Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
H-1 menuju pernikahan


__ADS_3

Pukul 12:00 siang, Nia dibawa oleh beberapa perawat untuk menemui, Dokter kandungan yang akan memastikan kalau kandungannya tidak apa-apa. Nia duduk di kursi roda dan didorong oleh perawat, sedangkan Arka, Yumna dan Nayla mengikutinya dari belakang.


Sepanjang perjalanan menuju ke Dokter Obgyn, Nia selalu tersenyum karena dia merasa sangat bahagia, dan sudah tidak sabar untuk melihat calon buah hatinya. Apa lagi Arka menemaninya kali ini.


"Silakan masuk Bu, Mas!" Perawat tersebut mempersilakan Arka dan yang lainnya untuk masuk.


Lalu, Nia pun diminta untuk merebahkan dirinya di atas ranjang. Namun, karena perutnya yang masih terasa sedikit sakiy, Nia mengalami kesulitan.


Yumna yang melihat itu pun langsung menyenggol bahu Arka pelan, Yumna meminta Arka untuk membantu Nia naik ke atas ranjang.


Arka menoleh pada Nia, dan karena permintaan sang Mamah. Arka pun bangkit dari duduknya dan membantu Nia untuk naik ke atas ranjang.


Lalu, sang Dokter kandungan pun langsung memeriksa kandungan Nia, menggunakan USG.


Nia, Yumna dan Nayla tersenyum saat Dokter Obgyn tersebut menjelaskan bahwa yang ada dilayar komputer itu adalah calon anak Arka dan Nia. Namun, berbeda dengan Arka dia hanya menatap datar pada layar komputer yang ada di sana.


Melihat itu Yumna merasa miris, sebegitu tidak maunyakah Arka menikah dengan Nia, sehingga dia benar-benar terlihat cuek seperti ini. Bahkan pada calon anaknya sekalipun.


Sangat jauh berbeda dengan David saat pertama kalinya melihat Arka saat masih dalam kandungan dulu. David sampai menitikkan air mata saking bahagia dan terharunya.


"Arka, liat dia calon anak kita, di umur segini memang masih berbentuk seperti itu, iya kan Dok?" ucap Nia dan Dokter yang memeriksanya pun mengangguk.


Arka membuang napas kasar dan memalingkan wajahnya. Nia yang melihat itu terdiam.

__ADS_1


'begitu besarnyakah cinta kamu sama Ayarra, sampai-sampai kamu nggak tersentuh sama sekali dengan calon anak kita,' batin Nia lirih.


'tapi aku nggak boleh nyerah, aku harus kuat, karena aku yakin nanti dia pasti terima aku,' Nia membatin menyemangati dirinya sendiri.


"Karena kandungannya tidak kenapa-kenapa, jadi boleh pulang hari ini juga, tapi ingat ya. Jangan terlalu capek, jangan banyak pikiran dan harus banyak makan," ucap sang Dokter.


Nia pun mengangguk dengan seulas senyum dia tunjukan, padahal hatinya terasa sakit karena Arka terseksan tidak peduli padanya.


"Ini resep obat yang harus kalian tebus di depan, dan nanti minum secara teratur ya!" Sang Dokter memberikan resep obat tersebut pada Arka. Namun, Arka tidak mengambilnya, sehingga membuat Dokter itu mengkerutkan kening.


Melihat itu Yumna dengan sigap langsung mengambil resep obat tersebut. "Baik Dok, kalau gitu kita permisi, terima kasih banyak Dok," ucap Yumna, kemudian mereka pun berjalan beriringan keluar dari ruangan tersebut.


"Arka, kenapa sih kamu itu kebangetan banget, harusnya jangan gitu Nak, malu." Yumna berbisik pada Arka, dan Arka hanya angkat bahu sebagai jawaban.


"Ok deh Mbak, makasih ya Mbak," balas Nayla dan Yumna pun tersenyum.


Yumna berjalan ke arah apotek untuk menebus obat, sedangkan Arka, Nia dan Nayla pergi ke kamar untuk berkemas, karena Nia sudah diperbolehkan pulang.


"Nanti setelah pulang dari sini kamu harus banyak-banyak istirahat ya sayang, karena besok pagi kan pernikahan kalian," ucap Nayla, sesampainya mereka di kamar rawat Nia.


Nia tersenyum sambil melirik pada Arka yang hanya diam saja.


Nia dan Nayla pun berbincang sambil berkemas barang-barang Nia, dan tak lama Yumna pun datang bersama perawat yang ingin melepaskan infusan Nia.

__ADS_1


"Mah, Arka tunggu di mobil ya!" kata Arka.


"Iya sayang, nanti mobilnya parkir di depan loby ya!" jawab Yumna dan Arka pun mengangguk kemudian pergi dari sana.


Setelah semuanya selesai, Yumna, Nayla dan Nia pun keluar dari ruangan itu, dengan Nia yang di dorong di kursi roda, dan saat mereka sampai ke mobil.


Mereka semua dibuat terkejut, karena yang sedang menunggu mereka adalah Yuda, bukan Arka. "Yuda, kok kamu bisa ada di sini? Arka-nya mana?" tanya Yumna.


"Dia baru aja pulang Mah, katanya ada perlu," jawab Yuda.


"Astaga anak itu, ada perlu bukannya ngomong malah pergi seenaknya." Yumna bergumam.


"Yaudah masuk sayang! mungkin Arka, nggak enak kali bilangnya. Jadi, dia pergi tanpa ijin." Yumna mempersilakan dan Nia dan Nayla untuk masuk ke dalam mobil. Lalu, Yumna pun duduk di samping kursi pengemudi.


"Awas aja sampai rumah Mamah, mau marahin abang kamu itu," gerutu Yumna, Yuda hanya bisa terkekeh sambil melajukan mobilnya.


BERSAMBUNG...


hallo semuanya, minal aidzin wal Faidzin ya, mohon maaf lahir dan batin 🙏


maafin othor ya kalau punya salah, baik dalam balas komenan, atau tulisan.


semoga kita semua selalu sehat dan selalu dalam lindungannya.

__ADS_1


aamiin 🙏


__ADS_2