Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 109


__ADS_3

Sesampainya Bayu di dalam, dia langsung di sambut oleh pelukan dari Arka.


Arka, yang sedang asik bermain bersama Mbak Mala, langsung menghampiri Bayu.


Bisa dikatakan Arka memang dekat dengan Bayu, karena sedari kecil Bayu selalu ada untuknya dan selalu membelikannya mainan.


Bahkan disaat Arka sakit, Bayu, selalu datang ke Jerman, dia rela meninggalkan pekerjaannya di Jakarta, demi menemani Arka yang merengek ingin bertemu dengannya.


"Om, dali mana?" tanya Arka pada Bayu sambil bergelayut manja di kakinya.


Bayu tersenyum kemudian dia berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Arka. "Om, habis beli bakso, Arka, mau nggak?" ucap Bayu.


Arka tersenyum kemudian mengangguk-anggukan kepalanya.


Terlihat jelas dari matanya kalau Arka sangat senang dan sudah tidak sabar.


"Yaudah kita makan yuk! Mamah udah pulang belum?" tanya Bayu.


"Mamah, balu pulang," jawab Arka.


"Oh, yaudah ayok kita makan baksonya." Bayu langsung menggendong Arka di tangan kanan, sedangkan tangan kiri membawa plastik berisi bakso.


Saat, Bayu dan Arka, sedang berjalan menuju meja makan, Yumna, pun turun dari tangga.


"Arka, kan udah gede kok minta gendong, Om, sih?" tanya Yumna pada Arka sambil mengulurkan tangannya ingin mengambil alih Arka, dari, Bayu.


"Nggak apa-apa, aku yang pingin gendong dia kok," jawab Bayu.


"Yumna, ini aku bawain bakso buat kita, yuk kita makan bareng-bareng!" sambung Bayu sambil berjalan ke meja makan diikuti oleh Yumna.


"Banyak banget, Mas?" tanya Yumna.


Yumna heran karena bakso yang dibawa oleh Bayu sangatlah banyak. Ia menyiapkan mangkuk untuknya, Bayu dan juga Arka.


"Itu, sekalian untuk, Om, Tante Rani, dan anaknya, Nayla, kamu panggil mereka gih! kita makan bareng-bareng," jawab Bayu.


Yumna mengangguk, dan setelah menuangkan bakso ke dalam mangkuk untuk, Bayu dan Arka, dia pun pergi memanggil, Papah, Tante Rani dan juga Nayla.


Tak berselang lama mereka pun datang bersama Yumna, kemudian duduk di kursi meja makan.


"Kamu tau aja Bay, kalau om lagi pingin yang anget-anget," ucap Indra seraya mendudukkan tubuhnya di kursi dekat dengan Tante Rani.


"Hehehe, iya, Om, aku ingat, Arka dan Yumna, mereka kan suka banget bakso," jawab Bayu sambil memakan bakso yang ada di depannya.

__ADS_1


"Aku, buka sendiri aja, Mbak," ucap Nayla, saat Yumna, ingin membukakan untuknya juga.


Yumna memberikan mangkuk dan bakso itu pada Nayla, kemudian dia membagikan bakso yang sudah dia tuang, pada Indra, Tante Rani, dan mbak Mala yang juga ada disana.


"Terima kasih," ucap mereka serempak, Yumna tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Bayu.


Lalu, mereka pun makan dalam diam dengan khidmat. "Enak, banget," ucap Arka dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


Semua orang sontak saja langsung tersenyum melihat Arka yang sepertinya terlalu menikmati makannya itu.


Saat, Bayu, sedang tertawa melihat Arka, tanpa sengaja pandangan matanya bersitatap dengan mata, Yumna.


Bayu, tersenyum manis pada Yumna, begitu juga sebaliknya.


'Kalau saja si David itu tidak bertemu kembali denganmu, pasti kita sudah menjadi keluarga yang bahagia, dan harmonis, Yumna,' batin Bayu.


"Jadi, gimana besok akadnya jam berapa sayang?" tanya Indra pada Yumna.


"Jam delapan, Pah," jawab Yumna.


Mendengar itu, Nayla dan Bayu, menjadi kehilangan selera untuk menghabiskan makanan mereka. Nayla beranjak membuat Yumna mengkerutkan kening bingung.


"Nayla, kamu mau kemana? makanan kamu kan belum habis," tanya Yumna bingung. Bukannya tadi Nayla sangat menikmati makannya? lalu kenapa tiba-tiba dia beranjak.


Yumna menatap punggung Nayla yang semakin menjauh dengan tanda tanya besar, dia masih merasa kalau ada yang Nayla sembunyikan.


Beberapa menit kemudian mereka pun telah selesai dengan acara santap menyantap, dan mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing kecuali, Bayu dan Indra.


"Ayok, Bay, kita nonton bola!" ajak Indra, Bayu, mengangguk.


Lalu mereka pun pergi ke ruang televisi, untuk menonton acara bola.


"Bay," panggil Indra.


"Ya, om?"


"Besok adalah hari pernikahan, Yumna dan David, Om harap kamu mulai belajar melupakan cinta kamu pada, Yumna," tutur Indra membuat Bayu langsung menoleh dan menatapnya.


"Maksud, om?" tanya Bayu.


"Lupakan, Yumna, dan carilah cinta yang lain, yang lebih baik serta mampu membalas cintamu." Indra menjawab sambil menepuk-nepuk bahu Bayu.


"Om, sayang sama kamu, kamu ponakan, Om, satu-satunya, Om, nggak mau hanya karena cinta kita jadi saling berjauhan," sambung Indra dengan wajah yang serius.

__ADS_1


"Kamu mengerti maksud, Om kan?" tanya Indra, dan Bayu menjawab dengan anggukan. Walaupun hatinya terasa sangat perih mendengar apa yang Indra katakan.


Sementara itu, di kamar lain, Nayla, tengah menangis tersedu-sedu, Rani, yang baru saja datang langsung menutu pintu kamar itu dengan rapat.


Rani tidak mau kalau sampai orang lain mendengar tangisan Nayla, terlebih lagi anaknya itu menangis pasti karena merindukan ayah dari cucunya itu.


"Nayla, ada apa Nak?" tanya Rani.


"Mah, kenapa aku harus kembali melihat ayahnya, Nada, sih? aku sudah berusaha melupakannya, tapi kenapa aku malah bertemu kembali dengannya?" lirih Nayla.


Hatinya hancur saat mengingat bagaimana dia menikmati malam yang panas bersama ayah dari anaknya, tapi saat mereka tersadar justru laki-laki itu berpura-pura tidak melakukan apapun.


Bahkan tanpa perasaan dan dengan mudahnya, kakek dari anaknya itu mengusir, Nayla, saat dia meminta pertanggung jawaban.


Dan setelah itu dia harus menanggung semuanya sendiri, sampai dia diusir dan cemooh banyak orang.


Bahkan dia sampai kehilangan anaknya karena terlalu banyak pikiran membuat kandungannya lemah.


Hingga akhirnya, Nayla, melahirkan di usia dua puluh lima minggu.


"Sabar, sayang, Mamah, yakin kedepannya nanti kamu akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik," tutur Rani sambil memeluk Putri kesayangannya itu.


Hanya, Nayla yang, Rani, miliki sekarang, karena suaminya telah meninggal. Anak laki-lakinya dengan suami pertama pun entah dimana rimbanya, sudah lama sekali Rani tidak dapat kabar soal anak dan mantan suaminya itu.


"Mah, apa ayahnya, Nada benar-benar lupa, atau dia hanya pura-pura lupa?" tanya Nayla dengan mata yang sudah sembab.


"Mamah, nggak tau sayang, udah lupakan saja kisah lama kalian! Mamah nggak mau hanya karena ini kamu menjadi perusak dalam hubungan mereka nanti," jawab Rani.


"Udah, udah jangan nangis lagi! cepat tidur dan istirahat!" sambung Rani sambil menepuk-nepuk kasur.


Nayla, tersenyum kemudian langsung merebahkan tubuhnya. Rani mengelus rambut panjang putrinya itu, dia sangat mengerti dengan apa yang, Nayla, rasakan.


Namun, Rani, juga tidak ingin anaknya menjadi perusak dalam rumah tangga orang, seperti yang dia lakukan dulu.


Sungguh walaupun kejadian itu sudah lama sekali, tapi rasa bersalah itu masih menghantuinya sampai sekarang.


BERSAMBUNG...


hai ka 👋 kalau kalian sudah membaca tulisan cacingku ini jangan lupa tinggalkan like and komen nya ya 🙏 kalau ada yang mau ngasih bunga atau love juga Monggo dengan senang hati aku menerimanya 😂


semoga suka.


hari ini masih ada satu bab lagi ya

__ADS_1


__ADS_2