
Dahlia meremas dadanya yang terasa sesak napasnya turun naik tidak teratur bahkan dia merasa sulit untuk bernapas.
Sakit yang di rasakan bagaikan ada batu yang menusuk di tepat di hatinya.
Tanda merah yang di dada suaminya bukanlah bekas kerokan orang masuk angin.
Dia mengingat ulang kedatangan suaminya waktu dini hari dengan wajah lesu.
Tampak nyata jika suaminya sangat kelelahan rambutnya pun berantakan.
Air matanya menetes di pipi mulusnya bertambah sakit hatinya membayangkan perbuatan suaminya dengan wanita lain.
Suaminya yang melihat Dahlia menangis mencoba mendekati dia tahu luka yang ada di hati istrinya.
Dia memeluk istrinya dan ingin menenangkan nya tetapi secepatnya Dahlia melepas pelukan itu.
"lia...aku bisa jelaskan kejadiannya lia...."
Adam berusaha untuk menjelaskan dengan istrinya berharap jika dia bisa tenang.
"tidak ada yang perlu di jelaskan mas.... semuanya sudah jelas siapa wanita yang bersama mas semalam..!?"
Dahlia menatap nanar suaminya Adam hanya menunduk terdiam.
"katakan mas... siapa wanita itu...apakah yang menelpon mas tadi wanita yang bersama mas tadi malam..!?"
Dahlia masih menatap tajam ke arah suaminya meminta penjelasan darinya.
"lia.... maafkan mas lia.... "
__ADS_1
Hanya itu kata kata yang Adam ucapkan menjelaskan saat ini menurutnya bukan waktu yang tepat.
"biarkan aku sendiri mas.... saat ini aku muak melihatmu!"
Dahlia berkata dengan suara yang meninggi Adam ingin meraih tangan Dahlia tapi segera di tepisnya.
Akhirnya Adam membiarkan istrinya menenangkan dirinya sendiri saat ini dia juga tidak bisa berbuat apa apa karena kesalahannya.
****
Sudah satu bulan Dahlia menjadi wanita yang irit bicaranya dia juga jarang di rumah lagi
waktunya banyak di habiskan di sebuah perumahan BTN tempat penyimpanan barang dagangannya yang di jualnya dengan cara online.
Dahlia ingin membuat kesibukan yang menurutnya mampu untuk melupakan rasa sakit di hatinya.
Dia berniat mencari tahu siapa wanita yang telah meninggalkan jejak percintaan di dada suaminya.
Dahlia
(" halo...")
Penelpon
("Selamat pagi Dahlia")
Dahlia
("pagi.... ini siapa ya..?")
__ADS_1
Penelpon
("aku kira kamu masih ingat dengan suaraku... tapi ternyata aku salah..")
Dahlia mengerutkan keningnya berusaha untuk mengingat suara orang yang sedang berbicara dengannya melalui telepon.
("Maaf mungkin anda salah orang !")
Dahlia hendak mematikan saluran teleponnya
("Tunggu dulu lia.... jangan kamu tutup teleponnya..")
Dahlia merasa dongkol dengan orang yang menelponnya tanpa basa basi lagi dia langsung mematikan panggilan dari orang yang menurutnya kurang kerjaan.
"semakin hari semakin banyak saja orang yang aneh.... apa dunia ini yang aneh ya ?"
Dahlia menghempas kasar napasnya sambil bicara sendiri
"ada bu lia..? sepertinya ada masalah ?"
Tanya seorang karyawan Dahlia yang di percaya mengurus pasokan barang datang dan yang keluar.
"Ada orang asing lis... nelpon sok kenal gitu... lihat nomor baru kirain nomor orang mau gabung jadi agen kosmetik kita"
Jawab Dahlia pada seorang karyawan bernama lilis itu.
Lilis wanita berusia 20 tahun yang sudah satu tahun terakhir ini di percaya Dahlia mengurus stok barang di gudangnya.
"iya bu.... kemarin saja saya di telepon seseorang yang mengaku teman ibu... saya tanya alamat lengkap dengan fotonya eh malah kirim gambar kunti beranak yang di kirim..."
__ADS_1
Spontan Dahlia tertawa mendengar lilis yang bicara panjang lebar sedikit hiburan gratis dari karyawannya yang memang suka mengoceh tanpa jeda jika di beri waktu untuk bicara.