Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
49


__ADS_3

Sebelum keluar dari kamar Adam menatap ke arah siska,


"Masih mau menipuku? kamu bisa lihat sendiri pintu kamar ini bisa di buka oleh siapapun,"


Siska tidak bisa berkata apa apa sampai detik ini dirinya masih heran kenapa pintu itu bisa terbuka oleh siapapun, bukankah herman telah mengatakan jika hanya Herman dan Rudi lah yang bisa mengakses pintu tersebut.


"Hah! betapa bodohnya aku kenapa aku tidak pernah mencoba membuka sendiri pintu itu,dan aku bisa percaya begitu daja dengan pria brengsek itu!"


Siska memaki dirinya sendiri di raihnya tas kecilnya dan hendak keluar dari kamar hotel tersebut.


Klik! klik! klik!


Berkali kali siska menarik gagang pintu kamar siska menjadi emosi pintu itu tidak bisa terbuka.


Siska menendang nendang pintu tersebut sambil berteriak


"hei ... siapapun yang mendengar tolong buka kan aku pintu!"


Siska terus mendobrak pintu itu semuanya sia sia yang ada hanyalah tenaganya saja yang terkuras habis.


"Rudiiii! bukakan pintunya ,Herman! buka pintunya!"


Dengan sekuat tenaga siska memanggil Rudi dan Herman supaya membukakan pintu tidak ada respon sama sekali.


Siska mencoba menghubungi Herman berkali kali siska mengulang panggilan telepon selalu saja di luar jangkauan.


("sialan! ternyata kamu mempermainkan ku, baiklah aku akan ikuti permainanmu Rudi !")


Siska bergumam sendiri siska memilih untuk tidur.


*


Adam menyetop menyetop taksi yang sedang lewat.


Adam menyebutkan alamat tujuannya dengan sopir,setelah sampai di tempat tujuannya Adam menelpon Rudi


Adam


[Rud bisa datang ke tempat biasa,aku perlu bantuan mu lagi ]


Rudi:

__ADS_1


[oke... segera meluncur ke tempat biasa ]


Di saat pikiran Adam sedang buntu dirinya menganggap Rudi mampu membantunya memecahkan masalahnya saat ini.


Rudi telah tiba dengan sifat yang bisa berubah kapan saja seperti bunglon Adam tidak pernah curiga jika dirinya berteman dengan seekor harimau yang bisa menerkamnya kapan saja.


"Hei bro... sudah lama menunggu ?"


Raut wajah psikopatnya menampilkan senyum terbaiknya.


"Sudah lumayan juga, aku hari ini merasa sial Rud, pekerjaanku belum selesai semuanya tertunda karena ulah siska "


Adam langsung mencurahkan kekesalannya hari ini.


"emang lho ketemu sama siska di mana bro "


Rudi bertanya seolah olah dia tidak tahu keberadaan siska.


"Siska berada di hotel milik Pak Anggra tadinya ada seseorang yang membawaku ke sana dengan mengatasnamakan Pak Anggra ingin bekerja sama denganku mengenai lahan yang akan aku sewakan untuk pembangunan hotel di dekat taman wisata"


Adam menceritakan semua kejadiannya dengan Rudi, tanpa ada yang di tutupi.


Rudi menganggukkan kepalanya tanda dirinya menyimak semua cerita Adam yang sebenar sudah tonton secara langsung.


"Hah ... yang benar Rud... apa orangnya bersedia,apa bisa aku ketemu orangnya?"


Adam merasa senang mendengar kabar baik dari Rudi.


"ini orangnya yang akan mengganti posisimu, supaya siska tidak curiga sebaiknya kamu telpon siska sekarang dan tentukan hari pernikahan kalian "


Adam pun menyetujui saran dari Rudi


Adam


[Siska....]


Siska


[kenapa kamu menelpon ku? belum puas kamu merendahkan ku?"]


Adam

__ADS_1


[dengarkan aku dulu siska.... aku menelpon mu untuk membicarakan hari pernikahan kita]


Siska


[hah...pernikahan! apa kamu takut kehilangan aku Adam ! belum saja aku di miliki oleh orang lain kamu langsung membicarakan pernikahan ]


Terdengar suara siska sedang jual mahal dengan Adam


Adam


[bagaimana siska sudah bisa di tentukan atau secepatnya kita mengadakannya ?]


Adam mencoba menahan emosinya


Siska


[Adam... siapa dirimu yang bisa mempermainkan ku sesuka hatimu aku bukan Dahlia yang gampang percaya dengan ucapan mu!]


Telepon di tutup sepihak oleh siska Adam yang sengaja mengaktifkan speaker hpnya supaya Rudi juga bisa mendengar ucapan siska .


"sepertinya siska tidak akan menuntut ku lagi,yah ... baguslah setidaknya aku aman"


Adam berkata sambil menatap Rudi yang dengan santai menyeruput minumannya.


Rudi pun segera pamit untuk pergi di luncurkan mobilnya ke arah hotel miliknya yang banyak orang mengenalnya Anggra.


Di tempelkan arahkan kartu yang di gunakan untuk masuk otomatis pintu pun terbuka.


Siska yang sedang memainkan ponselnya terkejut bercampur senang melihat Rudi datang.


"sayang.... kenapa kamu lama sekali... aku begitu merindukanmu... aku gelisah tanpamu"


Siska berlari ingin memeluk Rudi.


"Stop!"


"kenapa sayang.... bukankah kamu datang untuk anak kita?"


Siska menampakan sifat manjanya


"anak kita katamu... ha...ha... bukankah kamu telah membeberkan kalau aku tidak bisa menghasilkan keturunan?"

__ADS_1


"Siska ..jangan bermimpi kalau aku akan menikahi mu,aku hanya bertanggung jawab dengan anak ku bukan dengan mu!"


Siska membuka matanya lebar tidak di sangka ternyata dirinya benar benar telah di jadikan boneka oleh Rudi.


__ADS_2