Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Ayarra dan Fathan datang


__ADS_3

Sudah setengah jam Ayarra menunggu kedatangan Doni, tapi dia belum juga keliatan batang hidungnya.


Fathan pun sudah sangat gelisah, dia pun berkeringat dingin, dan berkali-kali dia melirik jam tangannya.


"Mbak gimana kalau kita berangkat sekarang aja, takutnya macet," usul Fathan. Sebenarnya macet hanyalah sebuah alasan saja, karena yang sebenarnya adalah dia ingin cepat menemui Nia.


"Bentar lagi ya! soalnya temen aku lagi di jalan katanya." Ayarra menjawab sambil membaca pesan dari Doni.


Tak berselang lama Doni pun tiba dikediaman Bayu. Ayarra pun tersenyum dan bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah, dan dengan berat hati Angel dan Bayu mengikuti Ayarra.


"Hai Ay, maaf ya tadi aku ke bengkel dulu ," sapa Doni sambil menghampiri Ayarra.


"Iya nggak apa-apa," kata Ayarra.


"Ayok berangkat!" ajak Ayarra dan dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Angel dan Bayu.


"Mah, Pah, aku berangkat dulu ya!" Ayarra berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Iya sayang, hati-hati ya! nanti kalau udah sampai sama namgan lupa hubungi Mamah dan Papah," pesan Angel dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras.


"Iya Mah, udah dong Mamah, jangan nangis kayak gini, aku kan ke sana sekalian mau nemenin Opah Indra, Mamah jangan sedih ya!" Ayarra memeluk tubuh Angel sambil mengusap punggungnya lembut.


Bayu pun terlihat sangat sedih melihat anaknya hendak pergi meninggalkannya itu, tapi dengan cepat dia menghapus air matanya.


"Pah, aku berangkat ya!" Kini Ayarra berpamitan dengan Bayu.


Bayu langsung memeluk tubuh anaknya itu dan menangis dalam diam. "Nanti jangan lupa sering-sering hubungi Mamah sama Papah, ya sayang." Bayu berpesan dan Ayarra mengangguk.


"Yaudah aku pamit ya Mah, Pah." Ayarra menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Om, Tante, aku juga pamit mau nganter Ayarra, dan aku titip motorku dulu ya, nanti pulang dari nganter Ayarra aku ambil," kata Doni sambil mengikuti Ayarra menyalami tangan Bayu dan Angel.


"Iya, hati-hati ya!" balas Angel dan Bayu bersamaan.


Lalu, Fathan pun jalan lebih dulu sambil membawakan koper Ayarra, kemudian Doni dan Ayarra pun mengikuti dari belakang.


"Aku yang bawa aja Mas!" kata Fathan saat Doni ingin naik je kursi pengemudi.


"Ok, kalau gitu aku duduk di belakang sama Ayarra," jawab Doni sambil melemparkan senyuman pada Ayarra.

__ADS_1


"Kita pergi ke rumah Arka, dulu ya!" ucap Ayarra berbisik.


"Lho, kenapa?" tanya Doni.


"Nia, semalam ngundang aku, dan katanya kalau aku nggak datang, Nia bakal marah sama aku," jawab Ayarra sambil menaiki mobilnya.


'pas banget,' batin Fathan tersenyum.


"Tapi apa kamu nggak apa-apa? jangan deh, aku takut kamu sakit hati," kata Doni.


Ayarra tersenyum dan menggeleng. "Aku nggak kenapa-kenapa kok tenang aja," jawab Ayarra.


"Jadi, mau ke mana ini Mbak?" timpal Fathan berpura-pura bertanya.


"Ke rumah Arka, nanti aku pandu jalannya," jawab Ayarra kemudian mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Bayu.


Ayarra membuka kaca pintu mobil, dan membalas lambaian tangan Angel dan Bayu, terlihat wajah sedih dari wajah cantik Angel yang mulai terlihat kerutan-kerutan kecil itu.


Ayarra pun merasakan sedih, tapi dia tak ingin teman maupun orang tua melihat kesedihannya, dan saat mobil itu sudah keluar dari perkarangan rumah.


Ayarra pun menutup kembali kacanya, dan mengatur napasnya, agar tidak merasa cemas, karena sebentar lagi dia akan melihat Arka dan Nia menikah.


***


"Arka sayang, buka pintunya Nak! Pak Penghulunya udah datang lho sayang, nggak boleh gini dong Nak," bujuk Yumna sambil menggedor-gedor pelan pintu kamar Arka.


Semua orang yang berada di luar kamar Arka merasa sangat khawatir pada kondisi Arka.


Mereka takut jika Arka melakukan tindakan yang tidak-tidak. David yang sedari tadi hanya diam pun langsung menggedor pintu kamar Arka dengan sangat kencang.


"Arka, buka pintunya atau Papah dobrak!" teriak David.


"Satu, dua, Arka jangan macam-macam ya! Papah serius, kamu udah janji mau nikah sama Nia, jadi kamu nggak bisa kaya gini Arka." David berteriak sambil mencoba mendobrak pintu tersebut.


"Arka, jangan sampai mancing keributan Nak, malu sama orang-orang yang udah datang," ujar Yumna dengan suara lembut.


"Awas sayang biar aku dobrak paksa aja!" ucap David.


"Jangan Mas, malu sama orang yang ada di bawah. Kasih tau pelan-pelan aja," kata Yumna karena percuma saja jika Arka dikasari, yang ada malah akan semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Betul kata kaka ipar Mas, lebih baik kita pinta aja secara baik-baik. Tahan Mas, jangan emosi." Brian menimpali.


"Tapi dia nggak mau buka pintu Yan, bahkan Pak Penghulunya udah nunggu setengah jam lamanya," bentak David, Brian hanya menghela napas dan mendekati pintu.


"Arka, buka pintunya Nak, kamu kan udah setuju untuk menikahi Nia, jangan kaya gini dong! apa kamu nggak kasian sama Mamah kamu, ayok buka pintunya!" Brian berbicara dengan lembut pada Arka.


***


Perasaan Ayarra mendadak tidak karuan, tubuhnya panas dingin mungkin karena di ujung jalan ini mereka akan sampai di kediaman rumah David.


Itulah sebabnya Ayarra merasa tidak enak, mungkin karena dia akan melihat secara langsung pernikahan orang yang dia cintai bersama sahabatnya.


Ayarra pun berkali-kali mere*mas tangannya, dan mengatur napasnya, berharap rasa gelisah dan tidak enak ini bisa pergi.


Doni yang menyadari perubahan sikap Ayarra tersenyum dan menggenggam tangan Ayarra. "Santai aja Ay, ada aku di sini, kamu nggak usah khawatir," ucap Doni.


Ayarra hanya mengangguk dan tersenyum, beruntung semalam dia memberitahukan pada Doni tentang undangan Nia padanya, dan Doni bersedia menemaninya.


Jadi, Ayarra tidak sendirian datang ke pesta pernikahan Arka dan Nia.


Tak terasa kini Ayarra dan yang lain sudah sampai di depan rumah Arka, hati Ayarra semakin tidak karuan saat melihat karangan bunga bertuliskan selamat menempuh hidup baru untuk Arka dan Nia, dan selamat berbahagia.


Tubuh Ayarra mendadak lemas tak berdaya, dia gemetaran saat ingin turun dari dalam mobil. Beruntung Doni membantunya untuk turun.


Sama halnya dengan Fathan, dia pun merasakan tidak karuan, jantungnya berdegup kencang, dia memejamkan mata dan membuang napas kasar sebelum turun dari mobil.


Saat dirasa sudah tidak terlalu gugup, Fathan pun turun dari mobil mengikuti Ayarra dan Doni.


BERSAMBUNG...


Hai 👋 semoga suka ya sama ceritanya, jangan lupa kalau kalian sudah selesai membaca, tolong ya tinggalkan like and komennya 🙏


Kalau ada typo atau apalah itu yang mengganggu, harap di maklum ya 🙏 jempolku emang suka nakal 😂😂


Kalau ada yang mau ngasih bunga atau love monggo dengan senang hati aku akan menerimanya 😂


Bantulah author Somplak sedikit ini untuk menjadi lebih baik. Terima kasih 😘


~*Salam sayang Author Somplak Dikit*~

__ADS_1


__ADS_2