Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
Terbongkar part 2


__ADS_3

"A-a-apa mak-maksud kamu? ini anak aku bersama suamiku," ujar Nia dengan terbata-bata.


"Kamu pasti tau betul apa yang aku maksud, tanpa aku harus mendetailkan sebuah ucapan," jawab Fathan penuh penekanan di setiap kalimat.


"Hey, Fathan, sepertinya kamu bener-bener udah nggak waras," maki Nayla. Dia merasa kesal mendengar penuturan Fathan, dia merasa jika Fathan ingin menjatuhkan harga diri anaknya.


"Kenapa nggak Ibu tanyakan aja pada anak Ibu sendiri!" kata Fathan dengan lantang.


Adit yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba saja maju ke hadapan Fathan dan langsung melayangkan satu pukulan tepat di hidungnya. Membuat Fathan jatuh ke lantai dan hidungnya memar hingga ke luar darah.


Melihat itu, semua orang terkejut, termasuk Andrian, dia melangkah hendak membantu. Namun, Fathan menggeleng, menolak bantuannya secara halus.


Fathan meringis sambil menyeka darah yang mengalir dari hidungnya.


"Kamu benar-benar udah nggak waras! jangan mentang-mentang kamu karyawan terbaik di mata David, kamu bisa seenaknya menuduh atau berkata seperti itu tentang anak saya." Adit menunjuk Fathan dan hendak melayangkan pukulan kembali. Namun, ditahan oleh David. "Jangan Dit, ini termasuk kekerasan," ucap David.


"Apa lu nggak denger kata-kata dia barusan? dia meremahkan Nia Dav, menantu lu," geram Adit. Namun, David tetap saja menarik tangannya untuk mundur dan menjauh dari Fathan. Meskipun sebenarnya David juga merasa geram.


Sementara Nia sudah menangis tersedu-sedu, entah karena dia memang merasa sedih, atau mungkin karena takut sesuatu terbongkar.


"Saya nggak asal bicara, kalian bisa tanya sama Nia sendiri," tegas Fathan, dan semua orang pun menatap ke arah Nia.


Nia terlihat kebingungan saat semua orang menatapnya, napasnya memburu menahan rasa gelisah dan takut.


"Ke-kenapa kalian li-liatin aku kaya gitu? apa kalian percaya sama ucapan laki-laki ini, sedangkan aku sendiri nggak tau apa-apa dan nggak kenal sama dia," ucap Nia terbata-bata membuat Fathan terkekeh, dan itu membuat semua orang kembali menatapnya.


"Dia bener-bener udah nggak waras," gerutu Adit.


"Kamu yakin? kamu nggak kenal sama aku?" tanya Fathan seraya berjalan mendekat ke arah Nia.


"Hey jangan dekati anak saya atau---." Ucapan Adit terpotong saat Fathan mengacungkan jari telunjuknya, seolah meminta Adit untuk diam.


"Sebaiknya Bapak perhatikan saja dan nilai sendiri, karena apa yang akan saya katakan adalah sebuah kebenaran. Saya emang orang nggak punya, berbeda jauh dengan kalian, tapi saya bukan tukang bohong atau pencipta masalah, kedatangan saya ke sini karena untuk mengambil apa yang menjadi hak saya, dan ingin mengembalikan semuanya seperti semula," tegas Fathan sambil menatap tajam Adit.

__ADS_1


"Dan untuk kamu." Fathan berbalik menatap Nia. "Apa kamu benar-benar melupakan aku? melupakan malam itu, di mana kamu mabuk dan menyebut nama Arka berkali-kali. Bahkan saking frustrasinya, kamu---."


"Stooooppp! Aku nggak kenal kamu jadi tolong jauh dari aku," potong Nia saat Fathan ingin menceritakan soal malam itu.


"Kenapa kamu potong ucapanku? apa kamu tau apa yang mau aku katakan hm?" tanya Fathan pada Nia.


Nia terdiam dan memperhatikan sekeliling, dia menutup mulutnya karena dia baru sadar jika sudah salah dalam bicara. "Aku nggak kenal kamu, tapi aku tau kalau apa yang kau katakan itu adalah sebuah kebohongan," kata Nia sambil menundukkan kepalanya dari Fathan.


"Benarkah? dari mana kamu tau?" desak Fathan.


"Da-dari ... da-dari cara ngomong kamu, ya, aku tau dari cara ngomong kamu," kata Nia.


Fathan terkekeh, Nia yang sedang merasa gelisah pun spontan ikut terkekeh.


Semua orang yang ada di sana semakin dibuat bingung melihat apa yang terjadi, bahkan mereka semua kini bergeming, karena Nia benar-benar seperti orang yang sedang gelisah.


Fathan menarik tangan Nia dan memegang perutnya. "Anak ini adalah milik saya, buah cinta kami," ujar Fathan membuat semua orang kembali tercengang termasuk Arka dan Alexa.


"Saya nggak gila, saya masih waras dan saya punya bukti," jawab Fathan masih dengan menggenggam tangan Nia meskipun Nia sudah mencoba untuk melepaskan tangannya.


"Bu-bukti?" lirih Nia.


"Iya sayang, bukti, aku udah meninggalkan secarik kertas berisikan nama dan alamatku saat itu, tapi kamu nggak pernah hubungi aku, dan ternyata kamu malah menikah sama laki-laki lain dan membawa anak kita masuk ke dalam permainanmu," ujar Fathan dengan tatapan tajam menatap Nia.


Sebenarnya Fathan ingin sekali marah pada Nia, karena kalau sampai Fathan tidak peka dengan situasi maka darah dagingnya akan menjadi milik orang lain.


Beruntung Fathan juga dibantu oleh Andrian yang merupakan sahabat temannya, jadi dengan bayaran yang masih dia sanggupi dia bisa mencari bukti tentang kebohongan Nia.


"Bukti apa? dan mana buktinya?" Kali ini Arka yang bertanya, setelah hanya berdiam diri.


Sebenarnya Arka sangat tidak peduli dengan semua drama yang terjadi, hanya saja jika memang anak itu bukan anaknya maka Arka tidak perlu lagi merasa bersalah pada anggota keluarga dan juga dirinya sendiri.


"Arka, apa kamu percaya sama dia? aku mohon Arka, jangan percaya sama laki-laki ini," ucap Nia. Namun, Arka terlihat tidak peduli, dia hanya ingin tau bukti seperti apa yang Fathan miliki, yang secara tidak langsung bisa membuktikan jika dia tidak bersalah.

__ADS_1


"Andrian!" panggil Fathan dan Andrian pun mengangguk.


Andrian membuka sebuah tas kecil dan mengeluarkan beberapa kertas dan flashdisk dari dalam tas tersebut.


"Ini foto diambil saat Bapak Fathan pertama kali bertemu dengan Mbak Nia, di sini juga tertera tanggal dan bulan, bisa kalian liat sendiri!" Andrian menyodorkan selembar foto pada Arka.


"Gimana bisa hanya satu foto itu membuktikan kalau aku kenal laki-laki ini?" bentak Nia sambil mencoba melepaskan tangannya, karena dia ingin membuang semua barang yang ada di atas meja tersebut.


Akan tetapi Fathan dan Andrian tidak mempedulikan bentakan dan racauan Nia.


"Dan ini foto mereka saat mereka ke hotel xxx, saat itu Bapak Fathan tidak tau Mbak Nia itu siapa, sedangkan Mbak Nia kondisinya mabuk berat, tapi walaupun begitu Mbak Nia sendiri yang---."


"Yang apa?" tanya Arka.


"Maap sepertinya Anda bisa mengerti maksud saya," jawab Andrian, dan Arka pun mengangguk.


"Dan ini kertas yang sengaja Bapak Fathan tinggalin di atas nakas samping Mbak Nia tidur, agar saat Mbak Nia tersadar beliau segera meminta pertanggung jawaban dari Bapak Fathan, tapi nyatanya dia tidak menelepon atau memberikan kabar apa pun, dan kertas ini ditemukan oleh Bapak Fathan beberapa hari lalu di kolong kasur Mbak Nia." Andrian kembali menjelaskan dan menyodorkan bukti demi bukti pada Arka dan yang lainnya.


"Nggak, itu bohong kalian jangan percaya." Nia mulai meraung tidak jelas sambil menangis tersedu-sedu. Tangannya masih digenggam kuat oleh Fathan sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap bukti-bukti itu.


"Semakin kamu mengelak, semakin keliatan kalau kamu memang bersalah," tegas Fathan.


Nayla yang melihat kertas yang sudah setengah dibakar itu, teringat saat dia memergoki Nayla membakar sebuah kertas di kamarnya.


Nayla menoleh pada Nia dengan wajah bingung.


"Dan ini laporan medis Mbak Nia saat pertama kali ke klinik dan mengetahui jika dia hamil, kemarin saat Mbak Nia dan Ibuk Nayla pergi ke rumah sakit xxx bertemu juga dengan dokternya bukan? Bukankah beliau juga menyebutkan angka kehamilan Mbak Nia?" Andrian memberikan foto demi foto beserta informasi yang sudah dia dapatkan sambil melirik ada Nayla.


Spontan Nayla mengangguk, karena apa yang dikatakan oleh Andrian ada benarnya, kemarin saat Dokter itu memeriksa Nia wajah Nia seketika berubah, dan dokter itu pun menyebutkan jika Nia hamil dua bulan.


"Ini tanggal dan bulannya jauh, sebelum pesta malam itu," gumam Alexa saat membaca tanggal di kertas pemeriksaan itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2