
"Tes DNA," ucap Metha tiba-tiba membuat Fathan terkejut dan langsung menoleh padanya.
"Kamu serius? apa bisa?"
"Aku serius tapi, penuh dengan risiko. Untuk janin dalam kandungan, tes DNA dilakukan dengan mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis atau dengan chorionic villus sampling yang mengambil sampel jaringan plasenta. Namun, kedua jenis tes pada janin tersebut memiliki risiko membuat ibu mengalami keguguran." Metha menjelaskan cara kerja juga resiko yang akan diterima jika melakukan tes DNA pada janin.
"Kalau bisa keguguran, lebih baik jangan lakukan, apa nggak ada lagi yang harus aku lakuin buat bukti?" Fathan merasa keberatan jika harus mengancam nyawa janin yang sedang dikandung Nia.
"Ada," jawab Metha membuat mata Fathan berbinar-binar.
"Apa itu?" tanya Fathan kembali.
"Tunggu sampai anak itu lahir."
Degh ... Jantung Fathan sempat berhenti sebentar saat mendengar jawaban Metha. Jika, harus menunggu selama itu Fathan takut jika semuanya akan sangat terlambat.
"Apa nggak ada cara lain Meth?" gumam Fathan pelan.
Metha memperhatikan wajah Fathan yang memelas seperti itu. Rasanya Metha sangat tidak tega.
"Begini aja Fathan, kamu cari bukti soal malam itu, malam di mana kamu sama dia melakukannya, semuanya kamu cari. Terus nanti aku yang akan kasih bukti saat dia mengecek kehamilannya waktu pertama kali," usul Metha sambil tersenyum pada Fathan.
__ADS_1
Fathan pun langsung tersenyum dan refleks memeluk Metha. Beruntung Metha sudah terbiasa bersentuhan dengannya sejak dulu.
"Makasih banyak ya Meth, aku nggak tau kalau nggak ada kamu," kata Fathan.
Metha tersenyum pada Fathan. "Sama-sama Fath, udah kewajiban aku membantu teman," jawab Metha.
Metha melirik pada jam di tangannya dan terkejut. "Astaga, ternyata udah malam, kalau gitu aku pamit dulu ya Fath." Metha beranjak dari duduknya.
"Aku anter ya!" kata Fathan.
"Nggak usah deh, aku pulang sendiri aja. Takut repotin kamu," tolak Metha.
"Nggak kok ... yaudah yuk pulang." Fathan langsung menarik tangan Metha dan mereka pun pergi dari restoran tersebut.
Keesokan paginya Fathan kembali ke hotel di mana acara kantor itu dilangsungkan. Fathan datang bersama Parjo dan Andrian.
Fathan ingin mengambil video cctv atau apa pun itu, yang penting bisa dia jadikan bukti, karena dia sangat yakin jika anak yang Nia kandung itu adalah anaknya.
"Jadi, bukti apa yang bisa kamu kasih ke aku soal malam itu," tanya Fathan saat tiba di loby hotel tersebut.
"Saat saya di suruh memesan kamar waktu itu Pak," jawab Parjo membuat Fathan bingung.
__ADS_1
"Emangnya ada yang tau soal itu selain kamu?" Fathan kembali bertanya pada Parjo.
Parjo menggeleng sambil menekan tombol lift, dan tak lama pintu lift pun tertutup. Di dalam lift itu hanya ada Parjo, Fathan dan Andrian.
"Di sana memang nggak ada siapa-siapa Pak, tapi ada yang bisa Bapak, jadikan bukti dari sana," jawab Parjo.
Fathan Andrian saling pandang, seolah bertanya dalam diam, saat Fathan ingin kembali bertanya, pintu lift pun terbuka, dan Parjo mempersilakan Fathan dan Andrian untuk keluar lebih dulu.
Setelah itu baru dirinya, kemudian Parjo meminta Fathan untuk mengikutinya, berjalan ke arah ke arah yang sepi.
Bahkan hanya ob dan para pegawai saja yang lewat di koridor tersebut.
"Kamu mau ajak aku ke mana hmm?" tanya Fathan karena tidak tahan dengan semua pertanyaan yang melintas di pikirannya.
"Masuk sini Pak." Bukannya menjawab Parjo malah mempersilakan Fathan dan Andrian untuk masuk ke salah satu ruangan berpintu besi tersebut.
Fathan dan Andrian pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Sambil melangkahkan kakinya Fathan pun mengedarkan pandangannya menelisik setiap sudut di ruangan tersebut.
"Ini tempat apa?" tanya Andrian.
"Ini tempat pencucian Pak, mas udah ajak kalian ke sini, tapi di sinilah kita bisa cari bukti," ujar Parjo.
__ADS_1
BERSAMBUNG...