
Dengarkan ketika suara adzan tengah berkumandang, rasakan saat lantunan indah itu merasuk kedalam pendengaran.
Apa yang dirasakan, menenangkan jiwa bukan?
Ya begitulah ketika subuh mulai datang, membangunkan setiap jiwa yang tengah berkelana mencari kedamaian di alam mimpi.
Belum lagi kicauan burung dan kokokan ayam yang saling sahut, seakan menjadi tanda sang mentari akan muncul di balik peraduannya.
Namun, tidak dengan Yumna yang masih terjaga hingga pagi. Semalaman Yumna tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan David.
Dia masih terduduk di lantai semalaman.
Keningnya dia tempelkan ke lutut, dan tangannya ia gunakan untuk memeluk kakinya.
Hati Yumna hancur, dadanya terasa sesak. Serendah itukah Yumna dimata David sekarang? sampai-sampai David berpikiran buruk tentangnya.
Saat Yumna melirik pada jam yang tergantung di dinding, Yumna bangkit dari duduknya, dan dengan gontai dia berjalan ke kamar mandi.
Yumna ingin melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
________________________________________________
Sementara itu di tempat lain.
Apartemen yang David tinggali sudah tidak terlihat seperti tempat tinggal lagi. Semua berantakan, sofa, meja, dan yang lainnya terbalik, sedangkan serpihan beling dari gelas, guci, televisi berserakan dimana-mana.
David duduk ditengah-tengah kekacauan itu sambil memegang botol minuman keras, David menatap kosong ke depan.
David sedang mencerna apa yang Yumna katakan dan apa yang dia lihat.
David ingin sekali mempercayai semua ucapan Yumna, tapi jika memang tidak ada apa-apa di antara mereka, kenapa Yumna harus berbohong? kenapa dia tidak bicara kalau dia ingin menemui Bayu di hotel?
Pemikiran seperti itulah yang sedang berputar di kepala David, hingga dia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
Pikiran dan hati David sedang kacau. "Seperti inikah perasaan kamu dulu? tapi tidak. Kita berbeda, dulu kamu salah paham, sedangkan sekarang? kamu itu membohongi ku Yumna," racau David dengan sesekali menenggak minuman keras yang dia pegang.
Ting nong
David menoleh ke pintu ketika mendengar suara bel, dengan tertatih David bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membukakan pintu.
"Astaga, lu kenapa?" pekik Adit sambil melenggang masuk.
Adit terkejut melihat apartemen David berantakan, dan semuanya sudah terbalik.
"Dav, lu udah tanya Yumna kan? bukan hanya liat foto dan ngamuk kaya gini?" tebak Adit. David langsung menggeleng.
"Gua datangi dia, dan seperti yang ada di foto. Dia memang jalan sama laki-laki itu, bahkan gua ngikutin dia sampai koridor kamar hotel yang mereka pesan. Yumna kesana benar-benar karena janjian sama laki-laki itu," terang David.
Semalam, Adit yang ingin berkencan dengan wanitanya, terkejut saat melihat Yumna bercengkrama dengan laki-laki lain di loby hotel. Adit penasaran dan dia langsung memotret lalu mengirimkannya pada David.
__ADS_1
Sebenarnya semalam Adit enggan untuk mengirimkan foto yang dia lihat pada David. Namun, sebagai sahabat Adit merasa dia harus memberi tahu David, dengan tulisan kalau itu semua belum tentu benar.
Adit mengedarkan pandangannya mencari tempat untuk duduk, karena semuanya sudah kacau balau dan terbalik.
"Ikut gua ke kamar!!" David berjalan ke kamarnya diikuti oleh Adit.
Sesampainya di kamar David langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur, sedangkan Adit duduk di sofa.
"Dav, apa lu yakin, kalau Yumna pergi ke hotel xxx untuk bertemu sama laki-laki itu?" tanya Adit, David hanya mengangguk.
"Lu nggak salah paham kan? lu dengerin penjelasan dia dulu kan?" sambung adit.
David membuka kembali matanya yang sudah tertutup, dia menoleh pada Adit. "Bisa aja kan penjelasan dia itu sebuah kebohongan?" ucap David.
Adit menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti dengan pikiran David. Adit melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Lu ngantor nggak?" tanya Adit.
"Nggak dululah, panggil Brian atau papah aja!" jawab David.
"Yaudah gua cabut dulu, gua ke sini mau tanya soal foto doang," pamit Adit, David hanya mengangguk lalu kembali memejamkan matanya.
Adit mendengus kesal sambil berjalan keluar kamar David, ketika sampai di ruang tamu yang berantakan, Adit mengeluarkan ponsel dan memotret semua yang berantakan.
________________________________________________
Yumna menuruni anak tangga dengan gontai, pandangan matanya pun kosong.
"Eh, sayangnya Mamah, udah mandi belum?" tanya Yumna sambil berjongkok untuk menyamai tinggi Arka.
"Udah, Papah mana?" Arka mengedarkan pandangannya, Yumna sempat terdiam tapi sedetik kemudian dia tersenyum.
"Papah, lagi kerja." Yumna mencubit pipi Arka lalu menggendongnya.
"Kita makan dulu ya!" ajak Yumna tapi Arka diem saja.
Yumna mendudukkan Arka di kursi yang lebih tinggi, sedangkan dia duduk di samping Arka.
Indra memperhatikan wajah Yumna dengan saksama, lalu tersenyum.
'pasti lagi berantem, dasar anak muda,' batin Indra.
"Mau Papah," ucap Arka tiba-tiba membuat Yumna terkejut.
"Iya, nanti malam Papah datang, sekarang Arka makan dulu ya!" tutur Yumna sambil menyuapi Arka nasi.
Arka mengerucutkan bibirnya dan menggeleng, dia tidak mau makan sebelum bertemu dengan David.
"Sayang makan dulu ya! dikit aja." Yumna kembali menyuapi Arka tapi Arka masih saja menggeleng.
__ADS_1
Yumna menghembuskan napasnya kasar dan menaruh nasi itu ke atas meja.
"Telpon David sayang! bilang kalau anaknya nggak mau makan," usul Indra.
"Aku nggak bisa, Kalau Papah mau, Papah aja," tolak Yumna dan dia beranjak dari sana.
Arka menundukkan kepalanya, dia merasa sangat sedih. Indra beranjak dari duduknya dan mendekati Arka.
"Arka mau sama Papah?" tanya Indra, Arka tersenyum lalu mengangguk.
"Sebentar, Opah telponin papah Arka ya!" ucap Indra sambil menekan nomor David.
Tut....
Tut....
📞"Hallo."
"Papah," teriak Arka antusias saat sambungan telponnya terhubung.
📞"Arka, sayang." David langsung terduduk si seberang sana saat mendengar suara anaknya.
"Papah sini!" ucap Arka, David tersenyum mendengarnya.
📞"Iya sayang, nanti siang ya, Papah belum mandi."
"Pah, Arka nggak mau makan nih, katanya mau sama Papah," adu Indra, Arka terkekeh mendengar Indra mengadu.
📞"Bener itu boy?"
"Iya, alka mau Papah," jawab Arka polos.
📞"Sayang, nggak boleh gitu, ada atau nggak ada Papah. Arka tetap harus makan, biar Arka cepat besar," terang David.
"Tapi mau Papah."
📞"Iya, sayang, nanti siang papah pulang ya, sekarang Arka makan dulu biar sehat!" ucap David, dan seolah David mampu melihatnya Arka hanya mengangguk sebagai jawaban.
📞"Yaudah, kalau gitu udah dulu ya sayang, Papah mau mandi."
"Alka sayang Papah."
📞"Papah juga sayang Arka." Setelah mengatakan itu, David mematikan sambungan telponnya.
David kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing. Dadanya terasa sangat sesak saat mengingat wajah Arka dan Yumna.
Yumna yang sedari tadi mendengarkan percakapan Arka dengan Papahnya lewat sambungan telepon, tiba-tiba saja menitikkan air mata.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
hai ka 👋 kalau kalian sudah membaca tulisan cacingku ini jangan lupa tinggalkan like and komennya ya 🙏
kalau kalian mau ngasih bunga atau love juga Monggo dengan senang hati aku menerimanya 🥰