Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
70


__ADS_3

Hingga malam yang puncak acara di mana para mahasiswa jurusan perhotelan berkumpul di aula hotel tempat Lala magang.


Hati Lala berdebar perasaan panik grogi senang bercampur menjadi satu,berkali kali dirinya merapikan rambut yang di sanggul rapi.


"La,kamu kok seperti orang mau ketemu calon suami saja,"salah seorang teman Lala menegur.


"Aku nervous Ci,"katanya pada Cici.


"Santai saja La,tapi kamu cantik deh,cocok banget kamu jadi resepsionis hotel ini," puji Cici .


Lala bertambah grogi dengan pujian temannya,suara seorang pembawa acara terdengar menggema di mikrofon.


Lala berdiri di tempat yang sudah di tentukan menunggu saatnya untuk menyematkan pita tanda terima kasih dari semua mahasiswa.


Tiba saatnya pembawa acara mempersilahkan pemilik hotel memberikan kata sambutan sekaligus wejangan untuk pemagang.


Deg! jantung Lala berdetak suaranya sangat tidak asing di telinga Lala,dia pun mengintip dari balik gorden.


Tuan menyebalkan


"Oh,mati aku " Lala bergumam kecil.


"Kenapa La"


"Eh e gak ada " Lala gugup.


Sebagai tanda terima kasih dari kami mahasiswa magang kami ingin memberikan sebuah kesan cindera mata,mohon sekiranya Bapak Anggra bisa menerimanya.


Tepuk tangan dari tamu yang hadir memenuhi aula,


"La,ayo kita maju " Cici menggerakkan badan Lala.


Dengan langkah yang di paksakan Lala maju bersama Cici,tangannya gemetar tatkala memberikan cindera mata yang sudah si kemas oleh tim mereka.


Di saat menyematkan pita di baju Pemilik hotel,tangan Lala semakin gemetar.


Rudi sengaja membusungkan dadanya,dia maju selangkah mendekat pada Lala.


"Katakan pada teman temanmu jika kamu bisa langsung bekerja di hotel milik saya nona" Bisik Anggra Surya Rudiart.


Lala terhenyak tidak berani menatap Rudi,


setelah selesai menyematkan tibalah acara foto bersama,Lala tidak berniat sama sekali.


Dia mengasingkan dirinya di dekat meja resepsionis.


"Hai nona,kenapa orang orang berebutan berfoto bersama saya dan kamu menghilang seperti cenayang" Rudi tiba tiba muncul.


"Tuan! bukankah tuan yang seperti cenayang " Lala kebablasan.


Herman ingin sekali mencekal lengan Lala,Rudi segera mencegahnya.


"Sampai jumpa besok nona," Rudi tersenyum mengerikan.


Rudi berjalan menuju mobilnya,hingga di dalam mobil Rudi masih diam bibirnya masih sedikit tersungging senyum misteri.


Apa yang tuan pikirkan saat ini,,apa dia melihat nona Lala berpenampilan menarik seperti tadi ya


"Her,apa kamu sudah mendapat kabar bagaimana Dahlia saat ini ?"


"Sudah Tuan,nona Dahlia belum bisa move on dari Adam,menurut orang orang saya,Dahlia sudah menjual butiknya" Herman terdiam sesaat.

__ADS_1


Rudi juga masih menunggu kelanjutan cerita dari Herman.


"Nona Dahlia sekarang sedang membuka usaha berbagai jenis produk kecantikan di dekat pasar induk daerahnya" Lanjut Herman lagi.


"Aku mau kamu memasarkan produknya secara diam diam,dan buatlah beberapa pebisnis handal merangkul usahanya" Titah Rudi.


"Baik tuan" Jawab Herman tegas.


Sekuat apapun usaha anda tuan,tidak akan bisa jika tuan tidak membereskan dulu status nona Siska.


Herman.


Tiba di rumah pribadinya,seorang penjaga membukakan pintu,seperti biasa mereka akan mengucapkan salam untuk majikan mereka.


Rudi melempar bajunya asal,Herman pun segera mengambilnya dan menyimpan di tempat khusus pakaian kotor.


"Her,apa kamu tidak berniat mencari istri atau pacar ?" Tanya Rudi.


Herman menghentikan kegiatannya,detak jantungnya serasa terhenti sesaat jika mendengar kata 'istri'


"Sedang berusaha tuan " Jawab Herman.


"Bagus,berusahalah untuk jatuh cinta pada wanita,biar kamu tahu rasanya " Rudi pelan berkesan tegas.


"Iya Tuan,saya akan berusaha mencintai seorang wanita ".Herman tegas


"Besok aku ingin berkunjung tempat Dahlia" Rudi bangkit berdiri mengambil gelas mengisinya dengan air.


"Baik tuan,"


Kenapa aku tidak tinggal saja Tuan


••••


Keesokan harinya,Herman sudah menyiapkan keperluan dirinya dan Rudi untuk pergi ke daerah di mana Dahlia tinggal.


"Aku akan pergi sendiri ke sana,kamu di sini saja,awasi Lala dan Siska," Herman menjadi kalang kabut dengan tuannya yang tiba tiba ingin pergi sendiri.


Di sisi lain hatinya dia merasa senang karna bisa merawat Siska.


"Baik tuan" Herman mengambil lagi koper miliknya.


Inilah yang aku inginkan tuan


Rudi di antar sopir menuju bandara,Rudi tidak ingin menggunakan jalur darat,karena akan memakan waktu yang lama.


Penerbangan berjalan mulus pesawat mendarat dengan selamat di bandara yang terletak dua puluh tiga puluh kilometer dari kampung Dahlia.


Rudi turun dari pesawat yang berukuran tidak terlalu besar,pasalnya penerbangan di tempat tersebut belum berskala internasional.


Seorang pria sebaya dengan Rudi datang menghampirinya.


"Selamat datang tuan,mari tuan mobilnya ada di sana" Ternyata dia adalah orang kepercayaan Herman.


Herman sengaja menelpon 'suruhannya' untuk menjemput bos besar mereka.


Rudi tidak menjawab,hanya mengikuti langkah kaki pria tersebut,


"Tuan masih mau berkeliling atau langsung menuju penginapan tuan ?" tanya pria tadi.


"aku ingin berkeliling kota kecil ini,di mana restoran terbaik kota ini ?" Rudi memperbaiki posisi duduknya di dalam mobil.

__ADS_1


"Siap tuan,restoran ada di sebelah selatan tuan," ucap pria tadi lagi.


"Siapa namamu,Herman tidak memberitahu ku,dia hanya mengatakan jika kamu menjemput ku" Tanya Rudi yang mengenal wajah pria tersebut dari foto yang di kirim Herman.


"Saya Santo tuan" Jawab pria bernama Santo.


"Rumahmu di mana,"


"Di pinggir kota sebelah barat" jawab Santo.


Rupanya Herman pintar mencari orang kepercayaannya, kamu memang tidak di ragukan Her,


Di sebuah restoran bertema cafe salah satu restoran terbesar di kota kecil yang Rudi kunjungi,Rudi keluar dari mobil berjalan menuju restoran.


"Santo,kenapa kamu tidak duduk,"Santo menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rudi.


"Pesankan menu andalan mereka di sini " Titah Rudi.


"Siap tuan" Santo mengangguk,memanggil pelayan yang lewat.


Sedang menunggu pesanan datang,Rudi melihat ke arah luar,kebetulan mereka duduk dekat dengan dinding kaca.


Matanya enggan berpindah menatap sebuah ruko berlantai dua,di atasnya tertulis nama toko Dahlia Beauty .


Tidak sulit bertemu denganmu Dahlia,Ini adalah hari baik ku


Santo melihat Rudi yang menatap toko yang baru buka beberapa bulan yang lalu,


Pasti tuan sedang mencari pemilik toko itu,janda cantik yang sering kami selidiki.


bos Herman sering bercerita padaku.


"Tuan,tuan,makanannya sudah datang," Santo bingung bagaimana cara memanggil Rudi.


Santo memanggil pelayan untuk memberitahu Rudi,jika makanannya sudah datang.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku Santo!" Rudi menatap tajam pada santo.


"Maaf tuan,dari tadi tuan melamun,saya tidak berani menyentuh pundak tuan,saya memanggil pelayan sebab dari tadi tuan saya panggil sepertinya tuan sedang memikirkan sesuatu ," Santo membela diri.


"Hahhhh, " Rudi menarik napas panjang.


"Kamu sudah menikah?" tanya Rudi


"Minggu depan saya bertunangan Tuan,"


Kenapa arah pembicaraannya lalu berbelok,dari makan lalu ke pernikahan,bisa jadi nanti bicara soal berapa orang mantan pacar,hah .. tuan ini aneh.


Batin Santo.



\*\*Hai sahabat pembaca setia Bukan Menantu Pilihan,



Dukung terus author ya,beri like dan komen biar author tambah semangat



Beri vote juga,terima kasih sahabat baca ku 😊😊\*\*

__ADS_1


__ADS_2