
Fathan dan Nia akhirnya pun sampai di kediaman Bayu, banyak mata yang memandang Nia dengan tatapan benci atau tidak suka.
Hal itu membuat Nia merasa canggung dan tidak nyaman, bahkan beberapa teman satu sekolahnya, yang kebetulan ada di sana, terdengar berbisik-bisik membicarakan Nia yang sangat tega menjebak Arka hanya demi cinta.
Mendengar itu Nia tertunduk malu, dan matanya mulai mengembun dalam diam. Fathan menggenggam tangan Nia dan mengelusnya lembut, Nia mendongak menatap Fathan, dan saat mata mereka bertemu. Fathan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Mungkin maksud Fathan Nia tidak boleh mendengarkan ucapan yang mencemoohnya, lagi pula sekarang Arka dan Ayarra sudah kembali bersatu.
Fathan pun menggenggam tangan Nia sampai masuk ke dalam rumah untuk menemui kedua mempelai pengantin.
Terlihat Ayarra dan Arka tengah mengobrol dengan beberapa tamu undangan yang masih kolega atau teman dekat sang ayah, karena memang mereka tidak mengundang banyak orang, hanya orang-orang terdekat atau kolega dari kedua keluarga saja.
Melihat senyum Arka yang tampak sangat bahagia, membuat hati Nia merasa teriris. Kemarin saat mereka menikah Arka sama sekali tidak pernah senyum, bahkan menyambut tamu pun tidak.
Berbeda dengan yang Nia lihat sekarang, Arka tengah berbincang dengan senyum yang merekah.
"Kamu siap ketemu sama mereka?" tanya Fathan dan Nia pun mengangguk.
Fathan pun menggenggam tangan Nia untuk mendekat ke arah kedua pengantin itu. Namun, belum sampai mereka menghampiri Arka dan Ayarra, ada yang mencekal pergelangan tangan Nia.
Nia dan Fathan menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Adit. "Mau ngapain kamu ke sini? mau bikin Papah malu hah?" tanya Adit dengan nada pelan. Namun, terlihat jelas kemarahan di matanya.
__ADS_1
"Nggak Pah, aku cuma mau kasih selamat," jawab Nia lirih.
"Kasih selamat kamu bilang? kedatangan kamu aja udah bikin Papah malu, pulang! jangan temui mereka," geram Adit, dan hendak menarik tangan Nia. Namun, Fathan menahannya.
"Maaf Pak, menurut saya perilaku Bapak, yang seperti ini yang akan membuat malu, tarik-menarik di hadapan banyak orang. Lagi pula yang membawa Nia ke sini adalah saya, jadi, saya pastikan Nia nggak akan buat malu Bapak," tutur Fathan.
"Tapi kamu denger nggak kasak-kusuk tadi?" tanya Adit tanpa melepaskan cekalan tangannya pada Nia.
"Saya denger, tapi bukannya itu wajar? orang berbuat salah itu wajar kalau diomong orang, tapi lambat laun semuanya itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Apa lagi kalau Nia mau berubah, mereka bahkan akan lupa dengan semua yang terjadi, kalau bapak sendiri nggak dukung Nia, gimana dia mau berubah," jawab Fathan membuat Adit terdiam.
Adit menoleh ke arah Nia, kemudian melepaskan cekalan tangannya. Fathan tersenyum, dan kembali menggenggam tangan Nia.
"Ayok kita temui pengantin! habis itu kita langsung pulang," kata Fathan pada Nia.
Nia mendekat ke arah Ayarra dan Arka dengan gemetar dan takut-takut. Dia takut jika Ayarra akan memarahinya dan mempermalukannya.
"Nia?" panggil Ayarra seraya bangkit dari duduknya, Nia menunduk.
Fathan yang melihat itu langsung menjabat tangan Ayarra dan berkata, "selamat ya Mbak, semoga kalian bisa menjadi keluarga yang sakina, mawadah warahmah."
"Aamiin," ucap Ayarra dan Arka serempak. Ayarra memperhatikan Nia yang menundukkan kepalanya dengan bingung.
__ADS_1
Tak lama Ayarra pun memeluk tubuh Nia. "Makasih ya kamu udah dateng, aku pikir kamu nggak akan dateng," ucap Ayarra.
Nia sempat terkejut, karena Ayarra tiba-tiba saja memeluknya. Namun, tak lama Nia pun membalas pelukan Ayarra.
"Kamu nggak marah sama aku Ay?" tanya Nia sambil melepaskan pelukannya.
"Buat apa aku marah? yang lalu biarlah berlalu, yang penting sekarang semuanya udah baik-baik aja." Ayarra tersenyum pada Nia.
"Terima kasih ya Ay, btw selamat buat kalian," ucap Nia.
Ayarra tersenyum padanya, sedangkan Arka diam saja, dia malah memalingkan wajahnya sejak Nia datang.
"Kalau gitu kita pamit dulu, sekali lagi selamat ya buat kalian," ujar Nia kemudian dia turun dari altar pernikahan.
Melihat Nia yang buru-buru pergi, Fathan pun berpamitan pada Ayarra dan Arka, "kalau gitu saya langsung pergi ya Mbak, sekali selamat dan semoga secepatnya mendapatkan momongan."
"Terima kasih," jawab Ayarra. Lalu Fathan pun segera mengejar Nia.
"Ck, pastilah bakal secepatnya dapat momongan, karena nanti malam aku nggak akan lepasin istri aku," gumam Arka. Namun, masih terdengar oleh Ayarra.
Ayarra hanya bisa meneguk salivanya saat Arka bicara seperti itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
hari ini aku post dua bab ya. tungguin aja. makasih 😘