
Bu Nani membuka matanya Dia terus mengucek matanya apakah dia bermimpi melihat Dahlia di sampingnya.
Bu Nani mencubit tangannya sendiri terasa sakit barulah dia menyadari jika dia tidak bermimpi.
"Bu...Ibu kenapa toh.... rombongan kak lia yang capek koq ibu yang pingsan ...?"
Maya yang sudah paham dengan mertuanya sengaja membuat kelakar.
"Ibu masih tak percaya apakah yang di depan ibu ini Dahlia atau bukan ..."
Bu Nani memegang tangan Dahlia sambil di belainya Dahlia tersenyum mendengar mertuanya.
"ini Lia Bu .... istrinya mas Adam..."
Dahlia meyakinkan mertuanya dengan memegang tangannya.
Ketika itu juga Bu Nani bersujud di kaki Dahlia tangisnya pecah berkali kali dia memohon maaf atas kelakuannya yang dulu.
Dahlia merasa tak nyaman melihat mertuanya yang masih memegang kedua kakinya,dia lalu membantu mertuanya bangkit dan duduk di dekatnya.
"Bu....Lia sudah memaafkan ibu sejak dulu.... karna lia menganggap ibu sama seperti ibu kandung lia..."
mendengar ucapan Dahlia Bu Nani memeluk menantunya tangisnya pun semakin menjadi penyesalannya seperti tidak berguna.
"Ma.... kenapa ada yang berisik sih.... Al terganggu ma... "
Suara parau Al membuat Bu nani menghentikan tangisnya,kini dia mengganti pandangannya menuju cucunya yang benar benar mewarisi wajah papanya.
"Eh ...cucu nenek terbangun ya ... sudahlah sekarang kalian istirahat dulu.... kalian capek..."
Ibunya Dahlia membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Malam pertama di rumah sang nenek Al asyik bermain dengan kakeknya permainannya tidak seperti di rumahnya yang serba elektrik.
Tapi sebuah senapan mainan yang di buat kayu.
Al sangat senang memainkannya.
"kek...kakek pernah nembak dengan senapan asli tidak kek?"
"kalau dulu masih kakek sering berburu babi hutan yang sering merusak tanaman kakek di ladang"
Sang kakek mulai menceritakan pengalamannya menembak dengan senapan rakitannya.
"Wah.....! pasti seru ya kek... besok kita berburu ya kek... Al mau lihat bagai mana kakek menembak …"
Dengan penuh semangat Al mengajak kakeknya berburu.
"Sekarang tidak ada lagi hama hama perusak sebab sudah di buru orang secara masal, yang ada sekarang cuma binatang kecil pemakan buah sawit seperti tupai "
Kakek menjelaskan pada cucunya yang senang mendengar cerita berburu.
"tentu saja ada tapi dengan senapan jenis angin bukan seperti punya kakek yang di rakit khusus hama perusak "
Kakek menjelaskan lagi dengan cucunya yang punya rasa ingin tahu sangat tinggi.
"kenapa mereka memusuhi tupai kek.... tupai itu binatang yang lucu kek...Al suka pelihara tupai "
Nada bicaranya sangat sedih ketika mendengar binatang kesayangannya di buru juga oleh manusia.
"besok mau ikut kakek ke kebun? kita buat perangkap tupai Al bisa pelihara tupai sebanyak banyaknya tempat kakek"
Al senang sekali mendengar penawaran dari kakeknya
__ADS_1
"mau kek ...! besok ya kek ! horeeee...... !!"
Al pun melompat kegirangan
Mereka yang berada di situ tersenyum melihat tingkah Al yang memang sangat aktif.
"Al ... mana oleh oleh yang Al bawa untuk kakek,nenek om dan juga aunty ?"
Tanya Dahlia yang datang dari arah dapur sambil membawakan makanan ringan yang di bawanya dari tempatnya.
"oh iya.... Al lupa... sebentar ya kek,nek om aunty juga..."
Bergegas dia masuk ke kamar dan mengambil beberapa bingkisan yang sudah di bungkusnya rapi.
"Yang ini untuk nenek lina dulu ya.."
Al menyerahkan sebuah bingkisan untuk nenek Lina
"terima kasih cucu kesayangan nenek "
Bu lina menyambut pemberian dari cucunya sambil dia mengecup kening cucunya.
"Kalau yang ini untuk kakek Al"
Al membagi bagikan bingkisan dengan semua yang ada di ruangan tersebut.
"Dan ini yang terakhir untuk Nenek Nani... semoga nenek senang ya nek "
Al menyerahkan bingkisan terakhir untuk nenek nani,mata bu nani berkaca kaca dia menyambut pemberian cucunya.
Di peluknya erat bocah tersebut di ciumnya berkali kali kening dan pipinya.
__ADS_1
"terima kasih sayang jangan hadiah dari anak sebaik kamu,sudah bisa memelukmu saja nenek sudah bahagia "
Ucap bu nani sambil menangis bahagia.