Bukan Menantu Pilihan

Bukan Menantu Pilihan
chapter 123


__ADS_3

Di rumah sakit.


Adit sedang menunggu di depan UGD raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Dia duduk di bangku dengan perasaan gelisah, terselip rasa bersalah dalam hatinya.


Namun, dia memang harus jujur bukan? jika dia tidak jujur maka rumah tangga David yang akan menjadi sasarannya.


Rani yang melihat kegelisahan Adit perlahan berjalan menghampirinya.


"Adit," panggil Rani membuat Adit langsung menoleh padanya, begitu juga Indra dia langsung memperhatikan mereka.


"Apa Tante boleh bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Rani.


"Apa itu Tante?"


"Atas dasar apa kamu melakukannya? apa hanya karena naf*su?" Tante Rani bertanya sambil menyelami netra Adit.


Dia melihat ada kejujuran dan cinta yang Rani sendiri tidak tau untuk siapa, Rani hanya berharap jika memang Adit yang melakukannya.

__ADS_1


Maka Adit bersedia menikahi Nayla, tapi jika Adit tidak mencintai Nayla, maka dia akan mengiklaskan semuanya, karena semuanya memang sudah berlalu.


"Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku mencintai Nayla, Tante, tapi dia nggak pernah melihat aku. Dia hanya terfokus pada Brian dan David, jadi aku mundur," jawab Adit.


"Tapi kenapa kamu melakukannya? sudah benar kamu buat David tidak sadarkan diri. Namun, kenapa malah kamu yang melakukan itu?" Rani meminta penjelasan lebih pada Adit.


"Itu semua karena khilaf Tante, awalnya aku tidak ingin melakukan itu. Tetapi Nayla terus saja meracau dan mere*mas junior David. Akhirnya aku pun melakukannya tapi aku janji akan cerita dan bertanggung jawab. Namun, malah terjadi salah paham diantara kami bertiga," tutur Adit.


Rani mengangguk mengerti dari netranya pun Adit terlihat jujur, tidak ada kebohongan sama sekali.


Rani tersenyum kemudian mengelus rambut Adit. Rani hanya berharap jika Nayla bisa menerima kenyataan bahwa ternyata ayah dari anaknya itu adalah Adit.


"Aku pikir itu anak David, karena memang pagi hari itu kami bertiga salah paham," sambung Adit.


Rani tersenyum dia menyuruh Adit untuk duduk di sebelahnya, dan tak berselang lama pintu UGD pun terbuka.


Adit langsung bangkit dan menghampiri Dokter tersebut. "Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Adit. Hal itu sukses membuat Rani dan Indra terkejut.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa dia hanya syok, atau butuh istirahat aja, jika impusannya sudah habis dia boleh pulang," jawab sang Dokter membuat Adit merasa lega.


Dia tersenyum dan berterima kasih kemudian sang dokter itu pun pamit.


Adit, Rani dan Indra pun masuk ke dalam ruang UGD. Mata Adit nanar saat melihat Nayla terbaring lemah diatas brankar.


Saat Rani ingin mendekati Nayla, Indra menahannya, dan memberikan isyarat bahwa biarkan Adit yang duduk di dekat dengan Nayla.


Rani mengangguk paham, dan dia lebih memilih berdiri di kaki dekat kaki Nayla, sedangkan Adit duduk di sampingnya.


Adit menggenggam tangan Nayla, dan menciumi tangan tersebut. Tanpa sadar Adit pun menitikkan air mata.


"Bangun Nay, maafin aku karena baru jujur sekarang, maafin aku karena sudah memberikan luka yang amat dalam sama kamu," tutur Adit.


"Aku memang lelaki pengecut yang nggak berani bertanya lebih dulu waktu itu, aku malah langsung berasumsi sendiri. Bangun Nay, dan ijinkan aku untuk tanggung jawab," sambung Adit.


Rani tersenyum, begitu juga Indra. Mereka santan bahagia akhirnya kesalah pahaman ini selesai.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2