Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Aktivitas Arka dan Ayarra


__ADS_3

Setelah memesan kamar, Arka pun kembali ke UGD. "Gimana sayang udah?" tanya Yumna.


"Udah Mah, oh ya Mah, tadi aku telepon papah, dan nanti kalau udah beres, katanya papah, mau ke sini," ucap Arka.


"Harusnya jangan dulu kabarin papah kamu sayang, takutnya papah kamu khawatir," ujar Yumna.


"Nggak, tadi aku udah jelasin ke papah, kalau Alexa, nggak kenapa-kenapa," jawab Arka. Dia mengelus rambut panjang Ayarra yang tengah duduk di samping mamahnya itu.


"Kalau gitu Tante, Ay, Bang Arka, kami pulang dulu ya! besok pagi aku ke sini lagi buat temuin Alexa," pamit Dimas sopan.


"Oh, iya sayang, hati-hati ya Nak, dan terima kasih." Yumna sangat bersyukur atas bantuan Gilang dan Dimas.


"Iya Tante sama-sama, yaudah mari Tante." Serempak Gilang dan Dimas, kemudian mereka menyalami tangan Yumna, dan pergi dari sana.


Lalu, tak berselang lama, setelah kepergian Gilang dan Dimas, beberapa perawat dan dokter mendorong brankar yang di atasnya terbaring Alexa.


Mereka ingin membawa Alexa ke ruang rawat inap yang tadi sudah Arka pesan, karena kondisi Alexa memang tidak parah dan sudah lebih baik.


***


Sesampainya di ruang rawat inap, Yumna meminta Arka dan Ayarra untuk pulang. "Bang, Ayarra, kalian langsung pulang aja nggak apa-apa! biar Mamah dan papah nanti yang jagain Alexa," titah Yumna.


"Nggak apa-apa Mah, Abang mau ikut tungguin Ale," kata Arka sambil menggenggam tangan Ayarra lembut.


Ayarra tersenyum dan mengangguk, tanda dia menyetujui ucapan Arka. "Tapi kalian pasti capek, udah pulang aja nggak apa-apa. Kasian sama Ayarra Bang, lagian bentar lagi papah kamu kan dateng," tutur Yumna.


"Tapi Mah—."


"Abang!" potong Yumna dan memberikan sedikit lirikan yang tajam, seolah tidak suka dibantah.


"Yaudah deh kalau gitu, sayang kita pulang aja yuk!" Arka menggenggam tangan Ayarra, kemudian menyalami tangan Yumna, diikuti oleh Ayarra.


Lalu, mereka pun pergi meninggalkan Yumna dan Ayarra di ruang rawat itu.


***


"Dimas, Kakak mau kamu jangan tinggalin Alexa hanya demi Kalista," tutur Gilang di dalam mobil taxi. Dia tidak terima jika Dimas harus kembali pada Kalista, orang yang selama ini meninggalkan adiknya alasan demi sekolah, ternyata demi laki-laki lain.


"Udah deh Ka, jangan bahas itu! Aku capek, lagi pula Kakak kan tau, kalau aku tuh cinta banget sama Kalista." Dimas menjawab dengan jengah, dia bahkan tidak menoleh pada Gilang. Dia malah sibuk berkirim pesan dengan Kalista.


Gilang mendengus kesal, jika soal Kalista, Dimas memang tidak bisa dilarang. "Udah berapa lama kamu berkabar lagi sama cewek itu?" tanya Gilang.


"Udah satu bulan, dan hari ini dia baru kembali. Makannya aku langsung temui dia," jawab Dimas santai.


"Oh iya, motor Kakak gimana?" Kali ini Dimas bertanya, karena dia baru teringat jika motor Kakaknya itu ada di taman.

__ADS_1


"Kakak udah telepon temen.buat bawain motor Kakak ke rumahnya," jawab Gilang.


"Dimas, Kalista itu bukan gadis baik, kenapa sih kamu masih luluh sama dia. Apa kamu lupa gimana kamu dicampakkan sama dia tempo dulu? gimana dia memaki kamu hanya kamu memohon?" Gilang mencoba mengingatkan Dimas tentang dia dan Kalista dulu. Namun, sepertinya Dima tidak peduli, terlihat gimana dia acuh pada ucapan Gilang.


"Dimas!" bentak Gilang seraya mengambil ponsel Dimas.


"Ada apa? kenapa sih Kakak nggak visa lupain masalalu? aku aja udah lupain semua itu, apa lagi dia udah minta maap dan janji nggak akan tinggalin aku lagi," geram Dimas.


"Tapi sekarang kamu punya Alexa Dim! apa kamu nggak kasian sama dia?"


"Kita bisa putus ka! dan aku akan minta maap tentang semuanya, jadi Kakak tenang aja," kata Dimas santai.


Gilang menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya, dia tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran adiknya itu. Cinta sudah membuat Dimas buta, Gilang pikir Dimas sudah berhasil melupakan cinta pertamanya karena Alexa, tapi ternyata tidak.


Di tempat lain.


"Sayang, maap ya! hari ini kamu pasti capek banget karena kita langsung ke rumah sakit tadi," kata Arka sesampainya mereka di rumah.


Ayarra tersenyum dan menggenggam tangan Arka, serta mengelusnya pelan. "Nggak apa-apa Ar, Alexa itu kan sekarang adekku juga," ucap Ayarra.


"Berarti kamu nggak capek?" Arka kembali bertanya, dan Ayarra menggeleng.


Arka senyum smirk, dan tiba-tiba saja dia menggendong bridal Ayarra. "Astaga Arka, lepasin malu!" pekik Ayarra.


"Malu sama siapa? nggak ada siapa-siapa juga, paling ada mbak-mbak aja, itu juga pasti mereka udah pada istirahat, lagian mereka juga pasti ngerti," jawab Arka, seraya mencium bibir Ayarra sekilas, kemudian kembali melanjutkan langkahnya memasuki rumah.


Sesampainya di kamar miliknya, Arka merebahkan tubuh Ayarra ke atas kasur dengan sangat hati-hati. Arka tersenyum lalu mencium bibir Ayarra sekilas, awalnya hanya c i u m a n biasa tapi lambat laun c i u m a n itu menjadi kasar dan menuntut.


Arka menghisyap bibir bawah dan atas Ayarra dengan menggebu, Ayarra pun langsung mengalungkan tangannya ke leher Arka agar memperdalam


c i u m a n mereka.


"Ah...," d e s a h Ayarra saat Arka menggigit pelan bibir bawahnya agar memberikan akses untuk Arka menjelajahi rongga mulutnya.


Arka langsung menghisyap lidah Ayarra dengan lembut tapi memabukkan. Tangannya pun tidak tinggal diam merayap ke pyayudhara Ayarra.


"Ah...." Satu d e s a h a n lagi keluar dari bibir Ayarra saat Arka m e r e m a s phayudaranya. Tubuh Ayarra terasa panas karena perlakuan Arka.


"Sayang boleh ya!" pinta Arka dengan suara serak karena menahan gairyah, Ayarra hanya mengangguk karena sejujurnya dia sangat menyukai melakukan ritual ini.


Arka tersenyum lalu membuka semua kain yang melekat pada Ayarra, hingga tubuh wanita itu sekarang polosan tanpa sehelai benang pun.


Ayarra tersenyum pada Arka yang terlihat sangat antusias.


C i u m a n Arka turun ke leher, menjiylat menggigit dan meninggalkan bekas kemerahan di sana.

__ADS_1


Tangan Arka kembali m e r e m a s dan memainkan pyuthing Ayarra yang sudah mengeras karena gairyah itu, dan kini lidah Arka m e n j i l a t i pyuthing Ayarra, membuat sang empunya m e n d e s a h.


"Ah...." Mendengar suara d e s a h a n Ayarra yang seksi di telinganya membuat Arka semakin dilanda gairyah.


Dia semakin kuat m e r e m a s pyayudara Ayarra. Lalu, setelah puas bermain-main dengan pyayudara istrinya itu, kini Arka beralih ke ruang surga sang istri yang sangat menggoda dan nikmat itu.


"Ahhhh...," d e s a h Ayarra, saat Arka menji__lati kli__torisnya membuat Ayarra melambung karena rasa nikmat yang Arka lakukan.


Tubuh Ayarra menggelinjang saat Arka memaju mundurkan lidahnya di dalam ruang surganya yang sudah banjir oleh cairan itu.


"Eeemmm, Arka ada yang mau keluar."


"Keluarin aja sayang!" titah Arka.


Tak berselang lama ruang surga Ayarra berkedut dan mengeluarkan cairan. Arka membersihkan dengan mulutnya dan menelan habis cairan itu tanpa ada rasa jijik sedikitpun.


Setelah puas membuat sang istri mencapai puncak kenikmatan, Arka bangkit, dan segera membuka pakaian yang dia kenakan.


Arka tersenyum saat melihat Ayarra tengah mengatur napasnya, Arka mengecup bibir Ayarra.


Selanjutnya, Arka melebarkan kedua kaki Ayarra, kemudian perlahan tapi pasti, Arka memasukkan adiknya ke dalam ruang surga Ayarra.


"Aaaaahhhh..." Ayarra m e n d e s a h, sedangkan Arka sempat memejamkan matanya menikmati sesuatu yang nikmat tapi tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Arka tersenyum sambil menggerakkan pinggulnya, hingga adiknya bergerak ke luar masuk di dalam ruang surga Ayarra.


Lama mereka saling bergerak maju mundur seirama, akhirnya Arka pun semakin mempercepat gerakannya membuat Ayarra semakin merasa melayang.


Suara tumbukan penyatuan mereka semakin keras membahana, sehingga, semakin kencang pula suara hantaman sandaran tempat tidur pada tembok karena gerakan mereka yang semakin menggila.


"Arka, aku mau sampai lagi...."


"Bareng sayang!"


Arka semakin mempercepat gerakannya. Sambil me__nyu__su pada pyayudara Ayarra.


Lalu Arka memeluk erat sekali tubuh kecil itu dalam dekapannya, membenamkan seluruh adiknya.


Hingga akhirnya Arka menegang hebat dan. "Aaaaahhhh." Arka dan Ayarra mengerang bersama.


Lalu, Ayarra merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam rahimnya.


Arka tersenyum, lalu dia mencium kening, mata, kemudian pipi kanan kiri Ayarra dan yang terakhir mengecup sekilas bibir mungil itu.


Lalu, tubuh Arka ambruk di samping Ayarra. Mereka saling melempar senyum kepuasan, kemudian Arka memeluk tubuh Ayarra dan mereka pun akhirnya tertidur karena kelelahan dengan tubuh saling berpelukan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2