Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 188


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke bandara Ayarra tak henti-hentinya menangis, dia masih tidak menyangka jika dia harus melihat orang yang sangat dia cintai menikah dengan wanita lain.


"Ay, udah jangan nangis lagi ya. Laki-laki kayak gitu nggak pantes kamu tangisin," ujar Doni sambil menarik pelan kepala Ayarra agar bersandar di bahunya, kemudian dia menghapus air mata Ayarra lembut menggunakan sapu tangannya.


"Aku pikir nggak akan sesakit ini Don, tapi kenyataannya sakit banget. Bahkan sampai sulit sekali bernapas." Ayarra menumpahkan apa yang dia rasa pada Doni.


"Aku tau, tapi air mata kamu terlalu berharga untuk nangisin laki-laki kayak gitu, mungkin kalian memang bukan jodohnya," jawab Doni.


Fathan yang juga merasakan hal yang Ayarra rasakan melirik Ayarra lewat kaca yang ada di hadapannya.


Mata Fathan terlihat berkaca-kaca, dia merasa kecewa dan sedih pada diri sendiri, dia juga merasa jika sudah menyakiti hati Ayarra.


'sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba aja laki-laki itu meninggalkan Ayarra, sedangkan yang aku tau laki-laki itu terlihat sangat mencintai Ayarra,' batin Fathan menerka-nerka.


Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, satu bulan lalu dia merebut kesucian Nia, kemudian Fathan bertemu dengan Ayarra dan Arka.


Mereka berdua terlihat sangat saling mencintai, tapi tiba-tiba saja dia mendengar kalau hubungan Ayarra dan Arka kandas karena Nia mengandung anak dari Arka.


'bagaimana bisa laki-laki yang terlihat sangat mencintai Ayarra, dan terlihat sangat takut kehilangan Ayarra bisa menyakitinya begitu saja?' Fathan kembali menerka-nerka.


"Nanti kalau sampai di sana jangan lupa kabarin aku ya Ay! dan minggu depan kalau sudah ujian aku mampir ke sana ya, boleh kan?" kata Doni membuat Fathan yang sedang menerka-nerka melirik pada mereka lewat kaca.

__ADS_1


"Iya boleh," jawab Ayarra pelan.


Ayarra pun menjauhkan kepalanya dari bahu Doni dan menghapus air matanya, kemudian dia menatap ke luar jendela.


***


Setelah kepergian Ayarra, Arka langsung pergi dan kembali mengurung diri di kamar.


"Ke mana Arka? masa yang nyambut tamu cuma Nia sih?" tanya Adit pada David.


"Dia ke kamar tadi," jawab Yumna.


"Ayah mana yang akan kuat saat melihat anaknya tidak dihargai seperti ini, semua ayah pasti menginginkan pernikahan seperti yang anaknya inginkan, tapi ini semua kan udah terjadi, mau nggak Arka harus menerima," sambung Adit membuat Brian yang hendak menjawab terdiam.


Sebab apa yang Adit katakan memang ada benarnya, tapi Arka tidak pernah ingin menyadari takdir yang sudah diciptakan untuk mereka.


"Gua minta maaf ya Dit, gua janji ke depannya nggak akan terjadi lagi hal seperti ini," ucap David tidak enak hati pada Adit.


Mendengar jawaban David, Adit hanya diam saja, dan berjalan mendekati Nia yang sedang berdiri menyambut tamu seorang diri.


Kebetulan tamu yang diundang oleh David hanya orang-orang terdekat saja, tidak terlalu ramai.

__ADS_1


"Sayang, Papah sama Mamah, pulang dulu ya!" pamit Adit.


"Kok cepet banget Pah, Mah, kan belum selesai," ucap Nia.


Nayla tersenyum mendengar itu, dia pun mengelus tangan Nia. "Sayang, pernikahan ini kan sederhana, mungkin nanti siang juga udahan. Jadi, Mamah sama Papah pulang ya!" kata Nayla.


Awalnya Nia merengut, tapi saat pipinya dicubit oleh Adit dia pun akhirnya mengangguk.


"Yaudah deh, hati-hati ya Mah, Pah, makasih ya atas semuanya. Nia seneng banget punya orang tua kaya kalian, doain Nia ya! Semoga kedepannya Nia dan Arka akan selalu bahagia." Nia memeluk tubuh Adit dan Nayla.


Adit dan Nayla tersenyum dan membalas pelukan anak tercintanya itu. "Sama-sama sayang, Mamah dan Papah akan selalu doain kamu dan Arka, semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan langgeng," ucap Nayla dan Adit.


"Aamiin," jawab Nia, Yumna, David, dan yang lainnya serentak.


"Dav, Yumna, aku titip Nia ya!" kata Adit.


"Pastinya, tanpa kamu pinta pun gua bakal jagain Nia. Lagi pula sekarang dia adalah seorang menantu di rumah ini. Jadi, udah seharusnya gua jagain Nia," jawab David.


"Makasih, kalau gitu kita permisi dulu ya." Setelah mengatakan itu Adit dan Nayla pun berlalu dari sana.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2