Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Chapter 222


__ADS_3

Siang harinya.


Nia yang sudah rapi untuk pergi memeriksakan kandungannya, terlihat sedang gelisah menunggu Fathan.


Kurang dari setengah jam dari jadwal yang dijanjikan oleh sang dokter. Namun, Fathan belum juga datang, Nia pun sudah beberapa kali mencoba meneleponnya, tapi tidak diangkat.


"Apa aku berangkat sendiri aja kali ya! pasti dia masih sibuk," gumam Nia ragu.


Lama berperang dengan hatinya, akhirnya Nia pun memutuskan untuk pergi seorang diri, dia pun bangkit dari duduknya, kemudian mengunci pintu rumah itu, dan melangkah keluar rumah.


Akan tetapi, baru dia keluar dari gerbang, Fathan sudah datang. Fathan keluar dari mobil dan menghampiri Nia. "Maap ya! kerjaan baru aja selesai, ini juga aku buru-buru ke sini," ujar Fathan.


Nia tersenyum. "Nggak apa-apa, harusnya kalau masih sibuk yaudah biar aku sendiri aja," kata Nia.


"Nggak, aku harus tetep nganter kamu, yaudah langsung berangkat aja yuk!" Fathan membukakan pintu untuk Nia, kemudian memegangi kepala Nia agar tidak terbentur pintu mobil.


Setelah Nia naik, Fathan pun naik ke dalam mobil, dan kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


***


Sesampainya Nia dan Fathan di rumah sakit, Fathan membantu Nia untuk turun dari dalam mobil. "Hati-hati kepalanya," pesan Fathan.

__ADS_1


Nia mengangguk, dan dengan hati-hati Fathan membantu Nia berjalan, padahal Nia tidak apa-apa. Namun, karena khawatir, jadi, Fathan memegangi Nia sampai ke dalam.


Banyak pasang mata yang berbisik saat melihat perhatian yang Fathan berikan untuk Nia, dan itu juga membuat Nia malu.


Nia, diperintahkan oleh Fathan untuk duduk di depan klinik kandungan, sedangkan dia pergi untuk mendaftar. Setelah mendaftar Fathan pun kembali dan duduk di samping Nia.


"Nanti kalau ada keluhan ngomong aja ya, sekecil apa pun itu," pesan Fathan.


"Aku tau." Nia tersenyum.


Lama mereka menunggu, akhirnya seorang perawat keluar dan memanggil nama Nia, "ibu Nia Prayuda."


"Saya Sus!" Nia berdiri dan berjalan menghampiri perawat tersebut, diikuti oleh Fathan.


Apa lagi saat dokter itu menjelaskan kondisi dan keberadaan anaknya yang terlihat masih sangat kecil itu. Hal itu membuat mata Fathan mengembun saat melihat calon anaknya.


Nia tersenyum kecil saat melihat mata Fathan berkaca-kaca. Dia merasa Fathan sangat mencintai anak yang tengah dia kandung.


"Kondisi anaknya baik ya Pak, Bu, detak jantungnya pun sudah terdengar tadi kan?" tanya sang dokter kandungan, Fathan dan Nia pun mengangguk.


"Ini resep obat yang harus ditebus, untuk makanan tidak ada pantangan atau pun larangan, jadi apa pun boleh di makan, asal tidak merasa mulas ya," tutur sang dokter sambil menyodorkan secarik kertas pada Fathan.

__ADS_1


"Terima kasih Dok," ucap Fathan, kemudian keduanya pun berlalu dari ruang pemeriksaan tersebut.


"Kamu tunggu di sini aja! biar aku yang tebus obatnya," titah Fathan, dan Nia mengangguk.


Nia duduk di kursi yang tak jauh dari ruang pemeriksaan itu, sedangkan Fathan pergi untuk menebus obat.


Saat Nia tengah menunggu Fathan, dia dia dikejutkan oleh suara Nayla yang memanggilnya, "sayang."


"Mamah." Nia beranjak dari duduknya dan memeluk Nayla.


"Kamu lagi apa sayang? kamu sehat kan?" tanya Nayla.


"Aku habis periksa kandungan Mah," jawab Nia tersenyum.


"Sendirian?" Nayla mengedarkan pandangannya mencari teman yang menemani anaknya.


"Aku sama Fathan, tapi dia lagi nebus obat." Nia kembali duduk, diikuti oleh Nayla.


"Oh, Mamah pikir kamu sendirian, tapi bukannya dia kerja ya sayang?" Nayla kembali bertanya.


"Iya, tapi dia pulang dulu Mah, buat nganterin aku periksa," jawab Nia.

__ADS_1


"Dia benar-benar pria baik," ujar Nayla, memuji Fathan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2