Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
kepergian Bayu.


__ADS_3

Sesampainya di rumah keluarga Indra Kusuma. Adit turun dari mobil dengan tergesa-gesa, sambil menenteng kerak telor yang tadi dia beli di jalan.


Kerak telor adalah makanan kesukaan Nayla, Adit masih ingat jelas gimana dulu Nayla merengek pada Brian supaya mau membelikannya kerak telor.


Adit tersenyum saat memasuki teras kediaman keluarga Indra Kusuma diikuti oleh Brian. Sesampainya di depan pintu Adit langsung menekan bel.


"Beli kerak telor buat siapa sih?" tanya Brian dengan kening yang mengkerut.


"Buat semua yang ada di sinilah," jawab Adit, dan tak lama pintu pun dibukakan oleh Nayla.


Adit langsung tersenyum manis pada Nayla. Sedangkan Nayla hanya menatapnya datar dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk.


"Duduk dulu aja! biar aku panggilkan, Mas David dan Mbak Yumna." Setelah mempersilakan Brian dan Adit duduk Nayla pun beranjak dari sana.


Namun, langkahnya terhenti oleh seruan Adit. "Tunggu! ini aku bawain kerak telor buat kamu," ujar Adit seraya menyodorkan satu kantong plastik berisikan kerak telor.


Nayla, melirik pada plastik itu lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tidak menerima kerak telor yang Adit belikan.


Sedangkan Brian hanya diam memperhatikan interaksi mereka berdua dengan tanda tanya besar di benaknya.


Adit tersenyum getir lalu duduk di samping Brian, dari dulu Nayla memang seperti itu. Dia akan berbicara pada Adit saat David atau Brian tidak ada saja, tapi jika keduanya ada maka dia akan bersikap seolah-olah tidak mengenalnya.


Brian menoleh pada Adit sambil memicingkan matanya.


"Kenapa lu liatin gua begitu?" tanya Adit dengan nada ketus.


"Lu naksir sama, Nayla?" tebak Brian.


"Enggak gua cuma---" ucapan Adit terpotong oleh David.


"Ada apa nih kalian berdua ke sini?" tanya David sambil mendudukkan dirinya di samping Brian.


Dia juga sempat memukul bahu Brian pelan. Lalu, tersenyum.


"Enggak, gua cuma mau nyerahin laporan hari ini." Adit menjawab sambil memberikan map berwarna merah pada David.


David sempat bingung, tapi dia tetap menerima map yang diberikan Adit. David membuka map tersebut kemudian membacanya dengan saksama.


"Tumben ngirim langsung, biasanya lewat ponsel atau besoknya," tanya David pada Adit sambil membaca setiap lembaran kertas itu.


"Ya gua lagi pingin aja, oh iya ini gua juga belikan kerak telor banyak-banyak buat semua yang ada di sini." Adit menjawab sambil menggeser plastik yang ada di meja agar plastik itu lebih dekat dengan David.


Aktifitas David terganggu, dia melirik pada plastik yang ada di meja. Namun, dia kembali melanjutkan membaca laporan hari ini.

__ADS_1


"Sejak kapan gua suka kerak telor?" sindir David, tapi matanya masih fokus membaca laporan kantor hari ini.


"Nah, itu aku juga heran, Mas, nggak biasanya kan dia bawain kita makanan," timpal Brian.


Adit yang merasa tersudutkan hanya bisa diam menunduk, dia masih belum siap jujur pada semuanya jika dia menyimpan rasa pada Nayla.


"Kalau kalian nggak mau, ya buat aku aja. Dibawain bukannya dimakan malah banyak tanya," cibir Yumna yang baru saja datang bersama Arka.


Dia membuka plastik itu dan menyuruh asisten rumah tangganya untuk memanggil semua orang. Termasuk Nayla dan Tante Rani, hal itu sukses membuat Adit tersenyum bahagia.


Tak berselang lama Nayla, Tante Rani dan Indra pun datang.


"Ada apa sayang?" tanya Indra.


"Ini, Pah, Adit, bawain kerak telor buat kita. Makan yuk! David dan Brian nggak mau soalnya," jawab Yumna.


"Eh, Kaka ipar aku nggak pernah bilang kalau nggak mau," ujar Brian.


"Lho, bukannya tadi kamu sama Mas David nggak mau? bukannya tadi kalian bilang sejak kapan aku suka kerak telor?" sindir Yumna sembari menahan senyum ketika melihat wajah melas Brian.


"Mas David, yang bilang gitu, aku nggak." Brian langsung mengambil kerak telor yang ada diatas meja.


David terkekeh melihat tingkah Yumna dan Brian. Yumna sekarang memang lebih berani berinteraksi dengan anggota keluarga Wijaya.


Beda dengan Yumna yang dulu, yang hanya akan bicara jika ditanya.


Sedangkan Nayla, bersikap acuh pada mereka semua, sebenarnya dia juga enggan untuk berada disini.


Namun, karena Rani memaksa dengan alasan tidak sopan dan sebagainya.


Saat semua orang tengah tersenyum menyantap kerak telor bawaan Adit. Bel rumah itu berbunyi, asisten rumah tangga di sana segera berlari untuk membukakan pintu.


Lalu, aktivitas makan-makan itu pun terhenti saat Bayu datang sembari menyeret koper besar.


"Mas Bayu, sini mas duduk dan kita makan kerak telor!" Yumna mempersilakan Bayu untuk duduk dan gabung bersama mereka.


"Terima kasih Yumna, sebenarnya kedatangan aku ke sini hanya untuk berpamitan sama kalian," jawab Bayu.


"Lho, memangnya mau kemana?" tanya Yumna.


David yang mendengar itu langsung menatap Bayu.


"Aku mau ngurus kantor, Om, yang ada di Jerman, aku juga udah ngomong dan ijin kok ke, Om Indra." Bayu menjawab sembari menahan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


Ingin rasanya Bayu memeluk Yumna saat ini juga, tapi dia tidak bisa melakukan itu, karena Yumna sekarang sudah menjadi istri orang.


"Kenapa mendadak?" tanya Yumna.


Bayu, tidak menjawab dia hanya tersenyum lalu menyalami Indra dan Tante Rani, tak lupa dia juga bersalaman dengan David, Brian dan Adit.


"Kalau gitu aku pamit dulu ya, semuanya!" setelah mengatakan itu Bayu melangkahkan kakinya.


Namun, baru saja dia hendak beranjak melangkah, Arka datang dan menghentikan langkah Bayu.


"Om, mau kemana?" tanya Arka sambil melirik koper Bayu.


"Om, mau kerja," jawab Bayu sambil berjongkok.


"Kelja dimana?" Arka bertanya dengan bibir yang sudah dia manyunkan.


"Kerja di rumah Arka dulu," jawab Bayu.


Sungguh jika di sini hanya ada Arka dan Bayu, dia yakin dia akan segera menangis hingga tersedu-sedu.


Dia paling benci melihat wajah sedih Arka, dulu setiap Arka bilang kangen dan menangis hanya karena merindukan Bayu.


Bayu akan langsung memesan tiket hanya untuk menemui Arka.


"Kenapa, Om, pelgi?" Arka mulai merengek sambil memeluk tubuh Bayu.


"Kalau alka kangen gimana?" tanya Arka.


"Kan bisa telpon," jawab Bayu sambil mengelus punggung Arka dan menciumi rambut Arka penuh cinta.


"Nanti, Om, akan sering main ya!" bujuk Bayu karena Arka tidak mau melepaskan pelukannya, padahal dia sudah tidak bisaa lagi menahan air matanya.


"Arka anak pinter kan?" tanya Bayu dan Arka mengangguk.


"Kalau gitu, Om, pamit dulu ya!" Bayu melepaskan pelukannya dan mencium pipi gembul Arka.


Lalu segera bangkit dari jongkoknya, dan berjalan keluar diikuti oleh Yumna dan Indra serta yang lainnya.


"Kalau gitu aku pamit dulu ya semuanya," pamit Bayu, sambil berjalan ke mobilnya.


Mata David memicing tajam saat melihat wanita yang ada di dalam mobil Bayu.


Dia seperti mengenali wanita yang ada di dalam mobil tersebut.

__ADS_1


Namun, saat David ingin menghampiri, mobil itu sudah bergerak meninggalkan kediaman keluarga Indra Kusuma.


BERSAMBUNG


__ADS_2