Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Fathan..??


__ADS_3

Setelah membersihkan tubuhnya dan makan malam bersama orang tua, Ayarra duduk di luar rumah menunggu kedatangan Nia, yang katanya ingin bercerita sesuatu.


Sambil menunggu Ayarra memainkan ponselnya, berbalas pesan dengan Arka juga bermain game.


Saat Ayarra tengah asik bermain, Nia pun datang. "Ay," panggil Nia.


Ayarra pun mendongak dan tersenyum pada Nia. "Lama banget, katanya tadi bentar lagi sampai, tapi sampe aku udah selsai mandi dan makan kamu baru sampai," protes Ayarra.


"Iya, tadi aku ada perlu sebentar, masuk yuk!" Nia menjawab sambil menarik lengan Ayarra dan membawanya masuk ke kamar.


Ayarra hanya bisa mengikuti Nia, dan sesampainya di kamar. Nia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur Ayarra dan menangis.


"Kamu, kenapa Ni?" tanya Ayarra.


"Aku nggak tau harus ngapain Ay, aku bingung juga nyesel," jawab Nia dengan wajah sedihnya.


Akan tetapi, bukannya mengerti Ayarra malah semakin dibuat bingung dengan jawaban Nia.


"Maksud kamu apa sih?" tanya Ayarra, Nia menoleh pada Ayarra dan menariknya untuk duduk di sampingnya.


"Aku---, aku udah nggak suci lagi Ay, dan gimana caranya aku ngomong ke mamah dan papah." Nia terisak, sedangkan Ayarra menutup mulutnya tidak percaya.

__ADS_1


"Maksudnya kamu udah---?" Belum selesai Ayarra bertanya, Nia langsung menjawab dengan anggukan.


Hal itu sukses membuat Ayarra tercengang, karena dia tidak percaya.


"Jangan bercanda, kamu bohong kan?" kata Ayarra.


"Aku nggak bercanda Ay, ini beneran. Di acara kemarin aku sama---." Nia tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena belum saatnya Ayarra tau semuanya.


"Sama siapa?" Ayarra kembali bertanya.


Nia bangkit dari tidurnya dan memeluk tubuh Ayarra. "Intinya aku takut Ay, aku takut kalau aku hamil," lirih Nia.


Nia tersenyum menyeringai dibalik punggung Ayarra. 'tentu saja, memang itu yang aku mau, tapi nggak sekarang,' batin Nia.


"Tapi kita melakukannya karena tidak sadar Ay, aku takut dia tidak setuju," jawab Nia seraya melepaskan pelukannya.


"Kenapa dia bisa nggak setuju? Laki-laki macam apa dia kalau nggak mau tanggung jawab sama kamu," geram Ayarra sedangkan Nia masih berpura-pura menangis.


Ayarra yang polos dan lugu tidak bisa melihat senyuman penuh arti dari Nia, karena dia memang sangat polos.


"Siapa orangnya? biar aku yang ngomong sama dia," tanya Ayarra.

__ADS_1


"Nggak usah Ay, ini semua kecelakaan. Jadi, dia nggak sepenuhnya salah, aku juga salah di sini," jawab Nia.


"Ya ampun, kamu baik banget sih." Ayarra kembali memeluk Nia dan mengusap punggungnya lembut.


****


Di tempat lain


Seorang pria sederhana bernama Fathan yang diperkirakan berumur 23 tahun sedang menatap awan penuh bintang dengan sendu.


Dia teringat wanita belia yang mabuk beberapa minggu lalu, kemudian dia gau*li, ada rasa bersalah di hati pria itu karena tidak menunggu wanita cantik itu tersadar dari tidurnya.


Itu semua karena dia ditelepon oleh bos di tempatnya bekerja. Namun, dia sudah meletakkan nomor ponsel dan alamatnya didekat si wanita.


Agar ketika bangun wanita itu menghubunginya dan meminta pertanggung jawaban. Namun, sampai saat ini wanita itu belum juga menghubunginya.


Fathan sangat gelisah jika memikirkan itu semua, dia takut jika apa yang mereka perbuat akan membuat wanita itu hamil, karena dia bukanlah laki-laki breng*sek.


'kamu di mana? kenapa belum menghubungi aku? Apa nggak terjadi sesuatu sama kamu?' batin Fathan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2