
Di kediaman keluarga David.
Nia yang baru saja terbangun dari tidurnya, tersenyum merekah saat melihat Arka tengah terlelap di atas sofa di kamar mereka.
Ini kali pertamanya mereka berdua satu kamar. Tentu saja hal seperti ini membuat Nia merasa sangat bahagia.
'ini adalah awal yang baik untuk kita Ar, aku harap kamu, aku dan anak kita bisa selalu bersama,' batin Nia.
Dia pun langsung turun dari kasur dan berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
Arka yang sedang tertidur merasa terusik oleh suara shower yang menyala. Dia pun membuka paksa matanya dan mengedarkan pandangannya.
Dia melihat Nia sudah tidak ada di atas kasurnya. Arka pun mengganti posisinya yang tadinya rebahan di atas sofa menjadi duduk.
Arka mengambil ponselnya dari saku celana dan mengecek beberapa chat yang sedari malam sangat dia tunggu.
Chat dari teman-temannya yang dia perintahkan untuk mencari tau keberadaan Ayarra. Namun, sampai saat ini belum ada jawaban dari teman-temannya itu.
Saat Arka tengah fokus memeriksa pesan, Nia pun sudah selesai dengan mandinya. "Kamu udah bangun Ar?" tanya Nia serasa membernarkan handuk yang dia pakai.
__ADS_1
Arka mendongak sekilas kemudian memalingkan wajahnya. "Aku mau ke kamar mandi," ucap Arka, lalu dia pun pergi menuju kamar mandi.
***
Di tempat lain.
"Ini tempat pencucian Pak, maaf udah ajak kalian ke sini, tapi di sinilah kita bisa cari bukti," ujar Parjo.
"Bukti apa?" tanya Andrian bingung.
"Apa Bapak, liat kamera cctv di atas sana." Parjo menunjuk salah satu kamera pengintai yang berada mengelilingi mereka.
"Iya, kenapa?" tanya Fathan.
Fathan tersenyum dan mengangguk. "Jika Bapak mau, saya bisa antar Bapak ke ruangan cctv, dan kalian bisa minta salinan cctv itu pada penjaga," usul Parjo.
"Ok, antar aku ke ruangan cctv," ucap Fathan.
"Baik, mari ikuti saya Pak!" kata Parjo lalu dia melangkah meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Fathan dan Andrian.
__ADS_1
***
Sesampainya Fathan, Parjo dan Andrian, di sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat tua. Di depan pintu tersebut berdiri dua laki-laki paruh baya.
Dua laki-laki tersebut terlihat bingung saat melihat Fathan, Andrian dan Parjo berada di sana. Pasalnya ini adalah ruangan pribadi, ruangan yang sangat jarang dimasuki oleh orang lain, kecuali orang penting.
"Kalian ada perlu apa ke sini?" tanya salah satu pria paruh baya tersebut.
"Maaf Pak, saya ob di hotel ini, dan Bapak-bapak ini mau periksa salah satu cctv di hotel ini," jawab Parjo.
"Tapi itu privasi pelanggan hotel ini," ketus pria paruh baya itu lagi.
"Tapi bukankah dulu, ada dua pria juga yang memeriksa cctv di sini kan? bahkan kedua orang itu memeriksa salah satu kamar di hotel ini kan?" Parjo menyindir penjaga cctv tersebut.
Saat Yuda dan Neil datang waktu itu, kebetulan Parjo sedang mengepel depan ruangan ini, dan dia sempat mendengar kalau mereka ingin melihat rekaman cctv.
Dan karena itulah saat ini Parjo mengusulkan Fathan untuk melihat cctv sebagai bukti.
Mendengar penuturan Parjo yang mengatakan jika mereka membiarkan orang lain untuk memeriksa cctv membuat mereka tidak bisa berkutik.
__ADS_1
Mau tidak mau kedua penjaga itu pun membiarkan Parjo dan yang lain untuk masuk.
BERSAMBUNG....