Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
David terluka part 2


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit, David dibawa ke UGD sedangkan Adit di perintahkan oleh perawat mengisi formulir Rumah Sakit.


Setelah mengisi formulir, Adit menunggu David di depan UGD, dia duduk dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.


Triiiing triiiing


Ponsel David berdering, Adit mengambil ponsel David yang ada di saku celananya sebelah kiri. Terpampang nama Yumna disana, Adit menghembuskan napasnya kasar lalu mendiamkan panggilan tersebut.


Bukan dia tidak ingin memberitahu tentang kondisi David saat ini, tapi Adit sedang menunggu dokter yang memeriksa David lebih dulu.


Adit mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Hallo, tolong kalian cari tau siapa yang menyerang David."


📞"Apa? Pak, David diserang?"


"Ya, dan tugas kalian sekarang cari tau, siapa dalang di balik semua ini."


📞"Baik, dimana, Pak David diserang?"


"Di jalan xxxx."


📞"Baik, kami akan cari tau."


"Bagus, dan cari tau secepatnya." Setelah mengatakan itu Adit langsung mematikan sambungan telponnya.


Dia menoleh ke arah pintu UGD. Namun, itu itu belum juga terbuka. Adit kembali duduk dengan pikiran yang menerawang.


'siapa sih yang pingin David kaya gin' batin Adit.


Saat Adit sedang fokus melamun, Dokter yang memeriksa David keluar dia tersenyum pada Adit.


Adit beranjak dari duduknya dan menghampiri Dokter tersebut. "Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?" tanya Adit.


"Pukulan yang didapatkan pasien memang cukup keras sampai mengeluarkan darah, tapi keadaan pasien tidak apa-apa. Kami sudah membersihkan dan juga memberikannya obat. Pasien juga akan kami pindahkan ke ruang rawat inap," terang dokter.


"Apa separah itu sampai harus dipindah ke ruang rawat inap?" tanya Adit khawatir.


"Oh, tidak. Hanya sehari dua hari saja sudah cukup untuk beliau beristirahat. Pasien hanya perlu beristirahat untuk mengurangi rasa sakit akibat pukulan itu." Dokter itu menjelaskan kondisi David, dan tak berselang lama beberapa perawat mendorong brankar yang berisikan David diatasnya.


Adit yang mendengar itupun merasa lega. "Terima kasih, Dok, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Adit seraya mengikuti perawat-perawat itu, sedangkan Dokter tersebut kembali ke ruangannya.


Sesampainya di ruangan, setelah selesai dengan David. Perawat-perawat itu pun pergi, Adit duduk di sofa yang menghadap David.


Dia menatap nanar David, Adit menghela napas panjang dan membuangnya kasar.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi, Panji untuk memberitahu kondisi David.


*****

__ADS_1


Sementara itu di kediaman keluarga Wijaya.


"Pah, David kemana ya?" tanya Ajeng.


"Udah telpon Indra belum?" Panji masih bersikap santai, karena dia kira David masih berada di kediaman Indra.


"Udah, Pah, kata Mas Indra, David sudah pulang sejam yang lalu." Ajeng beranjak dari kursinya, dan menoleh ke pintu, dia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.


Saat mereka tengah larut dalam pikirannya ponsel Panji berdering.


Panji mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, dia melirik jam yang bertengger di tangannya saat melihat nama si penelpon. Tidak biasanya Adit menghubunginya, biasanya anak angkatnya itu akan menghubungi Brian atau David.


Panji menggeser tombol hijau. "Ya, hallo, ada apa, Dit?" tanya Panji.


📞"Om, David sedang dirawat di Rumah Sakit, bisa nggak, Om kesini."


"Apa?! bagaiman bisa? memangnya David kenapa?" pekik Panji, dia sampai bangkit dari duduk saking terkejutnya mendengar apa yang Adit ucapkan.


Ajeng yang mendengar nama David di sebut langsung menghampiri Panji. "Pah, David kenapa?" tanya Ajeng berbisik, dengan raut wajah khawatir.


📞"Adit, sendiri nggak tau awal mulanya, Om, Adit datang David sudah tergeletak."


"Astaga, David dirawat dimana, Dit?"


📞"Di Rumah Sakit, melati, Om."


"Ok, Om, kesana sekarang, kamu jagain David dulu ya!"


Panji langsung mematikan sambungan telponnya dan memasukkan ponselnya ke saku celana.


"Pah, David kenapa? ada apa?" tanya Ajeng dengan khawatir.


"Pah, jawab." Ajeng mengguncang lengan Panji karena suaminya itu hanya diam saja, air mata Ajeng sudah mengalir deras. Dia sangat takut David kenapa-kenapa.


"Kata Adit, David sekarang di Rumah Sakit..."


"Apa? tapi kenapa?" potong Ajeng, dia sama sekali tidak mengerti gimana bisa anaknya sampai masuk Rumah Sakit.


"Ya, mana aku tau, Mah, yaudah baiknya sekarang kita ke Rumah Sakit sekarang!!" Ajeng mengangguk, lalu mereka pun berjalan keluar.


"Mamah, Papah mau kemana?" tanya Brian yang baru saja datang seorang diri.


"Mas, kamu masuk Rumah Sakit," jawab Ajeng dengan sesenggukan.


"Apa? tapi kenapa?" Brian terkejut.


"Mamah sama Papah juga nggak tau, Yan," jawab Ajeng.

__ADS_1


"Udah, udah, sekarang, Mamah sama Papah mau ke Rumah Sakit, kamu mau ikut ngga?"


"Mau, Pah, aku mau ikut," jawab Brian.


"Kamu naik mobil sendirian, ya! Mamah sama Papah jalan duluan." Indra dan Ajeng kembali melangkahkan kaki mereka.


Panji dan Ajeng memasuki mobilnya dengan tergesa-gesa, lalu mengemudikan mobil itu menuju Rumah Sakit. Sedangkan Brian menyusul dengan mobil lain.


Dua puluh menit kemudian Panji, Ajeng dan Brian pun sampai di Rumah Sakit tempat David dirawat. Mereka berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan David.


Ceklek.


Mata Ajeng nanar ketika melihat anak kesayangannya terbaring diatas brankar dengan mata tertutup.


"Ya ampun, David, sayang, kamu kenapa, Nak??" Tangis Ajeng pecah melihat David seperti ini.


"Tante, David sedang istirahat, lagi pula Dokter tadi bilang, David nggak apa-apa kok," terang Adit.


"Adit, kenapa sampai kaya gini? David kenapa?" tanya Ajeng pada Adit.


"Adit juga nggak tau, Tan, David menelpon Adit, tapi setelah itu nggak ada suaranya. Pas aku semperin posisinya dia udah tergeletak di jalan." Adit menjelaskan dengan menundukkan kepalanya.


"Apa semua barang David aman? mobil atau apa?" Kini Panji yang bertanya.


Bisa jadikan anaknya itu adalah korban perampokan.


"Semua masih ada, Om, bahkan ponsel David ada di tangannya," jawab Adit membuat Panji mengkerutkan kening.


"Adit, rasa David diserang." Adit memberitahu apa yang dia pikirkan, Panji menganggu karena dia juga jadi berpikir hal yang sama.


"Tapi siapa?" gumam Ajeng heran


"Breng*sek, kalau gua tau siapa orangnya, habis dia sama gua. Berani-beraninya dia maen-maen sama keluarga Wijaya," geram Brian, Panji yang ada di sebelah Brian mengelus pundak anaknya itu, menyuruhnya untuk sabar.


"Kamu sudah menghubungi mereka, Dit?" tanya Panji.


"Sudah, Om, sekarang kita tinggal tunggu kabar dari mereka."


"Bagus, Om, pingin tau siapa dalang di balik ini semua," ujar Panji dengan senyum menyeringai, sedang Adit hanya mengangguk.


"Dit, apa Yumna sudah tau soal ini?" tanya Ajeng.


"Belum, Tan, Adit bingung tadi."


"Kabari, Yumna, Dit!! bagaimanapun Yumna adalah istri David, dia harus tau kondisi suaminya," perintah Ajeng dan Adit mengangguk.


Adit mengambil ponselnya dan menghubungi Yumna.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


hai ka 👋 jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏 kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga Monggo dengan senang hati aku menerimanya 🥰


__ADS_2