
Setelah rapat bersama David, Adit dan Bayu selesai, Fathan ke luar ruangan tersebut untuk menghubungi Andrian, karena tadi laki-laki itu menghubunginya saat dia tengah rapat.
Fathan menghubungi Andrian, tapi tidak ada jawaban, akhirnya Fathan pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, kemudian berjalan ke luar kantor.
Dia ingin mencari makan untuk Bayu dan juga dirinya, karena ini sudah waktunya jam makan siang.
"Bay, aku minta maaf soal---."
"Nggak ada yang perlu minta maaf, ini semua udah takdir anak-anak kita. Mungkin mereka memang bukan jodoh," potong Bayu saat David ingin meminta maaf padanya soal Arka dan Ayarra.
"Terima kasih Bay, tapi kenapa kamu biarin Ayarra pergi?" tanya David.
"Apa pergi? pergi ke mana?" sela Brian yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan.
Bayu melirik pada Brian dan David bergantian, kemudian merapikan dokumen-dokumennya. "Karena Ayarra yang minta untuk pergi. Aku sendiri nggak tau kenapa dia mau pergi," jawab Bayu tanpa menoleh ke arah mereka.
"Tapi Ayarra, pergi ke mana Bay?" tanya Brian.
"Kalian nggak usah tau, lagi pula Ayarra memilih itu pasti demi kebaikan semuanya," kata Bayu dan berniat kembali ke ruangannya. Namun, saat Bayu memutar tubuhnya dia dikejutkan dengan kehadiran Arka.
__ADS_1
Arka menatap Bayu dengan tatapan memelas dan terlihat bingung. "Uncle, Ayarra pergi ke mana? kenapa Uncle nggak bilang ke aku kalau Ayarra pergi?" tanya Arka beruntun pada Bayu.
Bayu mengembuskan napasnya kasar dan menoleh ke belakang. Bayu melirik pada Adit yang menatap tajam ke arahnya. "Kamu udah punya istri Ar, kenapa masih tangan Ayarra? Ayarra udah bukan urusan kamu lagi, jadi lupakan aja," jawab Bayu.
"Tapi Uncle, aku cuma pingin tau di mana dia?" ucap Arka sambil menahan Bayu pergi.
"Maaf." Hanya itu jawaban dari Bayu dan dia pun pergi.
Arka ingin mengejar Bayu tapi dipanggil oleh David. "Arka, Papah manggil kamu ke sini, buat ngasih tau kamu satu hal, bukan bahas Ayarra," kata David.
Arka bergeming sambil melihat ke arah pintu.
"Kamu setuju kan Arka?" tanya Brian.
"Aku ikut aja apa kata kalian, bukannya itu yang kalian mau?" Setelah mengatakan itu Arka pun pergi.
***
Di luar kantor, Fathan yang sedang menunggu pesanan makanan untuk mereka selalu mencoba menghubungi Andrian, tapi selalu tidak tersambung.
__ADS_1
"Tadi nelepon, sekarang nggak aktif, dasar!" gerutu Fathan.
Akan tetapi saat dia hendak membayar makannya tiba-tiba saja, ponselnya berdering, ternyata itu dari Andrian.
"Kamu dari mana aja sih? Nelepon tapi nggak aktif," maki Fathan saat dia sudah mengangkat telepon tersebut.
"Maaf Pak, tadi ponsel saya lowbet," jawab Andrian di sebrang sana.
"Ok baiklah, terus ada apa?" tanya Fathan tanpa basa-basi.
"Tadi saya liat Mbak Nia di rumah sakit Pak, dia diperiksa oleh Dokter Meta, dari Rumah Sakit xxx," jawab Andrian.
"Metha Hikari?" tanya Fathan.
"Iya Pak," jawab Andrian.
Fathan mengangguk dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras, itu karena Dokter Meta adalah sahabatnya waktu sekolah dulu.
"Ok baiklah, terima kasih ya Andrian, ini sangat membantu," ucap Fathan dan setelah itu dia mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Bersambung...