Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Pesan Adit dan Nayla


__ADS_3

πŸ‘‹Hallo semuanya, apa kabar? Semoga semuanya baik ya, aamiin! πŸ™


Aku jelaskan dulu ya sebelum baca, ini semua murni hasil haluan aku. Kalau ada kesamaan, nama tokoh alamat dan lain-lain itu hanya kebetulan dan tanpa kesengajaan.


Ok sekian dan terima gaji.




Sesampainya di rumah Adit dan Nayla, Fathan turun lebih dulu, kemudian dia membukakan pintu untuk Nia. Lalu, dia mengulurkan tangannya agar Nia berpegangan padanya.



Nia pun menerima uluran tangan Fathan, kemudian turun dari mobil dengan sangat hati-hati, tubuh Nia merasa gemetar dan takut saat menginjakkan kakinya di rumah kedua orang tuanya.



Meskipun selama ini Adit dan Nayla selalu memanjakannya dan tidak pernah memarahinya sama sekali, tapi melihat kemarahan di mata Adit dan Nayla membuat Nia takut untuk berhadapan dengan mereka.



Setelah Nia melangkahkan kakinya sebanyak dua langkah, Nia pun berhenti. Fathan pun ikut berhenti dan bertanya, "kenapa? kamu takut?"



"Iya, kita pulang aja yuk!" jawab Nia dan tanpa sadar menggenggam lengan Fathan.



"Kamu tenang aja ya! ada aku di samping kamu, jadi jangan takut," ucap Fathan menenangkan hati Nia dan menuntunnya untuk kembali melangkah.



Nia pun mengikuti langkah Fathan, dan sesampainya di depan pintu rumah, Fathan pun menekan bel yang ada di sisi pintu tersebut.



Tak berselang lama pintu pun terbuka, dan menampilkan seorang ibu-ibu paruh baya, memakai baju gamis biru dan kerudung hitam. "Hallo Bu Ani," sapa Nia pada Bu Ani, kemungkinan dia adalah asisten rumah tangga di rumah ini.



"Ya ampun Non Nia toh, Ibuk pikir tadi siapa, mari masuk Non! Ibuk panggilkan tuan dan nyonya dulu." Ibuk Ani menepi dari pintu dan mempersilakan Fathan dan Nia untuk masuk.



Setelah Fathan dan Nia masuk Ibuk Ani pun menutup kembali pintunya, dan berjalan menaiki tangga untuk memanggil Nayla dan Adit, sedangkan Nia dan Fathan duduk di sofa yang ada tak jauh dari pintu.



Nia tersenyum sambil memperhatikan ke sekeliling rumahnya, walaupun baru beberapa hari saja dia pergi. Namun, hatinya sangat merindukan rumah ini. Merindukan semua yang ada dalam rumah ini.



Tak berselang lama saat Nia tengah asik mengedarkan pandangannya, Nayla dan Adit pun menuruni anak tangga.



Adit memasang wajah datar saat melihat Nia, Nayla pun sama. Namun, kedua mata Nayla nampak berkaca-kaca saat melihat putri semata wayangnya itu datang.



"Mah, Pah." Nia bangkit dari duduknya dibantu oleh Fathan saat Nayla dan Adit mendekat ke arah mereka.



"Apa kabar Mah, Pah." Nia menyalami tangan Adit dan Nayla diikuti oleh Fathan.



Nayla dan Adit menerimanya, tapi mereka berdua memalingkan wajahnya dan tidak menjawab Nia. Nia hanya bisa menundukkan kepalanya saat melihat itu.



"Ngapain kamu ke sini?" tanya Adit dengan ketus tanpa menoleh pada Nia.



"A-a-aku---."



"Kedatangan kita ke sini karena Nia, sangat merindukan Bapak dan Ibuk." Fathan menjelaskan kedatangan mereka ke rumah tersebut, karena Nia terlihat kesulitan.


__ADS_1


"Dan ini tadi di jalan, Nia membelikan beberapa buah-buahan juga buat Bapak dan Ibuk." Fathan menyodorkan beberapa kantung kresek berisi buah-buahan yang tadi dia beli itu.



Akan tetapi, Adit mau pun Nayla tidak menerimanya, Fathan hanya tersenyum getir. Sementara Nia matanya sudah berkaca-kaca melihat itu.



Lalu, datanglah Ibuk Ani yang tadi membukakan pintu, dia membawa minuman untuk semuanya. Fathan tersenyum dan menyodorkan kantung kresek tadi pada Ibuk Ani.



"Eh, apa ini Mas?" tanya Ibuk Ani bingung, begitu juga Nayla dan Adit.



"Ini buah-buahan buat Ibuk Nayla dan Bapak Adit, jadi tolong taruh di dapur atau kulkas ya!" jawab Fathan.



Ibuk Ani mengangguk, kemudian membawa kantung kresek itu ke dapur, untuk di cuci kemudian di letakkan di kulkas, seperti yang biasa Nayla lakukan.



"Sebenarnya kalian mau apa ke sini?" ketus Adit.



"Sudah saya jawab tadi Pak, kalau putri Bapak kangen sama Bapak dan Ibuk," jawab Fathan santai.



"Dia bukan putri saya setelah kejadian waktu itu," ucap Adit menohok hati Nia.



Fathan yang melihat Nia terkejut juga ketakutan, langsung menggenggam tangan itu lembut dan mengusapnya pelan. Memberikan kekuatan lewat sentuhan itu.



"Pak, semua sudah berlalu, apa nggak sebaiknya Bapak memaafkan kesalahan Nia? lagi pula Bapak David, dan Ibuk Yumna, juga sudah memaafkan Nia," tutur Fathan penuh ketenangan.



"Jangan paksa saya untuk melakukan itu, karena kesalahan Nia, cukup membuat malu saya, dan ini bukan urusan kamu," ketus Adit.




"Tapi Bapak dan Ibuk sudah menghukum Nia, dengan mengusirnya dari rumah ini, apa itu belum cukup?" kata Fathan.



Nia dan Nayla hanya bisa diam mendengarkan perdebatan kecil antara dua laki-laki itu.



"Jauh dari kalian dan dimusuhi semua teman-temannya, udah cukup buat Nia, terguncang Pak, Buk, jadi bisakah kalian memaafkan kesalahan dia?" sambung Fathan dengan lembut.



Akan tetapi tidak ada jawaban apa pun dari Adit, dan akhirnya Nayla pun angkat bicara, dia bertanya pada Nia dengan suara gemetar, "gimana kabar kamu?"



Seulas senyum terbit di bibir mungil Nia saat mendengar Nayla bertanya padanya. "Aku baik Mah, Mamah sama Papah, kabarnya gimana?" jawab Nia.



"Kami baik." Setelah menjawab itu, Nayla kembali diam dan memalingkan wajahnya.



"Kalau kalian sudah selesai, silakan pergi!" usir Adit.



Nia melirik pada Fathan, dengan wajah sedihnya Nia mengangguk-anggukan kepalanya, seolah mengajak Fathan untuk pulang.



Fathan tersenyum dan ikut mengangguk, kemudian mereka pun bangkit duduknya. "Kalau gitu kita permisi Pak, Buk," pamit Fathan.


__ADS_1


"Aku pulang dulu Mah, Pah." Nia menyalami tangan Adit dan Nayla, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu.



"Tunggu!" Langkah Fathan dan Nia terhenti, saat mendengar suara Adit.



Nia dan Fathan membalikan tubuhnya menghadap Adit dan Nayla.



"Kalau kalian tinggal berdua, sebaiknya kalian resmikan hubungan kalian, agar kedepannya juga nggak jadi masalah untuk kalian. Dan saya pingin anak itu memilliki setatus yang jelas," terang Adit tanpa menoleh pada Nia atau pun Fathan.



Akan tetapi bisa disimpulkan jika dia masih peduli pada Nia, tapi mendengar itu membuat Nia bingung.



"Baik Pak, setelah Nia bisa menerima saya, saya akan menikahinya," jawab Fathan.



Setelah mendengar jawaban dari Fathan, Adit pun bangkit dari duduknya, dan berlalu, meninggalkan mereka.



Sementara Nayla masih diam di sana, melihat Adit yang sudah menjauh, Nayla pun menghampiri Nia dan memeluknya.



"Sayang, kamu baik-baik aja kan hm? gimana kandungan kamu? sehat? kamu makan teratur nggak?" tanya Nayla bertubi-tubi sambil menciumi pipi Nia.



Nia menangis tersedu-sedu dan mempererat pelukannya. "Mah maafin aku yang udah bikin Mamah sama Papah, malu. Maafin aku," ucap Nia.



Nayla melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata Nia dengan lembut. "Iya sayang nggak apa-apa, yang penting jangan pernah ulangi kesalahan itu lagi ya sayang. Kamu harus menerima apa pun yang sudah menjadi takdir kamu, kamu nggak boleh menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau," tutur Nayla dan Nia mengangguk.



Nia kembali memeluk Nayla dan kembali menangis. Tanpa mereka sadari Adit memperhatikan mereka dengan air mata yang berderai di kedua pipinya.



Fathan yang sadar akan kehadiran Adit pun melirik pada Adit yang diam-diam memperhatikan mereka itu.



Bibir Fathan melengkung membentuk senyuman, saat melihat itu.



"Yaudah aku pulang dulu ya Mah!" pamit Nia.



"Iya sayang, hati-hati ya! dan inget pesan Mamah, kamu harus belajar menerima apa pun yang sudah menjadi takdir kamu," ucap Nayla.



Nia mengangguk kemudian dia dan Fathan pun berlalu.



BERSAMBUNG...



Hai πŸ‘‹ semoga suka ya sama ceritanya, jangan lupa kalau kalian sudah selesai membaca, tolong ya tinggalkan like and komennya πŸ™



Kalau ada typo atau apalah itu yang mengganggu, harap di maklum ya πŸ™ jempolku emang suka nakal πŸ˜‚πŸ˜‚



Kalau ada yang mau ngasih bunga atau love monggo dengan senang hati aku akan menerimanya πŸ˜‚



Bantulah author Somplak sedikit ini untuk menjadi lebih baik. Terima kasih 😘

__ADS_1



~\*Salam sayang Author Somplak Dikit\*~


__ADS_2