Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 113


__ADS_3

"Mendengar apa?" ketus Diana.


"Mendengar kalau aku bicara soal aku dan David," jawab Nayla dengan tatapan tak kalah tajamnya pada semua orang.


"Apa-apaan kamu hah? Soal aku dan kamu apa?" teriak David.


"Rani, ada apa ini?" tanya Indra, pada Rani. Namun, Rani tidak menjawab, dia malah menunduk dan menangis.


"Sebenarnya ada apa ini?!" sambung Indra, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Mengapa tiba-tiba Yumna pingsan dan maksud dari ucapan Nayla. Indra, tidak mengerti semuanya.


"Sebenarnya aku sama David---"


"Stop, Nay, jangan bahas kisah yang lama, lagi pula semua itu tidak benar," potong David saat Nayla, ingin menjelaskan pada Indra dan yang lain.


"Apanya yang belum tentu benar? Sudah sangat jelas kalau itu nyata, aku yang sadar dan aku yang merasakannya, Mas," teriak Nayla. Dia mulai terpancing emosi.


Indra semakin dibuat bingung oleh Nayla dan David, sedangkan Ajeng memegang tangan David untuk tidak emosi. Brian pun mulai merasa geram dengan semua ini, luka yang sudah lama hilang kini kembali menganga.


Brian kembali teringat saat dia ingin melamar Nayla, tapi dia menolaknya dengan alasan Brian yang tidak pernah ada waktu untuknya. Namun, ternyata Nayla, mencintai David, calon Kaka iparnya itu. Lalu, selang beberapa minggu Nayla, mengaku hamil oleh David, hal itu sukses membuat Brian kecewa. Hingga akhirnya dia melakukan hubungan badan bersama Diana, dan di Saat dia ingin menikahi Diana. Keluarga Wijaya menolak dengan alasan kalau Brian hanya ingin menjadikan Diana, pelampiasan. Padahal Brian benar-benar sudah jatuh cinta dengan Diana, karena hanya Diana-lah yang selalu ada untuknya disaat dia merasa terkhianati oleh Nayla.


Namun, karena niat baiknya tidak di dukung, Brian yang tengah emosi itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Hingga bertahun-tahun lamanya, Brian ingin menyembuhkan luka hatinya dan mulai berlajar mendewasakan diri.


Hingga akhirnya Adit, mengabari bahwa David telah menikah dengan Yumna, dan saat itu Yumna pergi meninggalkan David. Hanya karena salah paham, Brian yang tidak tega mendengar cerita bahwa David, hampir seperti orang gila karena kehilangan Yumna, akhirnya memutuskan untuk kembali.


Dulu Nayla, adalah adik kelas Brian dan Diana, di SMA xxx, Brian sudah kagum pada sosok Nayla, saat dia berkunjung pertama kali ke kediaman keluarga Wijaya bersama dengan Rani.


Dimata Brian, Nayla, adalah wanita yang mandiri. Awalnya Rani, tidak mengijinkan Nayla, sekolah di Jakarta seorang diri, tapi karena dia Nayla bersikeras ingin sekolah di sana. Di tambah Nayla, tengah dekat dengan Brian, maka Rani, mengijinkan Nayla, untuk sekolah bersama Brian dan Diana.


Tak butuh waktu lama untuk pendekatan dengan, Nayla, karena saat Brian mengungkap cinta padanya, langsung dijawab iya oleh, Nayla.


Lalu, mereka pun menjalin hubungan, tapi baru setengah jalan, Nayla, merasa kalau Brian, terlalu dekat dan mesra dengan Diana, dan itu membuatnya cemburu hingga sering mengeluh pada David.


David, sendiri selalu bersedia mendengarkan curhatan dari Nayla, dan dia pun selalu baik padanya semata karena Nayla, adalah calon adik iparnya. Namun, Nayla salah paham dengan kebaikan David. Hingga menimbulkan perasaan dalam hati Nayla.


"Ada apa ini? merasakan apa ada yang bisa bantu jelaskan?" tanya Indra saat mereka semua mendadak diam.


"Om, sebenarnya aku sama Mas David---"


"Nayla, Mamah bilang lupakan sudah lupakan, ini semua salah kamu yang terlalu bodoh. Jadi, ayok sebaiknya kita pulang ke Jogja!" Rani memotong ucapan Nayla, dan menarik tangannya. Namun, Nayla, menepis tangan Rani.


"Tunggu Mah, Nayla, ingin meminta pertanggung jawaban dar---"


Plakkk


Rani, menampar pipi Nayla, dengan sangat kencang. Nayla, memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya menatap Rani, tak percaya. "Mamah tampar aku? padahal aku tidak salah apa-apa," ucap Nayla.


"Kamu harusnya sadar, yang lalu biarlah berlalu. Nggak usah kamu ungkit lagi, harus berapa kali mamah bilang, semua itu karena kesalahan kamu juga. Kenapa kamu hanya menyalahkan orang lain?" tutur Rani.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa ini? kenapa kalian malah buat drama di sini?" kesal Indra karena semuanya seolah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Sebenarnya, ini semua salah paham, aku-----"


"Eugh..." ucapan David terpotong karena Yumna sudah sadar dari pingsannya.


Yumna mengedarkan pandangannya. "Arka, mana Pah?" tanya Yumna pada Indra.


"Arka, lagi keluar sebentar sama Mbak Mala, kamu kenapa sayang? kenapa sampe pingsan?" Indra mengelus rambut panjang Yumna.


Yumna tidak menjawab matanya malah menatap David dan Nayla, bergantian, dia kembali teringat dengan apa yang dia dengarkan sebelum dia kehilangan kesadaran.


'berbagi keringat? berbagi kenikmatan?' batin Yumna dan seketika dia merasakan pusing kembali.


"Sayang kamu kenapa?" tanya David saat Yumna, memegangi kepalanya.


"Aku nggak apa-apa, Mas," jawab Yumna singkat sambil turun dari brankar.


Sebenarnya Yumna, ingin bertanya soal apa yang dia dengar tadi. Namun, karena kondisi David, dia mencoba untuk bersabar lebih dulu, jika David sudah keluar dari rumah sakit nanti. Barulah Yumna, akan bertanya soal ini.


"Kenapa turun? istirahat aja di sini, brankar ini muat untuk kita berdua," tanya david sambil tersenyum manis pada Yumna.


"Nggak apa-apa, aku turun aja dan tidur di sofa," jawab Yumna tanpa menatap wajah David.


Hal itu membuat David merasa kalau ada yang Yumna sembunyikan. 'apa benar Yumna, mendengar kesalah pahaman itu?' batin David sambil memandangi wajah cantik Yumna.


"Alka bawain jajanan buat mamah, sama papah, bial cepet sembuh," sambung Arka membuat Yumna dan David serta yang tersenyum.


"David, Papah, masih butuh penjelasan kamu soal tadi," sindir Indra yang merasa ucapan Nayla, tadi belum selesai.


"Iya, Pah, kapan-kapan David akan menjelaskan semuanya sama Papah," jawab David.


Yumna melirik pada David sebentar kemudian langsung menggendong Arka, dan mengajaknya untuk duduk di sofa. David memperhatikan Yumna dengan sendu karena Yumna tidak menatapnya sama sekali seperti orang yang tengah menghindar.


Nayla, yang melihat pemandangan itu tersenyum. Entah kenapa dia merasa bahagia sekali melihat Yumna yang seolah-olah tidak ingin melihat wajah David.


"Kalau gitu, Yumna, Indra, semuanya kami permisi dulu ya," pamit Rani.


Yumna, Indra, dan David mengangguk sedangkan yang lainnya malah memalingkan wajah mereka.


"Dasar orang nggak waras, udah berabad-abad masih aja di bahas," gumam Diana tapi masih dapat di dengar oleh orang lain.


"Ssstttt." Brian memperingatkan Diana untuk tidak membahas hal itu lagi.


"Kalau gitu, Nji, Ajeng, Ndra, kami juga pamit pulang ya! Pokoknya selamat untuk kalian semua, akhirnya kalian beneran besanan," pamit Broto sambil mengucapkan selamat pada Ajeng, Panji, dan Indra. Mereka tersenyum dan bersalaman.


"Yumna, David, selamat ya sayang buat pernikahan kalian, semoga kalian selalu bersama sampe kakek nenek, dan Arka, segera punya adek." Mira memberikan doa nya pada Yumna, David, yang langsung di aamiinkan oleh keduanya.

__ADS_1


"Yaudah kami pamit ya!" Broto dan Mira pun pulang.


"Mamah sama Papah, juga pamit pulang ya sayang! besok atau nanti malam kita kesini lagi," pamit Ajeng dan David mengangguk.


"Diana, Brian, ayok! Kok malah diem aja sih," protes Ajeng saat Diana dan Brian diam saja.


"Eh, kita juga diajak toh," jawab Brian cengengesan.


"Ya iyalah, kita kan berangkat bareng," ujar Ajeng.


"Yaudah kalau gitu, Mas, Kaka ipar Om, kita pulang dulu ya!" Brian menyalami tangan David, Indra dan Yumna diikuti oleh Diana.


"Iya, hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut!" jawab David sambil memperingati Brian.


"Iya, Mas bawel banget sih," cibir Brian lalu mereka pun keluar.


Satu jam kemudian Indra pun pamit pada David dan Yumna karena Arka, terlihat sangat mengantuk. Kemudian Adit pun ikut berpamitan pulang karena pekerjaannya masih sangat banyak.


Kini tinggal David dan Yumna saja di sana, dan mereka pun tidak terlibat percakapan apapun. Yumna asik dengan ponselnya sedangkan David diam memandangi wajah cantik Yumna.


"Sayang, kamu kenapa sih? dari tadi cuek banget sama aku," tanya David pada Yumna, yang tengah duduk di sofa.


"Aku nggak apa-apa, Mas, memangnya ada yang, Mas butuhkan?" jawab Yumna santai tanpa menoleh pada David.


"Yumna, jangan bohong sama aku, aku tau ada yang kamu sembunyikan," ucap David membuat Yumna langsung mendongak menatapnya.


"Maksud, Mas apa?" tanya Yumna.


"Mungkin kamu habis mendengar sesuatu," tebak David.


"Memangnya apa yang aku dengar?" tanya Yumna dengan tatapan menyelidik.


"Apapun itu, percayalah sayang kalau itu semua salah paham dan aku akan menjelaskannya nanti," tutur David.


Yumna, hanya diam sambil menatap wajah dan mata David, dia mencari kebohongan dari mata itu. Namun, yang dia lihat hanyalah cinta dan kejujuran di sana.


"Aku cuma berharap kali ini kamu nggak akan kecewakan aku lagi, Mas," ucap Yumna.


David tersenyum. "Aku janji, aku nggak akan mengecewakan kamu lagi, aku nggak akan pernah mengulang kebodohanku lagi. Aku nggak akan sanggup kehilangan kamu," tutur David.


Yumna, tersenyum sangat manis pada David. "Duduknya di sini dong! deketan biar mesra." David menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.


"Udah sini, nggak usah malu-malu segala. Kamu kan udah tau semua bentuk tubuhku begitu juga sebaliknya. Aku udah tau semua bentuk kamu." David menggoda Yumna.


"Mas, apa-apaan sih? Malu tau," ucap Yumna membuat David terkekeh.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2