
Selamat membaca kesayangannya Yumna dan David.
πΉπΉ Love you All πΉπΉ
Sepeninggal Indra, Nayla dan Arka, tak berselang lama. Brian dan Diana pun pamit untuk pulang, karena sudah ditelpon oleh Broto dan Mira.
Mereka bilang Broto dan Mira sangat merindukan Yuda, dan sekarang tinggallah Yumna yang menjaga David seorang diri.
Yumna tengah memperhatikan David yang sedang terlelap dengan saksama.
Tak terasa bibirnya membentuk lengkungan saat melihat wajah tampan David.
Dia merasa wajah David sangatlah sempurna, hidung mancung, bibir kecil, mata yang indah. Belum lagi tubuhnya yang ideal, siapapun yang menatap wajah tampan David pasti akan langsung jatuh hati padanya.
Saat Yumna tengah asik memperhatikan tiba-tiba saja David membuka matanya, kemudian David tersenyum manis padanya. Membuat dia jadi salah tingkah, seperti maling yang tengah ketauan mencuri.
"Kenapa liatin aku terus?" tanya David menggoda istrinya.
"Idih, gede rasa banget sih mas," ketus Yumna sambil memalingkan wajahnya, membuat David terkekeh pelan.
Sudah jelas-jelas tadi dia melihat istrinya itu memperhatikannya dengan intens sambil tersenyum, tapi Yumna masih saja tidak mengakuinya.
"Aku tau, aku memang ganteng, tapi biasa aja kali liatinnya," goda David. Namun, Yumna tidak menjawab dia malah mengambil ponselnya dan sibuk dengan ponselnya tersebut.
David terkekeh melihat tingkah Yumna yang terlihat malu-malu, andai ini bukan rumah sakit. Maka sudah di pastikan kalau dia akan memakan Yumna saat ini juga.
Saat David tengah sibuk menggoda Yumna ponselnya yang di atas nakas berdering, ia mengambil ponselnya lalu menggeser tombol hijau disana.
"Ya, kenapa, Dit?" tanya David pada Adit sang penelpon.
π"Triple M sudah menemukan orang yang mengeroyok lu kemaren."
"Bagus, lalu sudah kalian interogasi belum?"
π"Sudah, tapi nggak ada yang mau ngasih tau siapa dalang dibalik pengeroyokan lu."
Mendengar itu David merasa geram, dia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras menahan amarah.
Andai saja dia tidak sedang sakit, sudah David pastikan kalau dia sendiri yang akan turun tangan.
π"Jadi, gimana Dav?" tanya Adit di sebrang sana dengan wajah yang sudah merah padam karena marah.
David melirik pada Yumna yang tengah menatapnya dengan wajah penasaran.
David menghela napas dan mengembuskannya pelan.
"Tunggu perintah dari gua selanjutnya, untuk sekarang suruh Triple M menjaga orang-orang itu. Jangan sampai kabur," jawab David dengan terpaksa.
Tidak mungkin kan dia membicarakan hal yang kasar dihadapan Yumna.
__ADS_1
π"Yah, kenapa harus nanti, sekarang aja sih. Gua udah empet banget liat muka mereka," geram Adit.
Di sebrang sana membuat David terkekeh.
Sudah dia duga Adit pasti sudah tidak sabar.
"Gua nggak bisa ngasih tau sekarang, lu tau kan maksud gua?"
π"Ya, pasti ada Yumna kan di samping lu, karena kalau cuma ada Brian atau om Panji lu bakal tetep ngasih tau gua."
"Itu lu pinter."
π"Sial, gua emang udah pinter dari dulu bodoh."
David tertawa mendengar umpatan Adit.
"Yaudah, em---"
π"Apa, em em. Kalau ada tugas yang lain ngomong aja, jangan sok-sokan a em a em."
"Besok kan hari pernikahan gua, gua mau lu urus semuanya."
π"Gila, lu kan masih sakit."
"Iya, maksud gua, urus biar gua sama Yumna bisa nikah di rumah sakit ini. Dari pada di tunda-tunda, mending nikah disini aja," jawab David membuat Yumna terkejut.
π"Oh, jadi maksudnya ijab kabul di rumah sakit aja? resepsinya nanti?"
π"Oh, ok, gua urus deh, gua bakal bawa penghulu itu besok pagi jam sepuluh."
"Good."
π"Ok, bye." Adit langsung mematikan sambungan telponnya membuat David mendengus kesal.
"Sebenarnya siapa sih bosnya?" gumam David.
"Mas, kamu yakin besok kita akad disini?" tanya Yumna penasaran.
"Iya, aku nggak mau nunda-nunda lagi. Aku pingin banget kita tinggal satu rumah lagi." David menjawab sambil mengelus pipi Yumna.
"Kamu nggak keberatan kan?" sambungnya.
"Nggak, kok."
"Permisi." Seorang perawat memotong ucapan Yumna, dia masuk sambil membawa sebuah buku dan pena.
Perawat tersebut ingin memeriksa kondisi David.
Yumna beranjak dan mempersilahkan perawat memeriksa kondisi David, mulai dari infusan, tensi darah, dan detak jantung David.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup perawat itu pun pamit keluar dan meninggalkan Yumna dan David.
David tersenyum pada Yumna, senyum yang entah untuk apa.
Akhir-akhir ini David memang sering sekali tersenyum pada Yumna, entah karena bahagia atau hanya sekedar menggoda istrinya itu.
__________________________________________
Sementara itu di tempat lain.
Nayla tengah melihat foto yang sudah usang, dia mengelus foto tersebut sambil menitikkan air mata.
Dia merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi padanya beberapa tahun lalu.
Bagaimana mungkin pria itu tidak mengakui perbuatannya pada Nayla, sedangkan dia ingat betul bagaimana keadaan dia dan pria itu saat terbangun.
"Nayla," panggil Tante Rani.
Nayla buru-buru menghapus air matanya, dan langsung menyimpan foto yang telah usang tersebut ke bawah kasur.
Foto itu sengaja selalu dia bawa sebagai kenang-kenangan kelak, kalau laki-laki itu adalah ayah dari almarhum anaknya.
Anak Nayla dan laki-laki itu yang telah pergi karena terlahir prematur, walaupun laki-laki itu tidak mengakuinya. Namun, Nayla tetap akan selalu menganggap dia sebagai ayah dari anaknya.
"Ya, Mah, sebentar," sahut Nayla sambil berjalan membukakan pintu.
Setelah pintu terbuka dia langsung tersenyum manis pada Mamahnya. "Kamu nggak makan dulu, Nay?" tanya Tante Rani sembari mengelus rambut Nayla.
"Nayla, nggak lapar, Mah, Nayla cuma pingin istirahat," jawab Nayla sambil berjalan dan duduk di pinggiran kasur.
Tante Rani menghela napas dan mengembuskannya pelan, ini pasti karena Nayla teringat masa-masa itu.
Masalalu sebelum mereka pindah ke Jogja, memang semua itu salah Rani yang terlalu membebaskan anaknya tinggal seorang diri di Jakarta.
Saat Nayla kembali ke desa itu, dia membawa aib dan membuat mereka di cemooh oleh tetangga, hal itulah yang melatar belakangi pindahnya Rani ke Jogja.
Dia tidak kuat dengan cemoohan orang-orang itu, sekalipun Lusi pernah bilang kalau jangan pernah dengarkan omongan orang-orang itu. tapi tetap saja dia merasa malu.
"Kamu, kenapa sayang?" tanya Rani pada Nayla, karena anaknya itu terlihat sangat tidak bersemangat, tapi Nayla hanya diam saja.
Rani tersenyum simpul, dia sangat paham sekali kalau anaknya itu kini tengah berbohong. Namun, Rani tidak ingin memaksa anaknya untuk bicara padanya, hingga akhirnya Nayla memeluk Rani dan menangis di pelukannya.
"Aku cuma kangen sama Nada, Mah, aku kangen." Nayla akhirnya tak kuasa menahan tangisnya.
BERSAMBUNG...
hai ka πbantu aku agar Yumna dengan memberikan like and komennya ya π kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga Monggo dengan senang hati aku menerimanya π₯°
Hari ini aku up 2 bab ya π€
__ADS_1
di tunggu aja bab selanjutnya