
Di tempat lain,Lala gemetar mendatangi Herman yang sedang duduk menikmati kopi bersama tuannya.
"T- tuan,...nyonya Siska ..e... itu e. "Lala menjadi gugup.
Rudi tidak menghiraukan perkataan Lala,dia asyik dengan benda pipih di tangannya,Herman mengernyitkan keningnya melihat Lala yang seperti ketakutan.
"Kenapa kamu seperti itu,apa yang terjadi?"
Lala semakin takut dengan tatapan Herman,dia tidak berani untuk berkata,dengan gemetar tangannya menyerahkan sebuah selembar kertas yang di tulis oleh Siska.
Herman mengambil kertas itu dari tangan Lala,sejenak memandang Rudi meminta pendapat darinya.
"surat apa itu" Tanya Rudi enteng.
"Anu tuan,dari nyonya Siska"ucap Lala
Herman membuka lipatan kertas dan mulai membacanya.
*Terima kasih untuk kebaikan kalian selama ini telah merawat hingga sembuh,
Maaf telah merepotkan kalian semua,hari ini aku kembali ke kontrakan ku.
Aku ingin bekerja lagi seperti sedia kala.
Untuk Mas Rudi,aku sudah mendatangi kantor agama untuk mengurus kembali surat perceraian yang belum kamu tanda tangani.
Jika mas Rudi berpikir ingin menyiksa ku,pikiran mu salah! justru dirimu sendiri yang akan mendapat kesulitan mendapatkan wanita impianmu jika kamu tidak mau menanda tangani surat tersebut.
Masalah Dosa saya sudah mendapatkan hukuman yang telah membuka mata hati ku yang buta.
Aku telah kehilangan harta yang tidak bisa di setara kan dengan kekayaanmu.
Aku sudah kehilangan bayi ku,bayi yang tidak berdosa,
Satu lagi,Mas Adam tidak bersalah,justru aku yang bersalah datang di waktu yang tidak tepat.
Sekali lagi aku ucapkan terima kasih.
Salam dari ku yang hina
Siska*
Herman menarik napas dengan berat,Andai tidak ada majikannya sudah pasti dia ingin menendang apa saja yang bisa dia tendang sekuat mungkin.
setahun dirinya mengawasi Siska hingga dirinya memberi peluang pada Siska bekerja sebagai pengantar makanan dan minuman di hotel tempat dirinya pernah tinggal di sebuah kamar khusus bersama Lala selama sebulan.
Setelah itu Herman mencarikan kontrakan untuk Siska dan Lala tidak jauh dari lokasi hotel
Selama setahun Herman sering berkunjung ke kontrakan ,seiring waktu berjalan tumbuh benih benih cinta di hatinya untuk Siska,wanita yang sudah menunjukkan banyak perubahan.
Mulai dari tingkah laku dan tutur bahasanya,hanya satu yang menjadi penghalangnya,Status Siska yang masih di gantung oleh Rudi,suami pertamanya.
"Apa isinya "Tanya Rudi.
"Nona Siska kembali ke kontrakannya"Herman tidak menjelaskan panjang lebar isi surat tersebut.
__ADS_1
Di serahkan kertas itu pada Rudi,
Satu hal yang membuatku tenang,kamu tidak pergi jauh dari kota ini
Gumam batin Herman.
"Aku sudah tidak memikirkan sampah itu lagi,aku akan mempercepat prosesnya."Rudi meremas kertas tersebut hingga berbentuk bola,melemparnya ke tempat sampah.
Andai saja aku tidak bekerja untukmu tuan sudah aku pastikan tanganku berlompatan di wajah mu,untung saja jiwa sadar ku masih kuat
Herman menghembuskan napas dengan kasar,tangannya meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.
"Kenapa kamu masih berada di sini,lanjutkan kerja mu" Rudi menatap Lala,dengan cepat gadis itu berlalu.
Sambil berjalan tangannya mengelus dada
Aman sekarang aku juga aman dari segalanya nyonya bukan tanggung jawab aku lagi aku akan berkemas dari kontrakan itu sebelum tuan Herman mengusirku
Suara batin lala.
"Herman,aku mau ke kontrakan Siska yang dulu," Herman tersentak dengan perkataan Rudi antara kaget dan senang wajah murungnya berubah menjadi riang.
"Baik tuan,"Herman membungkukkan badan,berjalan mengikuti majikannya.
Setidaknya aku bisa meyakinkan kamu ada di sana
Batin Herman lagi.
Herman membukakan pintu mobil untuk Rudi,dan menutup kembali dengan pelan setelah Rudi masuk ke dalam mobil.
Tiga puluh menit waktu yang di tempuh mereka sampai di sebuah rumah berukuran sedang.
Mereka turun dari mobil,melihat keadaan rumah yang dulu di kontrak oleh Siska.
Tidak ada tanda tanda rumah tersebut berpenghuni,
"Sepertinya rumah ini kosong tuan"Rudi tidak menggubris perkataan Herman Dia sendiri tidak tahu apa tujuannya membawa Herman ke rumah tersebut
"Tuan mungkin nona Siska tidak kembali ke kontrakan ini,sepertinya dia sudah pindah ke kontrakan baru" Herman sangat kecewa tidak menemukan Siska.
Tapi Herman tidak sedikitpun menampakkan kekecewaannya di depan Rudi.
"Kita kembali ke hotel,"Titah Rudi tegas
Herman mengikuti kemana Rudi ingin pergi,
Suka suka tuan saja yang penting aku akan mencari sendiri jejak siska
Setiba di hotel,Herman mengantarkan tuannya ke ruangan khusus tempat di mana dia menghabiskan waktu bersama laptopnya.
"kamu boleh keluar,dan katakan pada siapa saja yang bisa mengantarkan aku minuman cappucino bersama snack kesukaanku,"Titah Rudi.
Kata yang paling di tunggu oleh Herman,dengan begitu dia bisa mencari informasi tentang Siska melalui Lala.
Lala yang sedang berada di meja resepsionis terkejut melihat kedatangan Herman,tangannya kembali bergetar.
__ADS_1
Mampus aku,habislah riwayatku
"Hei kamu,antar kan secangkir cappucino dan snack kesukaan tuan muda ke atas"Titah Herman pada salah seorang pelayan yang lewat.
"Baik tuan" Jawab pelayan tersebut dan langsung menuju bagian catering.
"Selamat pagi tuan" Ucap Lala sekedar basa basi.
"Hm,jam sepuluh...ya....masih masuk kategori pagi"Herman menatap Lala serius.
Jika Lala tidak tahu menahu tentang Siska hal yang mustahil mungkin ini ada kaitannya dengan surat yang di bawa Lala.
Bisa jadi mereka bekerja sama kenapa sekarang aku yang bego tidak berpikir sampai ke situ.
Ucap Herman dalam hati.
"aku perlu penjelasan dari kamu"Ucap Herman penuh selidik.
Lala sudah bergidik ngeri mendengar ucapan Herman,bulu tengkuknya berdiri membayangkan bagaimana kemarahan Herman nanti di rumah kontrakan.
"Maksud T- tuan bagaimana ?"Lala gemetar.
"jangan berpura pura tidak tahu,jelaskan secara singkat saja" Kini ucapan Herman semakin tegas walaupun nadanya sangat pelan.
"S- saya berani bersumpah tuan,saya tidak tahu menahu,saya mendapat perubahan ship,saya mendapat surat itu di atas meja"Lala ketakutan ingin rasanya Lala pulang dan langsung berkemas pindah dari kontrakan gratis dari Rudi.
"Baiklah,aku akan selidiki sendiri "Herman menatap Lala dengan tatapan mengancam jika Lala telah bersekongkol dengan Siska.
Di ruangan pemilik hotel Rudi sedang memandang photo Dahlia di layar laptop,sesekali dia meneguk minuman cappucino.
Mungkin Herman berkata benar,jika aku tidak mau menanda tangani surat perceraian tidak ada wanita yang mau menjadi kekasihku termasuk Dahlia
Rudi memutar pulpen di yang terselip di jari jarinya,di ambilnya sebuah amplop bewarna coklat,Rudi membukanya sebuah gugatan cerai dari Siska ketika Rudi belum ikhlas melepasnya.
"Mungkin ini sudah kadaluarsa aku akan mendatangi kantor agama untuk menyudahi dendam ini aku juga ingin terbebas dari catatan ikatan perkawinan dengan Siska."
Gumam Rudi.
Aku hanya ingin bertemu empat mata saja dengan Siska aku hanya ingin berdamai saja dengannya aku akan membantunya membebaskan Adam
Lama Rudi berkutat dengan pikirannya akhirnya dia menelpon Herman mengurus semuanya sampai tuntas.
\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,
Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat
Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*
__ADS_1
AUTHOR MOHON MAAF JIKA ADA ALUR CERITA YANG TIDAK NYAMBUNG DENGAN PEMBACA SEMUANYA.