
Sesampainya Ayarra di Jerman dia dijemput oleh Indra yang menggunakan kursi roda dan diantar oleh perawat pribadi yang disewa David untuk ayah mertuanya itu.
Sebenarnya Indra masih kuat untuk berjalan tapi David berpesan pada perawat pribadi Indra untuk tidak mengijinkan Indra berjalan kaki jika perjalanan jauh, kecuali dalam rumah atau jika berolahraga.
Indra tersenyum saat melihat Ayarra, dia pun bangkit dari kursi rodanya, dan melambaikan tangan pada Ayarra.
Ayarra yang melihat Indra pun langsung berjalan menghampiri Indra. "Opah." Ayarra sedikit berlari dan memeluk Indra.
"Cucu Opah, udah besar banget ya, gimana kabar kamu sayang?" tanya Indra.
Ayarra melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Aku baik Opah," jawab Ayarra.
Indra pun membalas senyuman Ayarra sambil mengusap rambut panjang gadis cantik itu, meskipun Ayarra mengatakan jika dia baik-baik saja. Namun dia tidak bisa bohong, karena Indra sudah diberi tahu semuanya oleh Yumna soal kandasnya hubungan Ayarra dan Arka karena Nia hamil.
Akan tetapi Indra tidak akan mempertanyakan hal itu sekarang, karena dia tau jika Ayarra datang ke sini untuk menenangkan diri.
"Yaudah yuk kita pulang!" ajak Indra.
Mendengar itu perawat pribadi Indra menyodorkan kursi roda pada Indra. Namun, ditolak oleh Indra, "nggak usah, aku mau jalan kaki aja, lagi pula aku masih kuat meskipun harus jalan ribuan kilo meter."
Ayarra dan sang perawat hanya terkekeh pelan saat mendengar celoteh Indra. "Opah, emang kuat, tapi Opah tetap harus pakai kursi roda. Supaya kaki Opah, lebih sehat lagi," ucap Ayarra dan membantu Indra untuk duduk di kursi roda.
Indra pun menurut, dia menaiki kursi roda itu, kemudian Ayarra mendorong kursi roda tersebut.
****
Di kediaman keluarga David, sedang terjadi pertengkaran antara Arka dan Nia, karena dari awal menikah hingga 2 hari ini, hampir setiap saat Arka selalu menjauh darinya.
__ADS_1
Bahkan tidak pernah satu jam pun Arka tidur bersama dengan Nia. "Kenapa kamu giniin aku terus sih Ar? apa salah aku sama kamu. Kenapa kamu nggak bisa terima aku?" tanya Nia.
Dia menghalangi jalan Arka yang lagi-lagi ingin pergi dari sana dan tidur entah di mana. "Nia, minggir aku mau ke luar," ucap Arka pelan.
"Nggak ... Udah cukup kamu hindari aku terus Ar, sekarang nggak lagi, aku ini istri kamu. Tolong anggap aku begitu," lirih Nia.
"Jangan mulai lagi Nia, aku lagi nggak mau berdebat apa pun dengan siapa pun, jadi please." Arka menggeser sedikit tubuh Nia. Namun, wanita itu bergeming. Dia menggeleng dan kembali menutupi pintu.
Arka menarik napas panjang dan membuangnya kasar. "Aku nggak ngerti sama kamu Nia, gimana bisa kamu nyaman dengan status baru ini. Sedangkan dulunya kamu adalah adik buat aku," ujar Arka.
"Karena aku mencintaimu Arka, aku mulai mencintaimu," balas Nia.
"Tapi aku belum, atau mungkin nggak akan pernah, jadi tolong mengertilah kalau aku butuh waktu untuk terbiasa dengan ini," timpal Arka membuat Nia terkejut.
Nia benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban Arka, apa mungkin dia tidak akan pernah bisa mencintai Nia?
"Ini terlalu cepat Nia, jadi tolong berikan aku waktu. Karena kamu pasti ingat bagaimana aku mencintai Ayarra." Arka menggeser tubuh Nia dan ke luar dari sana.
Mendengar Arka lagi-lagi menyebut nama Ayarra membuat Nia menangis tersedu-sedu, baru dua hari menikah tapi sudah lebih dari seratus kali Arka menyebut nama Ayarra.
"Kenapa susah sekali buat kamu terima aku dan anak kita Ar," gumam Nia.
Akan tetapi Nia tidak akan menyerah dia akan tetap memperjuangkan cinta Arka. Sudah sejauh ini dia berjuang, akan sangat disayangkan jika Nia menyerah sekarang.
Nia menghapus air matanya, kemudian ke luar dari kamar.
***
__ADS_1
"Arka, kamu mau ke mana Nak? Makan dulu sini!" kata Yumna saat Arka hanya melewati saja ruang makan.
Arka tersenyum dan menggeleng. "Aku ada perlu Mah, nanti aku sarapan di luar aja ya," tolak Arka sambil melanjutkan langkahnya.
Sebelum drama Nia menghampirinya dan Yumna akan memarahinya karena itu, Aria buru-buru pergi.
"Tapi Bang, hey. Jangan lama-lama dan jangan sampe minep ya. Inget, kamu itu udah nikah, Abang ... Hey," teriak Yumna karena Arka sudah menjauh.
"Iya Mah," jawab Arka kemudian tak terjangkau lagi dari pandangan Yumna.
"Astaga anak itu," gumam Yumna dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Mah, Pah, apa kalian tau, Ayarra pergi dari kota ini," bisik Alexa membuat Yumna dan David terkejut.
"Apa maksudnya Al? Ayarra pergi? tapi kan sebentar lagi kalian akan ulangan," kata Yumna tidak percaya.
"Aku juga nggak tau Mah, aku juga denger dari Dimas." Alexa menjelaskan dengan pipi yang menggembung karena mengunyah makanan.
"Dia pergi ke mana sayang?" tanya David dan Alexa hanya angkat bahu sebagai jawaban.
Tanda jika dia juga tidak tau ke mana Ayarra pergi.
Yumna dan David saling pandang, terlihat dari wajah keduanya kalau mereka khawatir akan sesuatu.
Tanpa mereka sadari Nia sudah berada di sana sejak tadi, bibir Nia melengkung membentuk senyuman saat mendengar jika Ayarra sudah pergi.
'bagus, aku harus secepatnya ngasih tau ke Arka kalau wanita yang dia cari sudah pergi, dengan begitu dia akan menerimaku dengan sepenuh hati,' batin Nia.
__ADS_1
BERSAMBUNG...