
Sesampainya di kediaman Indra di Jerman, mata Ayarra di suguhi dengan pemandangan yang sangat indah.
Perkarangan rumah Indra dipenuhi dengan salju, begitu juga dengan pohon-pohon yang ada di sana, semua berwarna putih karena tertutup dengan salju.
"Di sini lagi musim dingin sayang, makannya turun salju," tutur Indra.
"Aku suka banget Opah, aku jadi inget waktu aku sama Alexa, bikin orang-orangan dari salju." Ayarra menjawab sambil mendekat berjalan perlahan ke arah halaman.
Lalu, Seketika ia terpana, hingga matanya mengembun saat membaca rangkaian huruf yang di desain sedemikian rupa di sekeliling air mancur.
Tulisan I Love You Ayarra terlihat menyala dan berkelap-kelip. menambah indahnya suasana saat ini. Huruf-huruf tersebut sengaja Arka buat untuknya ketika proses awal pembuatan air mancur tersebut.
Mata Ayarra berkaca-kaca, saat mengingat proses pembuatan air mancur itu beberapa bulan lalu. Ayarra menghapus air matanya dan beralih menatap ke sekeliling.
"Sayang, maafin Opah ya karena belum menghilangkan tulisan itu," ucap Indra saat melihat Ayarra seperti ingin menangis.
"Nggak apa-apa kok Opah, aku cuma khawatir kalau nanti Arka, datang ke sini bersama keluarga kecilnya dan ngeliat ini," jawab Ayarra.
"Jadi, kamu bener-bener pingin Opah, menghilangkan tulisan itu?" tanya Indra.
Ayarra tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya melihat-lihat sekeliling rumah Indra. Ayarra benar-benar tidak menyangka jika suasana di sana tidak berubah sama sekali. Masih sama seperti saat dia ke sini bersama Arka, Yumna, David dan Alexa.
"Sayang, masuk dulu yuk! kamu pasti capek, istirahat dulu nanti kita jalan-jalan ke taman belakang. Kamu pasti suka," ajak Indra.
Ayarra yang sedang melihat-lihat pun mengangguk, dan mengikuti Indra masuk ke dalam rumah.
***
Di Jakarta.
Di sebuah rumah kosong yang sangat jauh dari pemukiman, seorang pria muda tangannya sedang diikat ke kursi dengan bibir yang dilakban agar pria muda itu tidak bersuara.
"Eeemmm ...." Pria yang diikat itu mencoba untuk berteriak, meminta dilepaskan pada pria yang sedang menjaganya.
__ADS_1
"Apa? minta dilepaskan?" tanya pria yang menjaganya dan, pria yang diikat itu mengangguk.
"Enak aja! gua bakal bebasin lu kalau lu mau jawab apa yang tadi gua tanya," ujar si pria yang menjaga.
Mendengar itu si pria yang diikat tidak jadi memohon meminta di lepaskan lagi.
"Kenapa nggak minta di lepasin lagi?" tanya si pria yang menjaga, dan si pria yang diikat hanya menggelengkan kepalanya.
"Gimana? apa dia udah jawab?" Tiba-tiba saja terdengar pertanyaan dari belakang mereka, dan si pria yang menjaga itu langsung menoleh ke belakang.
Ternyata yang barusan datang itu adalah Fathan. Fathan masuk ke ruangan itu dengan tatapan tajam mengarah ke si pria yang diikat.
"Belum Pak, dia masih bertahan dengan diamnya," jawab si pria itu.
Fathan mengangguk sambil membuka kemeja yang dia pakai, kemudian menggulung kemejanya sesikut dan berjalan perlahan ke arah pria yang diikat.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu? minuman apa yang kamu kasih ke temanku," tanya Fathan sambil memegang kursi.
Fathan terkekeh dan membantu pria itu ke posisi seperti semula, kemudian dia membukakan lakban yang menutup mulut pria itu.
"Andrian, siapa nama laki-laki ini?" tanya Fathan pada si pria penjaga yang bernama Andrian itu.
"Namanya Parjo, alamat xxx, ibuk dan adiknya sudah saya selamatkan Pak," jawab Andrian membuat Parjo terkejut.
Sementara Fathan terkekeh. "Pak, tolong jangan ganggu adik dan ibuk saya, saya nggak salah Pak, saya terima tawaran itu karena sedang butuh uang, lagi pula saya cuma diminta---." Parjo tidak melanjutkan ucapannya dan menunduk.
Parjo merasa sangat dilema, jika dia jujur maka dia harus mengembalikan uang yang dia terima satu bulan lalu harus dikembalikan. Namun, jika dia tidak jujur, dia takut jika ibuk dan adiknya di apa-apakan oleh dua pria yang tidak dia kenal ini.
"Kenapa nggak kamu lanjutkan lagi ceritanya?" tanya Fathan.
"Kenapa?" Fathan berteriak tepat di depan wajah Parjo.
Fathan yang hilang kesabaran langsung meninju Parjo bertubi-tubi tanpa henti, bahkan saat Parjo merintih kesakitan pun Fathan terus saja memukulinya.
__ADS_1
"Jawab! Siapa yang nyuruh lu, dan apa yang lu lakuin?" bentak Fathan.
"Saya disuruh sama Mbak-Mbak cantik berbaju merah saat itu," jawab Parjo.
"Gua tanya siapa namanya bukan warna bajunya," geram Fathan.
"Saya nggak tau namanya Pak, sumpah saya nggak tau." Parjo menjawab dengan tertatih-tatih, karena rasa sakit yang dia terima karena ulah Fathan.
Fathan menghela napas sambil mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya, kemudian dia menunjukan ponsel tersebut pada Parjo. "Apa wanita ini yang kamu maksud?" tanya Fathan sambil menunjukan foto Nia.
"Iya Pak, dia orangnya," jawab Parjo.
"Apa yang dia minta lu lakuin?" tanya Andrian sambil mengarahkan kamera yang sejak tadi dia sembunyikan pada Parjo.
"Saya diminta untuk ngasih obat tidur sama salah satu cowok, kemudian dia meminta saya memesankan kamar 120," terang Parjo.
"Kenapa kamu yang memesan kamar untuk mereka?" tanya Fathan.
"Saya nggak tau Pak, saya cuma melakukan itu tanpa bertanya," jawab Parjo.
"Bangun!" Fathan mengulurkan tangannya pada Parjo yang masih terkapar di lantai.
"Maaf dan terima kasih ya," ucap Fathan kemudian dia bangkit dari jongkoknya.
Lalu, memakai kembali jas yang tadi dia lepas, kemudian dia pergi dari sama diikuti oleh Andrian.
"Lalu, apa sekarang rencana bapak?" tanya Andrian yang merupakan informan yang disarankan oleh sahabat Fathan.
"Saya mau ke kantor dulu, setelah itu kita pikirkan nanti, karena bukti yang barusan kita dapat aja nggak cukup, saya harus mencari bukti yang lebih kuat," jawab Fathan.
"Baiklah," ucap Andrian.
BERSAMBUNG...
__ADS_1