
Siska sudah di bantu Lala berkemas untuk pulang,jenuh itulah yang di rasakan Siska berhari hari berada di rumah sakit.
"La,kamu ada lihat hp ku" Tanya Siska.
"Tadi sudah di dalam tas nyonya,coba saya periksa lagi," Lala membuka tas berukuran sedang untuk menyimpan barang barang Siska.
"Ini nyonya,"Lala menyerahkan pada Siska.
"Nyonya,tadi tuan menyebalkan bilang kalau nyonya nanti di jemput olehnya" Ucap Lala yang mengintip Siska menghubungi aplikasi Go-Jek.
"Siapa yang kamu maksud tuan menyebalkan,?"Tanya Siska.
"Yang sering bersama tuan ganteng misterius itu nyonya" ucap Lala.
Aku tidak tahu Lala jika mereka berdua mendengar ucapan mu,kamu tidak tahu siapa Rudi sebenarnya,aku saja tertipu olehnya
Batin Siska.
"Oh,kenapa kamu menyebut mereka seperti itu?"
"Maaf nyonya,saya keceplosan,saya sendiri tidak tahu apa hubungan mereka dengan nyonya,tolong maafkan saya nyonya" Lala bersungguh sungguh,di hatinya sudah menyimpan rasa takut yang hebat.
"Aku bisa memaafkan mu,tapi aku tidak menjamin tuan muda akan memaafkan mu Nona belia" Deg! Lala gemetar takut,Herman tiba tiba muncul seperti jin gentayangan.
"M- maafkan saya tuan,tolong maafkan saya.,saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi " Lala memeluk kaki Herman.
Sejak kapan hantu ini datang,untung cuma anak buahnya,sempat bosnya hantu yang muncul bisa bisa hilang pekerjaanku
Herman memicingkan matanya,menundukkan wajah dekat dengan Lala,
"Tuan sudah mendengar ucapan mu,silakan kamu lihat dia berada di luar" Bisik Herman pada Lala.
Lala terperangah,berlari membuka pintu,Siska yang melihat menjadi bertanya tanya dalam hatinya, "apa yang dia bisikkan pada Lala,kenapa aku jadi tidak suka melihatnya.
"Apakah nona sudah siap," Tanya Herman.
Siska mengangguk,Siska di bawa keluar ruangan dengan kursi roda,sebenarnya siska sudah berjalan sendiri,namun Herman bersikukuh Siska harus dengan kursi roda menuju mobil.
Sampai di dekat mobil,Lala dan Rudi sudah menunggu,wajah Lala terlihat memucat entah apa yang sudah di lakukan Rudi padanya.
"Bantu dia masuk ke dalam mobil" Titah Rudi pada Lala.
Tanpa berkata Lala membantu memegang bahu Siska membantunya masuk ke dalam mobil.
"Masuk!" Titah Rudi lagi pada Lala.
Nyesel deh aku bilang anda ganteng dan baik hati,nyatanya cuma wajah saja yang rupawan tapi hatinya seperti rubah hiks pilunya aku
Lala meratapi nasibnya dalam hati.
"Jalan Pak" Titah Rudi lagi pada sopir
Mobil melaju dengan kecepatan sedang,
__ADS_1
"Aku ingin pulang ke kontrakan ku" ucap Siska lirih.
Herman dan Rudi sama sama tidak bergeming.
Apa!kontrakan,mereka bukan orang serumah
Batin Lala terperanjat,tidak berani dia mengeluarkan kalimatnya.
Mobil terus berjalan hingga tiba di sebuah hotel berbintang lima.
Inikan hotel pak Anggra,tempat aku magang,kenapa ke sini,aku kan masih bagian ship malam
Batin Lala bertanya tanya.
Herman turun dari mobil,membukakan pintu untuk Rudi,
Pak sopir membukakan pintu untuk Siska dan Lala.
"Kamu,dorong rodanya" Titah Rudi lagi pada Lala untuk membawa Siska masuk.
"Kenapa ke sini,aku sudah bilang aku ingin ke kontrakan ku saja,aku rasa kalian tidak tuli" Siska tegas.
"Her,suruh dia diam,telinga ku sakit dengar celotehnya" Ucap Rudi.
Siska mengepalkan tangannya geram,memukul gagang kursi roda tanpa suara.
"Kami tidak bisa membawa anda bolak balik rumah sakit nona,jika anda berkelahi dengan besi ini" Herman meledek Siska dengan nada ancaman untuk tidak membantah tuannya.
Benar kata Lala,mereka benar benar menyebalkan,kenapa aku baru tahu sekarang,yang aku tahu mereka berdua sama sama licik dan kejam.
Rudi berjalan masuk ke dalam hotel,terlihat semua karyawan menunduk memberi hormat.
Herman berjalan di belakang Rudi,Lala mengikuti juga sambil mendorong kursi roda Siska.
Teman teman magang Lala yang mendapat ship siang saling bertanya kenapa bisa Lala bersama pemilik hotel dan mendorong kursi seorang wanita yang di perkirakan mereka lumpuh.
"Her,siapkan kamar eklusif untuk mereka berdua" Titah Rudi.
"Baik tuan," Herman berjalan menuju meja resepsionis " siapkan kamar eklusif di lantai tiga" Titah Herman pada bagian resepsionis.
"Baik tuan" Segera menelpon yang bertugas bagian lantai tiga.
Siapa sih orang ini,kok bisa memberi perintah seenaknya saja pada karyawan hotel pak Anggra.
Lala mengoceh dalam hati,dia tidak tahu jika pemilik hotel tersebut sedang berjalan di depannya,selama magang dia tidak pernah bertemu langsung ataupun melihat secara langsung sang pemilik hotel.
Mereka naik ke lantai tiga dengan mengguna lift Lala maupun Siska masih berkutat dengan pikirannya masing masing.
Tiba di lantai tiga mereka di sambut baik oleh karyawan dan mengantarkan mereka ke kamar yang sudah di pesan.
Mereka masuk mengikuti langkah Rudi,seorang anak magang melirik Lala tatapannya mengartikan pertanyaan pada Lala.
"Anak muda,dari tadi kamu melirik nona itu terus,kamu naksir sama dia" Tegur Rudi
__ADS_1
"Maaf Tuan,s- saya teman Lala,kami satu kampus dan kami sama sama magang di sini " Pemuda itu menunduk.
"Oh,nama kamu Lala ya,pantesan kamu bicara tralala tralili ," Rudi mengejek.
"Iya Tuan" Lala menahan kesal.
Sungguh bodohnya aku terpesona dengan ketampanan wajahnya,ternyata dia orang yang bisa membuat wajah ku berubah menjadi udang rebus
Lala menahan kesal.
"Hei,kenapa wajahmu begitu hah,kamu marah padaku ?ha..ha....Her," Rudi tergelak dia seperti anak kecil punya mainan baru yang sangat lucu.
"Ya tuan". Herman mendekat.
"Lihat wajahnya nona Lala Lili ini,dia marah padaku,berani sekali dia menatapku seperti itu,tanyakan padanya siapa pemilik hotel ini " Rudi duduk di sudut tempat tidur.
"Nona Lala,apa nona tahu siapa pemilik hotel ini" Tanya Herman
"Iya tuan,saya tidak pernah melihatnya secara langsung,saya hanya tahu namanya dari rektor pembimbing kami" Ucap Lala tegas.
"Siapa namanya ?" Mata herman menatap sangat menusuk seperti ribuan jarum.
"Anggra Surya Rudiart !" Lala tangkas.
"apa gambaran mu tentang pemilik hotel ini"
"Kenapa tuan menanyakan hal yang tidak penting?" Herman antara ingin marah dan tertawa dengan jawaban Lala yang menurutnya sangat lugu.
"Tentu saja kami ingin tahu," Herman datar.
Sementara Rudi masih duduk santai tangannya di lipat di dadanya.
"Kalau begitu kenapa tuan tidak datang besok malam saja,karena besok malam Pak Anggra akan hadir di acara pertemuan untuk memberikan wejangan untuk kami semua yang magang di sini" Ujar Lala.
"Hm,menarik sekali,apakah akan banyak yang hadir besok malam," Lanjut Herman lagi.
"Tentu saja tuan,rektor kami juga akan datang,bahkan para mahasiswa magang dari hotel manapun akan hadir besok malam,jumlahnya akan memenuhi aula hotel ini," Lala berkobar.
"Apa peran mu besok sebagai mahasiswi magang di sini" Tanya Rudi.
"Saya di tugas sebagai penyemat tanda terima kasih kami pada Pak Anggra tuan" jawab Lala.
Aku ingin melihat reaksi mu besok setelah tahu siapa Anggra itu nona Lala.Rudi.
Penasaran bagaimana reaksi mu besok Nona,apakah kamu masih bisa bicara seperti ini .Herman.
\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,
Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat
__ADS_1
Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*