Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
58


__ADS_3

Adam mengambil sebatang rokok lalu segera menyesapnya,di bayangkan wajah Dahlia yang kusut karena ulahnya.


"Adam bingung Bu harus mengatakan dari mana,Adam telah di tipu oleh siska dan juga teman Adam sendiri." Kening Bu nani berkerut mendengarnya.


"Kalau memang benar kamu di tipu kenapa kamu mau mengatakan dengan siska kalau kamu mau menikah dengannya? " Adam terkejut ternyata Ibunya juga sudah tau tentang rencananya.


"Adam mengira anak yang di kandung siska itu benar anakku Bu,jadi Adam hanya ingin mempertanggung jawabkan anak tersebut,jika sudah lahir aku akan memberikan pada Maya dan Bagas untuk merawatnya,"


"Apa Al punya adik Pa !" Al tiba tiba muncul dari ruang TV tempat biasanya dia bermain


Adam menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"Al.... tidak baik mencampuri pembicaraan orang tua ya sayang.... Al lanjutkan lagi bermainnya ya ..." Maya yang membawakan kopi untuk Adam membelai rambut keponakannya.


"Apakah Maya dan Bagas juga setuju dengan pikiranmu yang sudah gila itu ?" Bu Nani menatap tajam putra sulungnya.


"Maaf Bu, saya dan Bagas juga sudah sepakat sama sama bersedia bu,jika bayi itu benar benar darah daging Mas Adam," Maya memberi penjelasan dengan mertuanya.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Dahlia,apa dia juga setuju dengan keputusanmu ?" Kepala Adam sudah semakin berat rasanya mendapat pertanyaan dari ibunya sendiri.


"Bu,Lia sudah mengirimkan surat cerai sama Adam, dan kami sudah berpisah Bu... kami tidak mau Al membicarakan ini dengan Al Bu,dia masih terlalu dini mengetahui hal ini " Bu Nani menarik napasnya dalam dalam.


Ketika Dahlia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dia tidak menunggu waktu lama untuk mengurus surat perceraiannya di kantor urusan agama.

__ADS_1


Dahlia juga ingin proses perceraiannya di percepat dan semua berjalan sesuai keinginan Dahlia mereka resmi bercerai karena Adam tidak bisa hadir di persidangan.


Sementara dengan Siska Adam tidak mengatakan kalau dirinya sudah resmi menjadi duda satu orang anak.


"Lalu apa rencana mu selanjutnya .. bukankah pernikahanmu dengan siska akan di adakan besok siang ?" Bu Nani masih memberi pertanyaan yang membuat Adam serasa berada di Kantor polisi saja.


"Entahlah Bu,Adam rasanya enggan pulang ke sana lagi.... Adam ingin menjual semua tanah dan rumah yang ada di sana, Adam sudah tidak mau memikirkan Siska lagi " Adam kembali menyesap rokoknya sambil meminum kopi.


Semua terdiam hening dalam pikiran masing masing.


Drrtt ! Drrrt ! Drrrt !


Hp Adam berderit panggilan masuk dari Siska.


{Halo Dam ! kamu di mana sekarang ? aku ada di depan rumah ,}


Adam


Begini rasanya kalau sudah tertimpa tangga


Siska


{Besok kita akan menikah Dam,kenapa kamu masih bersantai saja ?}

__ADS_1


Adam mematikan hpnya sepihak,bosan dia mendengarkan kata pernikahan yang di ucapkan siska.


Iya besok aku akan datang... tapi aku datang sebagai undangan Siska.


Adam mulai berpikir tidak jernih rencana demi rencana sudah dia susun sedemikian rupa.


Adam segera mengirim pesan dengan Rudi


(Rud,bagaimana persiapannya apa sudah beres?!" )


Pesan terkirim


Drrrt! Drrrt! panggilan masuk dari Rudi.


Adam segera keluar.


{Halo Rud!}


{Kamu jangan coba coba menipuku Adam! kamu belum tahu siapa aku sebenarnya}


{Aku tidak menipumu,justru kamu yang menipuku, } Adam mengirimkan foto surat perceraiannya.


{Ho...ho...ho... ternyata kamu lebih memilih sampah di bandingkan sebongkah emas, baik baik... aku akan kembalikan uang kamu empat kali lipat , tapi setelah aku melihat kamu sah duduk bersanding dengan sampah idolamu hahaha.... }

__ADS_1


Panggilan pun berakhir.


Maaf Dahlia aku menjadikan dirimu umpan,tapi percayalah besok akan ada orang orang yang akan memindungimu.


__ADS_2