
"Apa yang udah aku lakukan? sekarang bagaimana kalau semua tau," gumam Arka sambil memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing jika mengingat apa yang dia lakukan.
'aku, nggak mau kehilangan Ayarra, dia satu-satunya wanita yang aku cintai, tapi aku juga bukan pria breng*sek yang akan seenaknya ke wanita lain,' batin Arka.
Arka merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan tanpa sadar dia pun menitikkan air mata saat mengingat kecerobohan yang telah dia lakukan semalam.
Dia merasa tidak pantas untuk Ayarra, bahkan dia akan merasa malu sekali jika menatap matanya. Itulah sebabnya kenapa tadi saat melihat Ayarra dia berpura-pura mengacuhkan Ayarra.
Saat Arka tengah memikirkan apa yang akan dia lakukan ke depannya, Yumna mengetuk pintu kamarnya. "Sayang, apa kamu lagi tidur?" tanya Yumna.
"Nggak, masuk aja Mah! nggak dikunci juga kok." Arka mempersilakan Yumna masuk, kemudian Yumna pun masuk ke dalam kamar Arka.
"Ada apa Mah?" tanya Arka.
"Nggak ada apa-apa sih, cuma mau tanya dikit." Yumna menjawab sambil duduk disamping Arka.
"Tanya apa?" tanya Arka datar, kejadian semalam membuat Arka sedikit frustrasi.
"Apa kamu ada masalah sama Ayarra? soalnya tadi kamu cuekin dia, ditambah semalam kamu nggak pulang. Apa kalian bertengkar lagi?" Yumna bertanya sambil mengelus rambut Arka pelan, dia sangat tau jika anaknya bertingkah seperti ini.
Pasti ada masalah yang tengah Arka coba sembunyikan, karena Arka bukan tipe anak yang akan bertingkah tidak sopan seperti tadi.
Arka menatap wajah sang mamah, ingin sekali dia bercerita tentang apa yang terjadi. Namun, Arka tidak mau jika orang tuanya akan kecewa, terlebih dia tidak mau kehilangan Ayarra.
Arka sangat mencintai gadis itu, bahkan Ayarra adalah cinta pertamanya. Dia mencintai Ayarra sejak gadis itu duduk di bangku SMP.
Arka tidak akan mungkin pacaran dengan Ayarra tanpa bantuan adiknya Alexa, karena Ayarra sangat pemalu dan pendiam sekali.
"Sayang, ditanya kok malah ngelamun?" Yumna menepuk lengan Arka pelan. Membuat Arka seketika kembali tersadar, setelah beberapa saat melamun. Mengingat masa-masa saat dia mendekati Ayarra.
"Nggak apa-apa Mah, aku cuma kecapean aja tadi," jawab Arka.
"Beneran?" Yumna bertanya sekali lagi untuk memastikan, dan Arka meyakinkan Yumna dengan anggukan dan senyuman.
"Yaudah kalau gitu kamu cepet turun ke bawah dan makan, kamu pasti belum makan dari semalam," perintah Yumna.
__ADS_1
"Tapi aku belum lapar Mah," tolak Arka.
"Nggak ada, pokoknya buruan turun ke bawah, atau Mamah, marah sama kamu," ancam Yumna.
"Yaudah bentar lagi aku turun, aku mau ganti baju dulu," kata Arka.
Yumna pun tersenyum dan mengusap punggung Arka, kemudian berlalu meninggalkan Arka.
Arka yang hendak berganti baju teralihkan pandangannya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya, dan ternyata itu dari Ayarra, gadis itu menanyakan keadaan Arka dan meminta maaf jika punya salah.
"Bagaimana bisa kamu menganggap kamu punya salah ke aku sayang, sedangkan kamulah yang selalu membuatku bahagia. Tanpa kamu mungkin aku sudah tidak waras," gumam Arka.
Lalu, dia pun membalas pesan Ayarra dengan mengatakan bahwa dia akan menjemputnya nanti pulang sekolah.
'aku tau aku salah karena sudah mengkhianati kamu Ay, tapi itu semua murni karena kecelakaan, bukan karena aku sengaja, dan aku berjanji nggak akan aku ulangi lagi kesahalan yang sama.' batin Arka.
Setelah membalas pesan Ayarra Arka pun meletakan ponselnya di atas nakas, kemudian segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
Di kamar mandi, di depan cermin besar, Arka mematung menatap tubuhnya, perasaan marah dan kecewa tiba-tiba saja kembali datang dan membuat Arka sangat kesal.
Mata Arka, kembali berkaca-kaca, napasnya memburu, rahangnya mengeras dan giginya bergemulutuk menahan amarah saat mengingat kembali kejadian semalam.
"Nggak, aku nggak bisa gini terus, yang terjadi semalam hanyalah kecelakaan dan aku harus bisa melupakannya. Lagi pula dia juga sudah menyetujui untuk menyembunyikan ini dari semua anggota keluarga, karena ini memang kecelakaan." Arka menyemangati dirinya sendiri. Agar dapat melupakan yang terjadi dan bertingkah seperti biasanya.
Lalu, dia pu kembali melanjutkan aktifitas bersih-bersihnya dan segera turun ke bawah untuk makan.
***
Setelah makan dan mengobrol sebentar bersama kedua orang tua, Arka kembali ke kamarnya lagi. Hari ini dia memang tidak masuk kampus.
Arka kembali memikirkan soal semalam, karena dia teringat cerita dari Neil dulu. Jika seseorang yang baru pertama kali melakukan se*ks, pasti akan ada rasa yang tidak enak dari keduanya, seperti lelah untuk laki-laki dan jika wanita akan sakit.
"Sepertinya aku nggak merasakan lelah sedikit pun," gumam Arka dengan pandangan menerawang lurus ke depan.
"Tapi, nggak mungkin kan dia berbohong, Nia, kan anak baik." Arka menerka-nerka hingga dia tertidur dengan sendirinya.
__ADS_1
***
Sore harinya di sekolah Ayarra tengah berdiri di depan gerbang sendirian, sambil menghubungi Arka yang katanya ingin menjemput dan mengantarkan dia pulang.
Akan tetapi sampai semua siswa-siswi pulang, termasuk Alexa. Arka belum juga datang, ditelepon pun Arka tidak menjawab.
Tadi Alexa ingin menemaninya, tapi Ayarra memintanya untuk pulang, karena mungkin saja Arka sedang dalam perjalanan.
Ayarra mengedarkan pandangannya dengan sesekali melirik ke jam tangannya, ini sudah lebih dari setengah jam dia menunggu Arka.
Sementara Arka yang baru saja terbangun dari tidurnya, terkejut saat melihat jam di dinding. Dia buru-buru bangun mencuci wajahnya, kemudian turun ke bawah.
"Astaga aku telat banget," gumam Arka sambil berlari ke perkarangan rumah, mengeluarkan motornya dan melajukannya menuju ke sekolah Ayarra.
"Belum pulang Ay?" tanya Doni pada Ayarra yang kebetulan baru saja selesai latihan basket.
"Iya, aku lagi nunggu Arka," jawab Ayarra.
"Tapi ini udah mau magrib, aku anterin aja gimana?" tawar Doni.
"Nggak usah deh, bentar lagi juga Arka, datang." Ayarra menolak dan mencoba menghubungi Arka kembali. Namun, karena Arka tadi terburu-buru dia lupa membawa ponsel.
"Di sini sepi lho Ay, udah aku anterin pulang aja yuk!" Doni menarik tangan Ayarra. Hingga Ayarra pun berada sangat dekat dengannya.
Arka yang kebetulan baru saja tiba di sana sambil membawa bunga, untuk permintaan maafnya pada Ayarra soal tadi pagi. Salah paham saat dia melihat tangan Doni yang menggenggam tangan Ayarra dengan jarak yang begitu dekat.
Arka merasa sangat cemburu, dia pun menggeber-geber motornya, membuat Ayarra dan Doni menoleh padanya. Setelah itu dia melewati mereka sambil melempar bunga yang dia bawa.
"Arka," panggil Ayarra sambil mencoba mendekati Arka, tapi Arka langsung melajukan motornya meninggalkan Ayarra dan Doni.
Melihat Arka yang semakin menjauh Ayarra hanya bergeming, kemudian dia mengambil seikat bunga yang tergeletak di tanah.
"Arka, kamu salah paham," gumam Ayarra dengan mata berkaca-kaca.
BERSAMBUNG...
__ADS_1