
Bulanpun terus berganti tidak terasa sudah setahun lebih Dahlia bersama suaminya ada di perantauan.
Putra mereka Alam juga sudah mulai bisa bicara walaupun masih ada kata kata yang belum lancar dia ucapkan.
''mama...maa... inta cucu maa...''
rengek Alam pada mamanya yang sedang memasak.
"O'oo...anak mama mau susu ya... tunggu sebentar ya akan mama buatkan ''
Dahlia mencium pipi putranya gemas Alam patuh dengan perintah mamanya,dia duduk sambil memainkan puzle yang di belikan papanya.
Dahlia memberikan susu pada putranya,tidak perlu waktu lama susu itupun ludes.
Dahlia begitu senang melihat perkembangan anaknya yang benar benar subur.
Pipinya gembul badannya gempal siapapun yang melihatnya pasti ingin mencubit dan mencium pipinya.
Kehidupan Keluarga Dahlia sudah sangat bahagia,keuangan pun sudah lebih dari cukup.
Dahlia juga membantu keuangan suaminya dengan berjualan online,sekarang sudah banyak rumah rumah di sekitar komplek tersebut.
Jika pertama mereka datang hanya enam buah rumah khusus karyawan,sekarang sudah berjumlah puluhan rumah berjejer di sana.
__ADS_1
Lokasi yang Dahlia dan suami tempati sangatlah strategis jarak dengan sekolah Dasar hanya seratus lima puluh meter saja.
Tanah dan rumah yang di huni Adam kini sudah menjadi hak milik Adam.
Adam membeli tanah dan rumah tersebut dengan membayar secara cicilan.
Adam juga berencana ingin membeli lahan kosong untuk dia kelola menjadi tanaman sawit.
Kebun bosnya yang berjumlah sepuluh kapling tersebut di kelolanya dengan memperkerjakan orang kembali dengan sistem upah perkilo setiap panen.
Bisa di katakan Adam tangan kedua dari bosnya.Untungnya bosnya Adam orang yang tidak pernah perhitungan,bahkan dia sering memberi bonus untuk Adam ketika hasil jual buah melimpah.
****
Maya memperlihatkan foto Alam yang di pasang Dahlia di story whatsaapnya.
Semenjak Adam membawa pergi anak istrinya di daerah rantau,ibunya Adam seperti hilang sesuatu yang bermakna dalam hidupnya.
Bu nani melihat foto Alam yang ada di ponsel Maya.
Tiba tiba matanya berkaca kaca ada rasa rindu di hatinya ingin memeluk anak dari putranya tersebut.
Maya sengaja memperlihatkan foto foto dan video Alam yang di kirim Dahlia padanya.
__ADS_1
Maya melihat ada titik bening yang menetes dari netra mertuanya.
Ibunya Adam terus memandang foto foto bocah lucu yang pernah tidak di akui sebagai cucunya.
"Dede Al mirip mas Adam ya bu..." Maya sengaja memancing suara mertuanya.
"Adam dulu waktu kecil juga gemuk dan montok seperti Al " entah sadar atau tidak ibunya Adam bicara seperti itu maya tidak mengetahuinya.
Bu nani pun mengambil fotonya Adam waktu kecil dan di berikan pada maya.
Maya mengamati foto tersebut ternyata memang sama Maya memotret foto Adam kecil dan mengirimkan pada Dahlia.
Kini bu Nani menyesali apa yang sudah dia lakukan terhadap Dahlia setelah sekian lama Adam jarang menelponnya sekedar bertanya kabar.
Apalagi menantunya maya belum di beri keturunan sungguh rasa ingin menimang cucu terus memenuhi pikirannya.
Bu nani berniat menelpon Dahlia tapi rasa malu menghantuinya,dia takut jika Dahlia tidak mau bicara dengannya.
Sesalnya pun kian mendera hingga akhirnya dia menangis dalam diam.
Maya mengetahui jika mertuanya yang merindukan cucunya tersebut mencoba melakukan video call dengan Dahlia
alhasil tidak bisa terhubung.
__ADS_1