkin ya!" Bayu mengusap punggung Arka lembut.



\*\*\*




Di rumah Fathan yang cukup sederhana Nia sedang duduk menunggu kepulangan Fathan dari kantor.



Nia ingin bertanya soal kedua orang tuanya, karena mereka kini tidak saling berkabar setelah kejadian waktu itu. Nia takut jika terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya, karena semalam dia memimpikan kedua orang tuanya, dan itu membuatnya merindu.



Entah seperti apa hubungan Nia dan Fathan saat ini dan yang akan terjadi ke depannya, yang jelas sekarang Nia memang membutuhkan tempat untuk bernaung. Sebab sudah tidak ada lagi yang peduli padanya, termasuk teman-temannya.



Maka dari itu seperti apa hubungan mereka nanti, biarlah itu urusan nanti, yang terpenting bagi Nia saat ini hanyalah kesehatan janin yang dia kandung. Sebab setelah dia mogok makan tempo hari, dia sempat merasakan kram dan kontraksi dini, dan sekarang dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.



Didikan Fathan yang tegas tapi sangat lembut mampu membuat Nia perlahan berubah menjadi lebih dewasa. Nia pun mulai bisa menerima semua keadaan ini, meskipun belum bisa menerima Fathan, dan masih menganggap laki-laki itu hanyalah orang asing.



Lama Nia menunggu akhirnya mobil Fathan yang baru dibeli beberapa hari lalu memasuki perkarangan rumah. Fathan ke luar dari dalam mobil sambil mengkerutkan kening saat melihat Nia dengan baju dan celana pendek duduk di luar. Padahal udara saat ini sangat dingin.



"Nia, kamu ngapain di luar? apa kamu nggak ngerasain udaranya dingin banget," tanya Fathan seraya melepaskan jas-nya dan memakaikannya pada Nia.



Nia terperangah melihat jaraknya dan Fathan yang begitu dekat, juga dengan segala perhatian-perhatian kecil yang Fathan berikan.



Nia sampai bergeming dan tidak menjawab pertanyaan Fathan. Fathan pun menyenggol bahu Nia pelan. "Eh itu ... Emmm aku mau tanya kabar mamah sama papah," jawab Nia.



"Kamu kangen hm?" Fathan kembali bertanya dan Nia mengangguk lemah.



"Mau aku antar main?" tawar Fathan membuat Nia menoleh padanya dengan bibir yang terbuka karena terkejut atas tawaran Fathan. Pasalnya selama ini Fathan selalu melarang dia untuk ke mana pun.



"Kenapa kaget? kalau kamu mau ketemu, ayok aku antar! kita main ke rumah pak Adit," kata Fathan. Namun, Nia hanya bergeming sambil memikirkan kembali ucapan Adit tempo hari yang memintanya untuk tidak pernah kembali.



"Kenapa? katanya tadi kangen?" Melihat Nia hanya diam, Fathan kembali bertanya.



"Kayaknya nggak usah deh, aku cuma mau tanya kabar mereka aja. Tapi nggak usah sampai main, karena mereka nggak akan terima aku," lirih Nia.


__ADS_1


Fathan tersenyum dan mengelus rambut Nia. "Belum coba belum tau," ucap Fathan sambil menarik pelan Nia dan membawanya menuju mobil.



"Kita mau ke mana?" tanya Nia bingung.



"Ke rumah kamulah, masuk!" Fathan menjawab sambil mempersilakan Nia untuk masuk ke dalam mobil dengan tangan yang dia letakkan di atas kepala Nia agar kepala itu tidak terbentur dinding pintu.



"Tapi kalau mereka marah dan nggak terima aku gimana?" tanya Nia dengan lirih setelah masuk ke dalam mobil.



"Ya kita pulang lagi, seenggaknya kamu udah melihat mereka kan?" jawab Fathan.



Lalu dia mengitari mobil bagian depan dan masuk ke dalam kursi pengemudi, dia sempat memberikan sebuah senyuman kecil pada Nia, sebelum menyalakan mobilnya.



\*\*\*



Di jalan, Nia terlihat sangat gelisah, dia selalu merapalkan doa dalam hati, agar kedua orang tuanya mau menerima kedatangannya.



Fathan melirik pada Nia dan tersenyum sangat manis, kemudian mobil itu pun menepi di pinggir jalan.



Nia bingung saat mobil itu berhenti, Nia menoleh ke kursi pengemudi dan ingin bertanya. Namun, Fathan tidak ada di tempat, kemudian Nia mengedarkan pandangannya ke depan.



Lalu, seulas senyuman yang sangat manis dan mengartikan ketenangan terbit di bibir mungil Nia, saat melihat Fathan tengah membeli beberapa buah-buahan di tepian jalan.



Tak lama Fathan pun kembali sambil membawa beberapa kresek buah-buahan.



"Aku nggak tau pak Adit dan Ibu Nayla, suka buah apa. Jadi, aku beli aja semuanya," ucap Fathan membuat Nia terkekeh.



"Kenapa ketawa?" tanya Fathan bingung. Namun, ada kesenangan tersendiri di hati Fathan saat melihat Nia tersenyum dan tertawa padanya.



"Kamu mau bawain mamah sama papah buah-buahan?" tanya Nia dan Fathan mengangguk.



"Ini namanya bukan bawain, tapi kamu nyuruh mamah dan papah, buat jualan," sambung Nia sambil menunjuk ke kresek yang dibawa Fathan.



"Memangnya kenapa?" ucap Fathan bingung.



"Hahahaha ini banyak banget tau, harusnya satu kilo aja cukup," jawab Nia. Masih dengan terkekeh.



Fathan yang menyadari kebodohannya pun ikut terkekeh. "Yaudahlah nggak apa-apa, ini aku pisahin jeruk ya, buat kamu di rumah." Fathan memisahkan satu kantong kresek kecil berisi jeruk untuk Nia.



"Kita lanjut lagi ya!" ucap Fathan dan Nia pun mengangguk.



Lalu Fathan pun kembali melanjutkan laju mobilnya dengan kecepatan sedang, Nia memutar musik untuk menghilangkan sedikit kesunyian di dalam mobil.



Ternyata musik yang kemudian berputar itu adalah musik kesukaannya, Nia pun ikut bersenandung kecil mengikuti lagu yang lagu yang berputar.



Sementara Fathan hanya bisa fokus dengan jalan dan sesekali tersenyum pada Nia yang juga senyum padanya.



Selama ini karena Nia terobsesi pada Arka, dia tidak pernah dekat dengan laki-laki mana pun. Sekalinya Nia dekat dengan laki-laki pasti akan ada Ayarra atau Alexa yang menemani, karena Nia tidak ingin berduaan dengan laki-laki lain kecuali Arka.



Fathan adalah laki-laki pertama yang bisa dekat dengan Nia, bahkan dia laki-laki pertama yang membuat Nia sedikit melupakan Arka.



Meskipun terkadang Nia masih mengingat dan merindukan Arka, tapi itu hanya saat dia jauh dengan Fathan saja. Jika, Fathan sudah kembali entah kenapa nia kembali melupakan Arka.



BERSAMBUNG...



Hai πŸ‘‹ semoga suka ya sama ceritanya, jangan lupa kalau kalian sudah selesai membaca, tolong ya tinggalkan like and komennya πŸ™



Kalau ada typo atau apalah itu yang mengganggu, harap di maklum ya πŸ™ jempolku emang suka nakal πŸ˜‚πŸ˜‚



Kalau ada yang mau ngasih bunga atau love monggo dengan senang hati aku akan menerimanya πŸ˜‚



Bantulah author Somplak sedikit ini untuk menjadi lebih baik. Terima kasih 😘

__ADS_1



~\*Salam sayang Author Somplak Dikit\*~


__ADS_2