Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
kemarahan David.


__ADS_3

"Mas, maafin suami aku ya! aku jadi nggak enak, kita baru aja ketemu tapi sudah begini." Yumna mewakili David meminta maaf pada Ali, sewaktu di desa Ali adalah orang yang selalu ada untuk Yumna dan Lusi.


"Nggak apa-apa, wajar dia marah. Ini kan hotel, lain kali jangan ke hotel sendirian ya!!" jawab Ali tersenyum.


Bayu memperhatikan mereka dengan amarah yang terpancar dimatanya, Bayu merasa ada yang aneh dengan tatapan Ali pada Yumna.


"Yumna, kalian saling kenal?" tanya Bayu.


Sebenarnya bukan hanya David yang marah malam ini, tapi Bayu juga.


"Iya, Mas, dia teman aku waktu di desa dulu, Mas Ali, dia Mas Bayu, sepupu aku," jawab Yumna, dan memperkenalkan mereka berdua.


"Ali." Ali memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya, dengan terpaksa Bayu menerima uluran tangan Ali.


"Bayu."


Ali tersenyum dan melepaskan salaman tangannya.


"Mas, ini obatnya, maaf ya aku duluan karena mau kejar Mas David." Yumna memberikan obat yang dia bawa. Lalu melangkah pergi meninggalkan Bayu dan Ali.


Ali tersenyum pada Bayu, sedangkan Bayu mendengus kesal sambil menutup pintu kamarnya. Lalu Ali pun masuk ke kamar yang bersebelahan dengan Bayu.


________________________________________________


David mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dadanya terasa sangat sesak.


Yumna wanita yang sangat dia cintai berada di hotel bersama laki-laki lain?


Sungguh ini hal yang sangat menyakitkan untuk David, sepanjang perjalanan David memaki dan mengumpat kesal pada apapun.


Berkali-kali David memukul setir hanya untuk meluapkan emosinya, dia merasa sangat kecewa pada Yumna.


Yumna melajukan mobilnya ke apartemen David, dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Yumna merasa cemas dan gelisah, dia sudah mencoba menghubungi David, tapi nomornya tidak dapat di hubungi.


Yumna memecah jalanan kota yang sangat ramai dengan tidak sabaran, seolah dia sedang berlomba balap mobil.


Dua puluh menit kemudian Yumna sampai di apartemen David, ia memasuki apartemen David dengan tergesa-gesa.


Yumna berkali-kali menekan bel yang ada di samping pintu, tapi tak kunjung dibuka.

__ADS_1


Yumna mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, dan menghubungi nomor David.


Namun, tidak aktif, Yumna membuang napas kasar lalu berjalan keluar menuju mobilnya.


Yumna akan menjelaskan pada David besok saja karena ini sudah malam, Yumna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Dua puluh menit kemudian Yumna sampai di rumahnya, matanya membola karena melihat David tengah duduk di dekat kolam ikan.


David menoleh pada Yumna dengan tatapan matanya yang tajam, David melangkah dan menghampiri Yumna.


"Baru pulang? apa kamu menuntaskannya lebih dulu?!" tuduh David, Yumna mengkerutkan kening.


"Apa maksud kamu, Mas?" Yumna menatap David bingung.


"Nggak usah pura-pura, kalian kesana untuk itu bukan?" geram David, bibir Yumna terbuka karena terkejut mendengar ucapan David.


"Mas, kamu..."


Ucapan Yumna terpotong karena Indra datang, Yumna dan David langsung menyalami tangan Indra.


"Ngapain kalian di luar, ini kan sudah malam." Indra menegur Yumna dan David yang berada di luar padahal ini sudah hampir larut.


Namun, tiba-tiba saja David mencekal pergelangan tangan Yumna.


"Pah, kami duluan ke kamar ya," pamit David, Indra mengangguk.


David menggandeng tangan Yumna kasar, ia seperti tersulut emosi karena terbakar api cemburu. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, ia begitu panas saat membayangkan wanita miliknya itu berduaan dengan seorang lelaki di hotel.


Yumna terus merintih mesakitan karena pergelangan tangannya di genggam erat oleh David sampai ke kamar mereka.


"Mas, lepaskan, sakit!" Yumna berusaha terlepas dari tangan Calvin, tetapi lelaki itu tak peduli.


Sesampainya di kamar, David melepaskan tangan Yumna. "Perempuan macam apa kamu, bisa-bisanya berduaan di hotel dengan lelaki lain?! Apa pantas, hah?!"


"Mas, kamu salah paham, itu semua tidak seperti yang kamu pikirkan, berilah aku kesempatan untuk menjelaskan."


"Apa yang mau kamu jelaskan, aku sudah melihat semuanya."


"Apa yang kamu lihat??" teriak Yumna, dia tidak terima David menuduhnya seperti itu.


David yang mendengar Yumna berteriak seperti itu menyeringai, baru kali ini Yumna berteriak padanya.

__ADS_1


"Sekarang aku tau, apa yang membuat kamu belum menerimaku kembali," ucap David. Dia benar-benar sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Mas, aku nggak kaya gitu, kamu salah paham." Yumna masih mencoba menjelaskan pada David.


"Aku liat sendiri kamu sama dia makan malam bersama, dan ingin masuk ke salah satu kamar itu kan? dan sekarang kamu bilang itu salah paham?" geram David.


"Itu hanya makan malam, Mas, aku nggak ngapa-ngapain, aku ketemu dia aja di depan hotel itu."


"Jadi bukan dia yang janjian sama kamu?" bentak David.


"Aku mau ngasih obat ke, Mas Bayu tap..."


"Oh, jadi kamu janjian bersama Bayu? apa di luar negeri sana kamu sering ketemu di hotel?" Amarah David semakin menjadi-jadi jika memikirkan semua itu.


"Mas, kamu hanya liat aku makan bersama tapi amarah mu sudah sebesar ini? lalu gimana perasaanku dulu?"


"Mas, bagaimana kamu akan tahu benerannya kalau kamu saja tidak mendengar penjelasanku? Kamu bilang dulu aku salah paham sama kamu kan? Apa kesalahanku di masa lalu belum cukup untuk membuka jalan pikiran kamu? Bahkan, dulu aku tak memberi kesempatan kamu menjelaskan semuanya, hingga akhirnya kita berpisah cuma karena salah paham. Apa kamu mau hal itu terulang lagi? jadi tolong, dengarkan aku!" sambung Yumna.


Namun, David sama sekali sudah tidak peduli dengan ucapan Yumna, dia benar-benar sudah dibutakan oleh kecemburuan yang membakar hatinya.


"Sudahlah! Aku tidak mau mendengar penjelasan apa pun yang  keluar dari mulutmu. Ternyata kamu tak sebaik yang kupikirkan. Aku sudah salah menilaimu selama ini!"


"Mas! Kenapa kamu keras kepala sekali, jangan salah paham, aku mohon." Yumna terisak, air mata yang sejak tadi di tahannya, kini berhasil membasahi pipinya.


David melangkahkan kakinya kasar menuju pintu kamar dan hendak keluar, tetapi tangan Yumna meraihnya. Yumna menggenggam erat dan memohon pada David untuk tidak meninggalkannya dan mendengar penjelasannya, tetapi David bersikeras dengan pendiriannya.


"Mas! Jangan pergi!" seru Yumna sambil menarik tangan kekar lelaki itu.


"Cukup Yumna!" David mengibaskan tangan Yumna, ia kemudian berlalu pergi meninggalkan Yumna yang menangis tergugu.


BERSAMBUNG


hai ka 👋 kalau kalian sudah membaca tulisan cacingku ini jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏


kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga Monggo dengan senang hati aku menerimanya 🥰


lanjut gak?


ada yang mau lagi gak?


dukung terus Yumna dan David ya 🥰

__ADS_1


__ADS_2