
Di dekat pohon rindang, Alexa sedang duduk di atas kursi yang terbuat dari semen. Sambil memainkan game di ponselnya, setelah istirahat tadi dia tidak kembali lagi ke kelasnya.
Itu karena dia tidak tahan dengan gosip yang beredar di sekolah ini, kalau abang dari Alexa adalah laki-laki yang picik dan tidak setia. Serta sangat jahat, karena selingkuh dan menghamili sahabat pacarnya sendiri.
Alexa duduk sendirian di sana, karena Dimas sang kekasih tidak bisa menemaninya. "Cewek-cewek tapi bolos," kata laki-laki yang kini sudah berdiri di depannya, entah sejak kapan.
Alexa mendongak dan menatap tajam laki-laki itu. "Ngapain kamu di sini?" tanya Alexa.
"Yang sopan dong sama calon Abang ipar," kata laki-laki tersebut menekankan kata abang ipar padanya, ternyata laki-laki itu adalah Gilang. Kakak Dimas.
Alexa hanya angkat bahu acuh menanggapi, kemudian kembali fokus pada game di ponselnya. Gilang tersenyum dan duduk di sampingnya.
Alexa melirik pada Gilang sekilas kemudian kembali mengabaikannya, menganggap Gilang tidak ada di sana.
"Udah lama pacaran sama Dimas?" tanya Gilang tiba-tiba, memecah keheningan yang terjadi padanya.
"Kenapa tanya-tanya?" jawab Alexa dengan nada dingin tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Tanya aja, emangnya nggak boleh?" ucap Gilang.
Lalu tak ada percakapan lagi di antara mereka, karena keduanya sama-sama diam. Hanya terdengar suara game dari ponsel Alexa yang menemani mereka berdua.
"Baru satu tahun," jawab Alexa setelah lama berdiam saja.
Gilang sempat melirik pada Alexa saat mendengar jika Dimas dan dia baru satu tahun pacaran.
"Kenapa kalian baru satu tahun pacaran? bukannya udah lama saling kenal?" tanya Gilang kembali.
__ADS_1
Alexa yang sedari tadi hanya bermain game dalam ponselnya mengembuskan napasnya, dan menjawab, "apa urusannya sama kamu sih, aku tau kamu itu kakak Dimas, tapi apa pantas nanya hal kaya gitu?"
"Aku cuma tanya aja," ujar Gilang.
"Ck cuma tanya katanya, lagian kamu udah tua ngapain ada di sini sih?" ketus Alexa.
"Aku ada urusan sama kepala sekolah, lagi pula anak kecil kayak kamu mana tau," jawab Gilang.
"Hey, aku bukan anak kecil ya!" Alexa mengacungkan jari telunjuknya pada Gilang.
Entah kenapa Alexa sangat tidak suka pada calon kakak iparnya ini, sejak mereka pertama kali ketemu. Soalnya di mata Alexa Gilang ini adalah orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Berbeda dengan Dimas, yang pendiam dan dingin itu.
"Hey, yang sopan dong sama calon kaka ipar," ucap Gilang.
***
Pada malam hari.
Fathan sedang menunggu Dokter Metha Hikari, yang memeriksa kandungan Nia tempo hari, dan kebetulan beliau adalah sahabat Fathan.
Fathan hanya ingin menanyakan soal kandungan Nia, dan ingin menanyakan sesuatu yang sangat mengganjal dibenaknya.
Fathan sudah membuat janji dengan Dokter Metha melalui sambungan telepon yang disambungkan oleh resepsionis pada Fathan, dan Dokter Metha langsung meminta Fathan menunggunya saat dia merasa mengenalnya.
Fathan senyum-senyum sendiri saat membayangkan, jika memang anak yang Nia kandung adalah anaknya.
__ADS_1
Dia tidak menyangka akan secepat ini dia menjadi seorang ayah. Saat Fathan tengah melamun sambil tersenyum. Dokter Metha pun datang menghampirinya.
"Hai," sapa Dokter Metha sambil melambaikan tangannya.
Fathan pun langsung mendongak dan tersenyum pada Dokter Metha. "Hai," balas Fathan.
"Ternyata benar ini kamu, untung aku nggak nyuruh resepsionis ngusir kamu," ucap Dokter Metha membuat Fathan terkekeh.
"Hallo Meth, apa kabar? lama banget nggak pernah ketemu kamu lagi." Fathan mengulurkan tangannya dan Dokter Metha pun menyambut uluran tangan Fathan.
"Aku baik, kamu yang tiba-tiba menghilang setelah lulus sekolah, apa kamu langsung menikah?" ujar Dokter Metha.
"Hahaha, kamu bisa aja, siapa juga yang mau sama aku," lirih Fathan.
"By the way ada apa kamu nemuin aku setelah sekian lama?" Dokter Metha bertanya pada Fathan sambil mengedipkan kedua matanya.
"Aku mau menanyakan sesuatu, tapi nggak di sini. Gimana kalau kita makan di restoran depan?" kata Fathan dan dokter Metha pun mengangguk.
"Tapi kamu yang teraktir ya! karena kayaknya kamu adalah CEO di sebuah perusahaan besar," ucap Dokter Metha.
"Bisa aja kamu, aku cuma pekerja biasa," jawab Fathan seraya berjalan berdampingan dengan Dokter Metha.
"Masa sih? tapi kenapa aku nggak percaya ya, karena dari penampilan kamu aku liat, kalau nggak CEO, ya asisten pribadi gitu, karena dulu badan kamu itu kecil banget tau nggak sih, udah kecil item lagi. Tapi kalau sekarang beda banget, naik 100 tingkat," puji Dokter Metha sambil menunjuk penampilan Fathan yang memang terlihat sangat tampan.
Tubuhnya yang tegap dan kekar, kulitnya yang putih, wajahnya yang tampan, dan dada bidangnya yang sangat terlihat jelas saat dia memakai kemeja.
Mendengar pujian dari sahabat lamanya Fathan hanya tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG...